"Eh, yang bener lu kalau ngomong, masa iya Rita udah hamil 4 bulan?" Riski mendaratkan pantatnya di samping Fatih yang terduduk di atas kursi panjang di dalam kamar barak mereka.
"Lu kalau ngomong jangan asal deh, Tih. Ingat, fitnah lebih kejam daripada pembunuhan." Tommi menarik kursi agar tepat di depan Fatih.
"Dih, gue tadi dipanggil juga gara-gara gue ditanya, ikhlas nggak ngelepasin Rita, lagian ikhlas atau nggak Rita juga udah hamil empat bulan," jelas Fatih, ia melupakan tentang wanita yang menangis keluar dari ruangan Ferdinand tadi.
"Hei, ayo siap-siap, setengah jam lagi kita harus sudah siap di lapangan kaki gunung Tidar. Daripada telat kena hukuman, kan?" Tommi bangkit dari duduknya, menuju kamar mandi di dalam kamar mereka itu. Sedangkan Fatih dan Riski menyiapkan segala hal yang akan mereka bawa untuk menemani Taruna tingkat satu bongkar pasang senjata.
***
"Setiap kelompok Taruna tingkat pertama, berisikan lima anggota. Jadi nanti akan terbentuk lima belas kelompok. Setiap satu kelompok akan didampingi satu Taruna tingkat ketiga sebagai bekal Taruna tingkat ketiga untuk naik menjadi tingkatan ke-empat. Setiap kelompok membuat laporan sendiri dan setiap Taruna tingkatan tiga juga membuat laporan sendiri. Jelas?" Serda Hasan melihat ke seluruh Taruna di hadapannya.
"Siap, jelas!" Terdengar sangat kompak.
"Sebelumnya, setiap dua kelompok akan menaiki satu truck angkut menuju ke daerah Salaman. Kita menggunakan Lapangan Tembak Akmil disana, yang mana lapangan itu terakhir digunakan sebagai bumi perkemahan Nasional. Saya hitung sampai sepuluh, dan seluruhnya harus sudah menempati truck yang telah ditetapkan pada kertas yang kalian bawa. Setelah saya istirahatkan, segera menempati truck kalian. Istirahat ditempat, gerak!" Seluruh anggota berlari menuju ke armada truck yang telah disiapkan. Hitungan mundur dari sepuluh masih berkumandang. Menandakan belum habisnya waktu yang diberikan.
***
"Ndan, nggak sulit kan untuk bongkar pasang senjata?" Tanya salah satu anggota Fatih ketika mereka sudah berada di atas truck mereka.
Fatih melihat sekilas nama anggotanya yang bertanya ini. Habib Fathurrahman. "Nggak kok, awalnya saja sih yang agak sulit, tapi kalian pasti bisa cepat memahaminya, benar kan, Riski?"
Riski mengangguk sambil tersenyum. Kelompok Riski dan Fatih berada dalam satu truck yang sama. Memudahkan Fatih dalam berinteraksi, ia tak begitu dekat dengan anggota yang lain. Fatih sulit beradaptasi.
"Ohh, ya sudah kalau gitu, Ndan. Saya tenang sekarang. Emm mau nanya lagi, Ndan. Kapan kita bisa megang ponsel ya, Ndan?" Habib bertanya lagi. Maklum, Taruna baru mungkin.
"Untuk Taruna angkatan pertama dan kedua, tiga hari dalam sebulan ia boleh memegang ponsel, sedangkan Taruna tingkatan tiga, tiga hari dalam dua minggu. Kalau Taruna tingkatan empat, ia diperbolehkan memakai ponsel setiap hari Sabtu dan Minggu." Sekarang Riski yang menjelaskan.
"Yahh, pacar saya bisa mengamuk nih, Ndan. Ndan Fatih, sepertinya saya pernah melihat Komandan pada upacara pembukaan Perkemahan Bela Negara waktu itu, kan? Ndan yang ikutan bongkar pasang senjata juga kan disana?" Habib lebih cerewet daripada kawan-kawannya. Terlihat dari wajah mereka ada ketegangan yang luar biasa terjadi.
