Lain dari adegan manis yang terjadi di sekolah. Renjun malah sedang menyeret Maudy di sepanjang koridor lantai dasar. Sampai-sampai mereka menerobos kamar mandi laki-laki demi menemukan ruangan yang sunyi untuk bertengkar.
"Ren! Ngapain ke kamar mandi cowok...." Tentu saja Maudy terkejut akan kelakuan sang kekasih. Selain menggenggam erat tangannya, Renjun juga sudah kehilangan akal sampai tidak lihat situasi. "Heh...! Lepasin gue! Lo gila, Ren...?"
Laki-laki itu akhirnya melepaskan genggaman erat tangannya dari pergelangan Maudy setelah tiba di dalam area kamar mandi, tepatnya di depan cermin besar area wastafel.
"Sekarang bilang apa salah gue!" kata Renjun dengan sepasang alis menukik seperti sedang sangat marah.
"Apa? Ya, apa.... Kenapa harus di sini sih.... Lo gila apa? Kalo satpam atau guru liat bisa-bisa masuk BK kita. Anj—" Baru saja akan berkata kasar, Renjun mendekatkan wajahnya menuju wajah Maudy membuat gadis itu seketika bungkam.
Renjun dan Maudy belum selesai dari pertengkaran mereka setelah memasuki jam pertama. Urusan yang harus dibicarakan padahal hanya soal sepele. Maudy sedang ngambek karena Renjun ketahuan sering mengobrol dengan teman perempuan yang satu ekskul.
"Apa lagi salah gue, Dy? Kenapa sih setiap hari kerjaan lo tuh cuma ngambek-ngambek, ngambek... mulu. Ini-itu gak boleh, gue ekskul aja lo masih ngambek?" Dan Renjun tidak paham akan hal itu karena menurutnya wajar saling simpan nomor telepon karena satu ekskul.
Maudy masih menatap laki-laki di hadapannya dengan heran. Terlihat menelan saliva, gadis itu mencoba mendorong tubuh Renjun agar bisa lebih menjauh dari wajahnya.
"Diem!" tegur Renjun, tak mau disingkirkan. Akhirnya Maudy harus menghentikan usahanya, ia tak tahu harus bagaimana lagi karena baru pertama kali melihat Renjun berani berbuat sejauh ini. "Mulai sekarang... setiap lo marah, gue bakal lakuin semua yang gue mau!" kata Renjun dengan tatapan lekat dan raut wajah serius.
Maudy mendongak membalas tatapan laki-laki di hadapannya itu. Sekarang mata mereka kembali bertemu, sampai jarak jadi terlalu dekat untuk seukuran anak SMA. Apalagi ini adalah kamar mandi laki-laki yang seharusnya tidak boleh Maudy kunjungi.
"Jangan perlakuin gue seenaknya, hanya karena gue diem!" Kali ini Renjun benar-benar marah, emosinya meluap hingga berani berbuat kasar.
Sejak dekat dari SMP, Maudy memang adalah gadis yang sangat sensitif dan mudah cemburu. Jadi, Renjun yang sama-sama ekstrovert harus terpaksa sering mengalah dengan diam tanpa kata jika berhadapan dengan lawan jenis. Kalau tidak begitu ya inilah hasilnya... Maudy akan ngambek dan cerita ini-itu kepada teman sesama perempuan kalau Renjun manusia jahat.
"Gue gak marah." Setelah sedari tadi menahan rasa takut akhirnya Maudy buka mulut. "Gue cuma heran aja, kenapa lo itu susah banget diatur?"
"Kalo lo pengen ngatur gue... lo juga harus bisa diatur." Berbeda jauh dari Renjun sebelumnya yang selalu diam dan menurut. Kali ini ada sebuah perlawanan yang ia kumandangkan. "Adil kan?"
Maudy menggeleng menyembunyikan rasa terkejut dan kecewanya. "Lo kenapa sih? Gak biasanya lo kasar sama gue." Gadis itu memegangi pergelangan tangannya yang sedikit memerah akibat diseret sambil digenggam erat tadi. "Sakit tau," keluhnya.
Kriet... Suara pintu berderit terbuka. Muncullah sosok Haechan datang dengan tergesa-gesa ke dalam toilet. "Woy, ngapain lo masih pake tas udah di sini, Ren?" tanyanya sambil membuka resleting celana karena belum sadar akan kehadiran Maudy.
KAMU SEDANG MEMBACA
Putih Abu! The Origin 2018
Romansa"Kalau masa SMA lo cuma putih abu aja, coba diteliti ulang. Siapa tau warna lain lagi sembunyi di suatu tempat!" @Nadarayoo, 2018
