Pulang-pulang bukannya merasa lega, Ha Na malah merasa bebannya meningkat. Begitu membuka pintu, ia langsung melepaskan sepatu sekenanya di depan pintu, tidak sempat menaruhnya di rak sepatu, melempar tasnya disekitaran ruang tengah dan akhirnya menjatuhkan dirinya di sofa empuk sambil menyetel tv. Ibunya yang melihat anak perempuan satu-satunya bertingkah seperti itu hanya bisa menggelengkan kepala.
"Kenapa anak perempuan tidak rapi begitu, sih? Ayo sana bebersih dulu. Ada yang mau ibu bicarakan hari ini." Kata ibunya sambil menowel lengan Ha Na.
"Aduh bu... bisa tidak bicaranya besok saja? Aku sedang tidak mood." Kata Ha Na sambil memencet-mencet remote tv, mengganti channel. Ibu Ha Na hanya mendesah. Kemudian kembali berbicara.
"Penting lho ini... menyangkut masa depan kamu." Kata ibunya serius. Ha Na jadi memikirkan Seok Jin mendengar kata 'masa depan'.
Iya. Mungkin ini juga waktu yang tepat untuk memperkenalkan Seok Jin pada ibunya. Lagipula ia sudah merahasiakan Seok Jin sejak lama dari radar ibunya. Padahal biasanya ada lelaki yang melirik dia sedikit, dia langsung heboh menceritakannya pada ibu dan ayah.
"Hmm... aku juga. Mungkin ini sudah waktunya. Ada hal yang mau aku bicarakan. Kalau begitu aku mandi dulu." Kata Ha Na, seraya berjalan ke arah kamarnya di lantai dua.
"Kita tunggu ayah saja sekalian. Biar ayah saja yang bicara duluan. Sepertinya kalau dia yang mengatakannya lebih baik." Ucap ibunya tiba-tiba, membuat Ha Na terhenti.
Ibu kenapa lagi sih? Buat aku takut saja... pikiran itu langsung ditepis Ha Na. Ia kemudian hanya mengangguk membalas perkataan ibunya dan melanjutkan langkahnya.
Kini mereka bertiga sudah duduk dimeja makan sambil menyantap makanan. Ayah dan ibunya tadi sudah membuka pembicaraan dengan menanyakan tentang novel baru yang sedang dikerjakannya sehingga harus terus-terusan ke kantor. Jika bukan karena Seok Jin, sebenarnya Ha Na tidak rela nangkring di kantor penerbitan. Ha Na hanya menceritakan kejadian-kejadian umum di kantor, yang hanya ditanggapi biasa-biasa saja oleh orang tuanya.
"Ha Na-ya... ayah ingin memberi tahu kamu sesuatu. Sebenarnya, ayah dan ibu sudah membicarakan ini sejak lama, dan baru mendapat konfirmasi dari Tn. Kim." Kata ayah sambil menatap Ha Na lekat-lekat.
Ha Na yang ditatap hanya bisa menatap balik dengan pandangan bingung penuh tanya.
Hah? Apa? Tn. Kim? Tn. Kim siapa? Tanya Ha Na dalam hati. Namun ia masih tidak yakin. Helooowww di Korea ini ada berjuta-juta orang yang bermarga Kim.
"Kami sudah menyusun perjodohan antara kamu dan anak laki-lakinya." Ucapan ayah seperti petir di siang bolong bagi Ha Na. Gadis itu meletakkan alat makannya.
"Perjodohan? Maksudnya aku mau dinikahkan dengan anaknya Tn. Kim, begitu?" tanya Ha Na bodoh. Ayahnya hanya tersenyum simpul.
"Iyalah... Masa iya ayah menikahkanmu dengan Tn. Kim?" canda ayah yang terdengar tak lucu diiringi tawanya dan ibu. Namun begitu melihat wajah Ha Na berubah masam, mereka berdua langsung berhenti tertawa.
"Ha Na... ayah dan ibu memilih seperti ini juga buat masa depan kamu. Sudah saatnya kamu menikah. Dan sekarang kamu belum punya pacar juga kan?" tanya ibu menerawang Ha Na dengan tatapannya.
"Ya... belum sih. Tapi akan!" ucap Ha Na lagi. Tidak bisa dipungkiri ia memang belum resmi pacaran dengan Seok Jin. Tapi kan mereka saat ini sudah dalam tahap yang lebih intim dari sekedar pertemanan. Mana hari Sabtu ini juga ia diajak Seok Jin untuk mendengarkan perasaannya. Ia tidak mungkin begitu saja menolak, kan?
Tapi, seakan dapat membaca pikirannya, ayahnya kembali berbicara, "Sabtu ini. Kita sudah mengatur untuk mengadakan pertemuan keluarga dengan Tn. Kim. Kamu harus batalkan semua acaramu, dan ikut dengan kita. Nanti kamu juga akan bertemu langsung dengan calon suamimu."

KAMU SEDANG MEMBACA
Real Arranged Marriage [Complete]
Fanfiction"Perjodohan ini hanya akan kulakukan jika calon istriku adalah Park Ha Na." - Min Yoon Gi. "Yoon Gi-ssi... hampir saja aku percaya dengan kata-katamu tadi. Seandainya aku tidak mengingat status kita yang pada dasarnya tidak memiliki kewajiban untuk...