"Oh, kamu ikut ya? Iya, saya ikut. Hanya saya disana yang menjadi Taruna tingkatan terendah." Fatih tersenyum mengingat pembukaan perkemahan kala itu.
"Iya lah, cuma dia. Orang dia aja lebih menguasai daripada komandannya waktu itu." Riski tertawa renyah dan Fatih hanya mengeluarkan cengiran khasnya.
"Sudah, kita sudah sampai ini. Serius ya, saya doakan kalian semua bisa dan sukses." Fatih turun dari truck dan mengecek kembali anggotanya.
***
"Gue capek banget deh, Ris." Tommi merebahkan tubuhnya di kasur teratas.
"Ya, gue juga." Riski membiarkan kakinya mengayun. Ia duduk di kasurnya berada, kasur di nomor dua.
"Gimana tadi kelompok lu? Kelompok gue sih ada yang gagal satu tadi, diajarin sampe kesabaran gue habis masih aja nggak bisa, pas Serda datang, dia dinyatakan gagal." Tommi menatap langit-langit kamar.
"Ya, gue sih juga kesusahan tadi, untungnya nggak ada yang gagal. Malah di kelompoknya Fatih tadi nggak ada yang gagal, dan dia nggak ngerasa kesusahan banget." Riski memberhentikan ayunan kakinya.
"Ya maklumin aja lah, sejak di tingkatan pertama dia udah ahli. Ayahnya saja mantan Angkatan Laut yang pensiun gara-gara kecelakaan kerja. Mungkin ia sudah dapat dasar-dasarnya dari ayahnya. Ngomong-ngomong, dimana Fatih sekarang?" Tommi baru menyadari ketidakhadiran Fatih di kamar.
"Ia sedang mengeprint laporannya, gue udah titip ke dia tadi." Riski memejamkan matanya.
"Ohh, laporan gue juga udah selesai kok. Tidur aja lah, udah jam sembilan malam juga ini." Tommi mengikuti Riski yang mulai memejamkan matanya.
Mereka menikmati nyamannya dunia mimpi. Membawa mereka melepaskan beban yang ditanggung mereka. Membawa mereka terbang tinggi di angkasa. Namun, suara serak membangunkan mereka.
"Gaes, bangun. Jangan tidur dulu. Gue baru dapat informasi nih." Dengan mata berat, Riski dan Tommi terpaksa akur dengan ucapan Fatih.
"Mulai besok pagi, kita akan pesiar¹ selama tiga hari. Mengistirahatkan tubuh kita dan menyiapkannya untuk penaikan tingkat empat hari lagi. Laporan kita sudah diterima dan disetujui. Kalian boleh pulang ke rumah kalian atau bahkan boleh menginap disini bagi yang rumahnya jauh." Fatih menjelaskan hal yang disampaikan Serda Hasan saat ia mengumpulkan laporannya tadi.
"Yes, gue bisa nemuin istri dan anak gue." Tommi bersorak riang.
"Yes, gue juga bisa nemuin tunangan gue." Riski menutupkan matanya kembali.
"Enak jadi kalian, gue nemuin Ayah Ibu gue aja deh." Fatih mematikan lampu kamarnya dan segera menempati kasurnya.
Maklumlah, mereka bertiga asli orang Magelang semua, jadi wajar, pesiar besok mereka gunakan untuk beristirahat bersama orang tersayang.
***
¹Pesiar = Liburan atau waktu istirahat yang dimiliki oleh para Tentara
KAMU SEDANG MEMBACA
Army With Love [SUDAH TERBIT]
RomanceMereka dipaksa dekat. Mereka dipaksa melakukan sesuatu yang bahkan baru untuk mereka. Hanya karena keadaan yang tak memungkinkan mereka untuk memperjuangkan cintanya. Saat cinta yang telah diperjuangkan ternyata mengkhianati mereka cukup lama. Bukan...
![Army With Love [SUDAH TERBIT]](https://img.wattpad.com/cover/170609178-64-k927602.jpg)