Ha Na langsung beranjak dari tempat tidur dan Yoon Gi langsung ke kamar mandi. Hari ini Yoon Gi sudah enakan, dan mau ke kantor. Kantor membutuhkannya untuk proyek ini dan tidak bisa membiarkan sekretaris Jung menderita tanpa kehadirannya.
Di kantor memang benar-benar kacau, mengingat deadline proyek dan penerbitan yang semakin dekat. Bahkan sekretaris Jung bekerja hari ini dengan menggunakan masker, membuat Yoon Gi juga akhirnya meminta satu buah untuk ia pakai sendiri.
Ia tidak boleh tumbang lagi. Terkadang sekretaris Jung memperingatkan staff di ruang editorial agar tidak ikut-ikutan sakit seperti Yoon Gi, membuat mereka juga benar-benar siaga, menyemprotkan pensteril ruangan dan menggunakan masker.
Dari balik kaca mereka bisa melihat mata Yoon Gi yang berair. Sesekali ia terbatuk-batuk. Mereka juga ikut khawatir. Semoga tidak ada yang tumbang karena deadline sudah dekat.
Sementara di rumah Ha Na mulai bebersih, mencuci seprei dan selimut Yoon Gi, juga membersihkan kamarnya lalu kembali bekerja. Ia juga harus segera menyelesaikan ceritanya untuk dibawa ke bu Min Kyung untuk diedit.
Seok Jin hari ini menemui Ye Na. Ia memang yang minta bertemu dengan wanita itu, seraya menjenguk ayah Ye Na, mantan supir keluarga Kim. Setelah berbicara agak lama mengenang masa lalu bersama ayah Ye Na, Seok Jin pun pamit undur diri. Mereka pun berbicara di luar.
"Ye Na... aku ada permintaan." Ucap Seok Jin lagi. Melihat wajah Seok Jin yang memelas seperti itu, hati Ye Na mencelos. Meskipun selama ini Seok Jin jarang bersamanya, (tidak seperti Yoon Gi yang terus mengikutinya) namun ia masih berharap suatu hari Seok Jin akan melihat dirinya. Karena itulah selama ia mengenal Yoon Gi dan menerima pernyataan cinta pria itu, ia tidak pernah menerimanya. Karena orang yang ia tunggu adalah orang yang sekarang berada di sampingnya.
"Ya?" ucap Ye Na menanggai Seok Jin.
"Aku tau ini gila Ye Na. Tapi, apa kau mau bertunangan denganku?" tanya Seok Jin serius pada Ye Na.
Perempuan itu terhenyak. Ia tidak pernah menyangka jika seorang Kim Seok Jin akan memintanya untuk bertunangan seperti ini. Ini adalah saat yang ia tunggu-tunggu. Namun, ada sedikit rasa penyesalan disana. Sejenak ia teringat oleh Yoon Gi, namun melihat Seok Jin dihadapannya, ia seakan ditarik kembali.
"Ya?" tanya Ye Na lagi. Ia juga tidak tahu harus berkata apa. Menangkap ekspresi Ye Na yang begitu kaget, Seok Jin kemudian tertawa garing.
"Ah... lupakan saja kalau tidak mau... " ucap Seok Jin berdiri dari tempat duduknya namun ditahan oleh Ye Na.
"Pasti ada alasannya, kan? Apa karena Yoon Gi?" tanya Ye Na telak, membuat hati Seok Jin terasa perih.
Setelah mengatakan yang sejujurnya, Seok Jin hanya mendesah napas. Ye Na juga demikian. Sebagian hati Ye Na tidak terima jika ia harus ikut dalam permainan ini. Apalagi karena hal ini menyangkut orang yang Seok Jin cintai, Park Ha Na. Ia jadi makin kesal memikirkan wanita itu.
Apa Yoon Gi masih belum cukup? Kenapa Seok Jin juga harus direbutnya seperti ini? Tanya Ye Na dalam hati, namun tak ada jawabnya.
Ia ingin protes, ingin menyadarkan Seok Jin bahwa Ha Na tidak akan pernah bisa menjadi miliknya karena sekarang statusnya adalah istri pria lain, istri adiknya sendiri.
"Seok Jin-ah... tolong dengar aku. Tunangan adalah hal yang berat. Dengan pertunangan kita apa dapat menjamin Ha Na akan kembali padamu?" tanya Ye Na berusaha berpikir rasional di hadapan Seok Jin yang kini gelap mata, ingin menghancurkan Yoon Gi.
"Setidaknya dengan pertunangan ini, Yoon Gi akan tersadar dengan perasaannya padamu. Dengan begitu tinggal menunggu waktu hingga ia melepaskan Ha Na dan menceraikannya. Lagipula mereka menikah bukan karena cinta. Semuanya ini karena perjodohan bodoh yang diatur oleh ayah." jelas Seok Jin lagi.

KAMU SEDANG MEMBACA
Real Arranged Marriage [Complete]
Fanfiction"Perjodohan ini hanya akan kulakukan jika calon istriku adalah Park Ha Na." - Min Yoon Gi. "Yoon Gi-ssi... hampir saja aku percaya dengan kata-katamu tadi. Seandainya aku tidak mengingat status kita yang pada dasarnya tidak memiliki kewajiban untuk...