Pulang

423 16 4
                                        

"Gaes ... Gue balik dulu ya," ucap Tommi sambil mengeluarkan kepalanya dari Taxi Online yang ia pesan.

"Oke, hati-hati di jalan ya." Fatih melambaikan tangannya pada Tommi, disusul oleh Riski.

"Hati-hati di jalan, lalu yang di hati kapan jalan-jalan?" goda Riski sambil melihat hilangnya Taxi yang dinaiki Tommi. Riski kembali mengecek aplikasi ojek online di gawainya.

"Nggak usah ngeledekin jomblo dong, jadi kayak gue baru tau rasa lu." Fatih melihat gawai yang di pegang Riski. "Belum dateng juga ojol lu?"

"Itu dia." Riski menunjuk sang ojek online yang memasuki halaman depan Akmil.

"Mas Riski, ya?"
"Pak Yanto, ya?"

Setelah memastikan dengan seseorang yang tepat, Riski menyalami Fatih. "Lu nggak balik?"

"Bentar, masih ada barang yang tertinggal. Tas gue juga masih ada di kamar. Hati-hati di jalan, ya. Gue ambil barang dulu." Fatih meninggalkan Riski yang masih bergeming.

"Dasar, Fatih. Ternyata bukan cuma barangnya saja yang tertinggal, namun cintanya juga." Ia menaiki ojeknya. "Jalan, Pak."

Fatih berlari menuju ke kamar baraknya yang berada di Akmil bagian belakang. Ia tergesa-gesa masuk ke dalam kamar dan mencari barang yang ia maksud. Terakhir kali ia pulang saat pesiar dulu, tiga bulan lalu, ibunya minta dibelikan Al-Qur'an terjemah dengan sampul bermotif cantik. Fatih membelikannya sebulan lalu, dikhawatirkan jika ia beli waktu pulang pesiar, waktunya tidak cukup.

"Ini dia." Fatih menemukannya bersama dengan tumpukan foto-foto dan buku-buku kenangannya bersama Rita.

"Tok ... Tok ... Tok ..."

Fatih memalingkan wajahnya menuju ke arah pintu dimana seseorang berdiri disana. Seorang wanita dengan balutan kemeja warna ungu dan celana jeans panjang serta hijab dengan warna senada berdiri di depan pintu kamar Fatih. Sepatu high heels ikut mewarnainya yang sudah bertinggi sekitar 163 cm itu. Wanita itu cukup familiar di mata Fatih. Sepertinya pernah bertemu.

"Maaf mengganggu waktunya. Perkenalkan, saya Elayya Fatimatuz Zahra, biasa dipanggil Ela. Bisa bicara sebentar?" Fatih berdiri dari jongkoknya dan berdiri tepat di hadapan wanita itu.

"Bukankah kita pernah bertemu sebelumnya? Kamu kan yang nggak sengaja saya tabrak di depan ruangan Komandan Ferdinand, kan?" Fatih masih mengingat wanita di depannya ini.

"Hehe, iya benar. Kamu mantannya Rita, kan? Dan saya mantannya Ferdinand. Kita ada dalam posisi yang sama, yaitu sama-sama ditinggalkan saat masih menyayanginya." Ela menundukkan pandangannya.

Fatih memegang kedua bahu Ela, membuat wanita itu kembali menegakkan pandangannya. "Nggak ada gunanya menyesali sesuatu yang sudah terjadi, thoh mereka sudah bahagia, kan? Apalagi Rita sudah hamil empat bulan juga." Fatih melepaskan pegangannya. "Err, lebih baik kita bicara sambil makan siang saja, nggak enak dilihatin teman-teman kalau kita bicara disini. Mumpung sudah jam makan siang juga." Setelah memastikan wanita di depannya ini mengangguk, Fatih mengambil satu tas punggungnya dan Al-Qur'an pesanan ibunya, kemudian berjalan berdua dengan wanita yang baru dikenalnya itu.

***

Fatih dan Ela berjalan beriringan di koridor tengah yang sepi nan panjang yang menghubungkan antara kamar barak dan aula tengah. Keheningan mencekam diantara mereka.

"Ehm, kamu masih sekolah?" tanya Fatih basa-basi. Ia selalu membenci suasana sepi.

"Aku kuliah, semester dua." Ela menundukkan pandangannya.

"Jurusan apa?" Fatih memegang erat Al-Qur'an di tangan kanannya.

"Kedokteran, aku juga bingung kenapa masuk di jurusan ini ya. Mungkin karena aku punya pacar TNI, lalu aku mikir jadi pemeran utama wanita di film Descendants Of The Sun kali, ya?" Ela tertawa renyah.

Army With Love [SUDAH TERBIT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang