Jodoh:19

915 165 10
                                        

Tolong tekan tombol Bintang di sebelah kiri bawah dong😊

Sedari tadi Irene berkutat dengan berbagai macam sayuran. Tangannya dengan lihai memotong sayur sayuran. Jika saja Sehun tidak memaksanya untuk membuat salad, Irene tidak akan repot repot seperti ini.

Beberapa menit kemudian masakan yang Irene masak sudah matang. Irene segera menyiapkan masakan tersebut di piring untuk Sehun. Membuatkan susu hangat untuk Sehun lalu membawanya ke atas.

Irene membuka pintu kamarnya. Terlihat Sehun sedang memainkan ponselnya. Oh tidak! Kali ini Irene akan marah pada Sehun. Irene segera meletakkan nampan nya di sebelah Sehun dan segera merebut benda tipis berbentuk persegi panjang yang di pegang Sehun.

"YA! Aku hanya meminjamnya."

"Aku tidak mengizinkannya!"

Sehun mendengus kesal lalu menarik selimut tebal menutupi seluruh tubuhnya. Irene hanya berdecak pelan dan segera menarik selimut tersebut.

"Kau ingin makan tidak."

"Suapi aku."

Irene mendengus sebal lalu segera meraih mangkuk yang berisi makanan dan menyuapkannya. Belum juga habis Sehun bilang jika ia ingin muntah. Sehun berlari ke kamar mandi dan di ikuti oleh Irene di belakangnya.

"Sehun kau tidak apa-apa?"

Tapi yang ia dengar hanya suara muntahan Sehun yang membuat Irene semakin khawatir. Tidak lama kemudian Sehun keluar dari kamar mandi dengan keadaan lemah.

"Apa makanan yang ku buat tidak enak?"

"Apa perutmu sakit?"

Sehun mendengar perkataan Irene yang seperti sangat khawatir kepadanya perlahan tersenyum tipis. Walaupun Irene bersikap dingin kepadanya tapi hatinya sangat hangat bahkan melebihi ibunya sendiri.

"Kau khawatir padaku?" tanya Sehun sambil memegang pipi chubby Irene.

Kali ini Irene sangat kesal, bisa bisanya dalam keadaan seperti ini masih saja sempat menggodanya.

"Kau! Jangan bercanda di saat seperti ini!"

Sehun tertawa kecil dan Irene segara menuntun Sehun untuk kembali tidur. Irene menyelimuti Sehun dan langsung pergi untuk mengembalikan nampan tadi. Tapi Sehun menahannya.

"Kau ingin kemana? Temani aku disini saja."

"Aku ingin mengembalikan nampan ini."

Sehun melepas cekalan nya dan Irene melanjutkan langkahnya.

◈◈◈◈◈🌼◈◈◈◈◈

"Aku tidak mau!"

"Tapi kau harus meminumnya!"

"Tidak! Aku tidak mau! Obat itu pahit! Aku lebih suka yang manis seperti dirimu!"

Irene memutar bola matanya. Kali ini Irene benar-benar kesal sendiri mengurus Sehun. Berbagi cara Irene lakukan agar Sehun meminum obatnya. Tapi ide yang cukup gila terlintas di kepalanya.

"Baiklah jika kau tidak mau, padahal jika kau mau meminumnya aku akan menemanimu tidur, tapi kau tidak mau. Ya sudah." ucap Irene sambil pergi berjalan keluar dari kamar.

"Apa?! Yang benar saja! Baiklah aku akan meminumnya!"

"Kesempatan tidak datang dua kali." ucap Irene sambil mengeluarkan smirk nya.

"Tidak tidak! Aku mau! Aku ingin meminumnya."

"Bagus. Anak pintar."

Irene memberikan satu butir obat kepada Sehun dan segelas air putih. Perlahan Sehun meminum obat itu, tapi tiba-tiba Sehun berhenti.

"Kenapa?"

"Kau harus berjanji kepadaku jika aku meminumnya kau akan menemaniku tidur."

Sial! Sehun menganggap ucapannya tadi itu adalah benar padahal Irene hanya bercanda. Tapi apa boleh buat jika bukan Sehun yang pemaksa Irene tidak akan mau.

"Kau tidak percaya padaku!"

Sehun tersenyum sumringah dan segera menelan obatnya tadi.

"Kau akan menemaniku kan? Kemarilah."

"Nanti a-aku akan menemanimu."

"Tidak mau! Aku ingin sekarang!"

Irene menelan ludah kasar. Perlahan ia menuju ranjangnya yang dipakai Sehun. Irene duduk di samping Sehun.

"Kepalaku sakit, tolong pijatkan."

Irene segera naik ke atas kasur dan menyuruh Sehun untuk menaruh kepala Sehun di pangkuannya dan memijat kepala Sehun dengan lembut.

"Tidurlah bersamaku malam ini."

Irene menggigit bibir bawahnya rasanya Irene ingin hilang saja dari bumi ini. Tapi tiba-tiba Sehun menariknya kedalam pelukannya. Menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Irene.

"Aku mencintaimu."

[✔]• J O D O H • Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang