Putih Abu #Empatbelas

2.6K 117 9
                                        

Momen Haechan baru mendengar informasi kalau Yuhi adalah mantan pacar Hyunjin seketika membuat para gadis hanya tersenyum-senyum tipis. Ingin meledek, tetapi waktunya belum tepat. Maka dari itu, mereka hanya bisa menggerutu. "Mampus ke interogasi Haechan," kata benak Ana.

"Topinya di kelas. Gue ambil dulu." Untuk menetralisir keadaan, Yuhi pun malah berjalan cepat ke arah kelas. Padahal alasannya pergi mungkin hanya untuk memisahkan diri dari zona berbahaya itu.

"Ngakak, Yuhi. Jangan kabur lo, jelasin dulu ke Haechan ini," ledek Angel, seketika disusul tawa para gadis di sana.

Sedangkan Haechan masih menekuk wajahnya. "Gue ngambil topi dulu ya, Chan." Hyunjin tiba-tiba pamit pula untuk menghampiri Yuhi di depan kelasnya. Sungguh membuat perasaan semakin rusak saja.

Di depan kelas, Haechan akhirnya menyusul. "Jin, lo sama Yuhi duluan?" tanyanya.

Yuhi menarik napas, lalu mengangguk memberi jawaban yang jelas. Hubungan itu sudah selesai sejak lama, Hyunjin bukan saingan yang sedang mengejar apa pun, cuma mantan yang kebetulan masih satu lingkaran.

Selepas menyelesaikan acara meminjam topi, Yuhi tiba di masjid menyusuli teman-temannya. "Mampus lo, entar Haechan pasti nanya-nanya terus." Gea sudah menyambut sambil memakai mukena di barisan saf perempuan. Yuhi berdiri di sebelah Gea dengan ekspresi khawatir, lalu membuka mukenanya.

"Udah... sholat aja dulu. Liat dong siapa imamnya." Ana menyahut dari samping Gea.

Tentu seluruh mata tertuju ke arah tempat imam di barisan terdepan. "Subhanallah.... Udah fix gak boleh disia-siain yang kayak gini mah, Lil," kata Maudy.

Lili hanya diam, tidak berkomentar melihat Jaemin tiba-tiba berdiri di tempat imam dan akan memulai kegiatan memimpin seantero masjid itu. Jemarinya merapikan ujung mukena yang sebenarnya sudah rapi. Beberapa hari terakhir ia terlalu sering menjadi orang yang memahami keadaan, mengalah, dan menunggu penjelasan datang belakangan. Kali ini ia bahkan belum tahu harus menunggu apa.

"Tumben, biasanya Jeno," kata Yuhi.

"Jeno kayaknya yang azan tadi," sahut Ana.

Gea menahan tawa seraya melirik Angel di teras belakang masjid yang mulai mencolok kabel pengisi daya untuk ponselnya. "Hapal banget sih Na, suara tetangga," ledek Gea.

Mereka menahan tawa mendengarnya sebelum suara sesama perempuan yang akan ibadah di barisan belakang terdengar di telinga. "Ih ... Jaemin imamnya," kata gadis yang tidak diketahui wujudnya itu.

"Gak nyangka tuh bocah udah gede sekarang." Setelah kalimat yang satu ini, Ana menoleh dengan mata melotot ke barisan teman-temannya. Ia membagikan firasat tidak enak karena, benar saja, di belakang mereka ada Bara yang terlihat begitu mendukung Hina.

"Siapa, Na?" tanya Yuhi sambil menautkan alis.

"Bara sama Hina pasti." Ana berbisik pelan sekali.

Tidak lanjut membahas karena suara komat sudah berkumandang lantang, tanda salat akan dimulai. Kegiatan ibadah dilaksanakan secara khusyuk. "Allahâ hu, akbar." Suara Jaemin sungguhan terdengar di telinga orang-orang yang ada di dalam masjid.

Selesai ibadah, Lili masih duduk beberapa detik lebih lama. Ia memandangi pintu masjid tempat Jaemin tadi keluar, lalu menunduk. Ana melihatnya, tetapi tidak langsung bertanya. Ia tahu Lili bukan tidak punya jawaban. Lili hanya sedang mengumpulkan keberanian untuk mengucapkan pertanyaan yang selama ini ia telan sendiri.

Setelah selesai, seluruh kaum adam yang tak punya urusan lagi segera keluar dari area sajadah masjid, kecuali para hawa yang harus melipat mukena mereka terlebih dahulu.

Putih Abu! The Origin 2018Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang