Perasaan Yang Terpendam

375 12 5
                                        

"Terima kasih ya buat jalan-jalannya hari ini, El." Mereka telah sampai di depan rumah Fatih.

"Iya, Kak. Sama-sama. Ela langsung pergi ya, Kak. Kuliah Ela di Jogja, nih. Ela cuma ambil cuti lima hari saja, Kak. Semoga kita masih dipertemukan kembali ya, Kak." Ela menatap manik mata Fatih.

"Oke, El. Semoga kita masih bisa dipertemukan." Fatih tersenyum. Entah siapa yang memulai, mereka berpelukan.

"Eh, maaf maaf, El."

"Aku juga minta maaf, Kak."

Fatih turun dari mobil, disusul oleh Ela. Lantas, gadis itu masuk ke mobil dan duduk di tempat kemudi. "Sampai jumpa, Kak. Bye."

"Bye."

Avanza merah itu kini telah pergi dari mata Fatih. Bahkan, pandangannya tak lepas ikut mengantarkan kepulangan Ela.

Fatih berjalan malas menuju ke dalam rumah, sepertinya sebagian hatinya telah hilang. Ia berfikir bahwa hilangnya sebagian hatinya itu karena pernikahan mantannya. Pria itu belum bisa membaca hatinya sendiri. Bahwa sebenarnya dia telah melabuhkan separuh hatinya pada Ela, gadis yang baru saja ditemuinya, tepatnya menemuinya. Gadis yang memiliki alasan sakit hati yang sama dengannya.

Faith membuka pintu rumahnya. Ia masih belum menyadari ada banyak pasang sandal dan sepatu di depan pintu rumahnya.

"Fatih ... Kemana saja, sih? Setelah debat hebat sama mempelai, lu ilang gitu aja!" Suara cempreng Riski yang jarang keluar itu menyambut kehadiran Fatih. Pria yang baru datang itu sempat terkejut dan memegangi dadanya.

"Kok kalian semua disini?" Fatih memandang satu per satu wajah-wajah di ruang tamu rumahnya ini. Ada Riski, tunangan Riski, Tommi, istrinya beserta anak bayinya.

"Gue tadi nggak jadi balik, Tih. Gue laper, akhirnya balik lagi deh demi makan gratis dari Komandan yang terkenal super pelit itu." Tommi menyengirkan deretan giginya.

"Gue tadi baru aja sampai, lihat lu sama cewek debat sama sang mempelai. Terus lu pergi gitu aja narik tangan cewek itu, sampai nggak ngeliatin gue. Tega banget ya." Riski memasang tampang melas.

"Dih, jijik. Gue nggak kenapa-kenapa kali. Sans aja." Fatih menyapukan pandangannya menatap satu persatu orang yang ada di ruangan ini. Matanya memanas. Namun Fatih berhasil menahan agar air matanya tak turun begitu saja. Ternyata, masih ada sahabatnya yang mengkhawatirkannya.

"Eh, gue baru inget!" Riski bersorak lantang.

"Pelan-pelan kenapa say kalau ngomong," cibir Lia, tunangan Riski.

"Emang apaan sih yang bikin lu histeris kek gitu." Fatih mendaratkan pantatnya di kursi di samping Riski.

"Gue belum salaman sama nyumbang pengantin!" Ucapannya berhasil membuat seisi ruangan terdiam sebentar kemudian tertawa terpingkal-terpingkal.

"Uang lu nggak akan buat bertambah banyaknya uang mereka kali, Ris." Tommi menimpuk kepala Riski menggunakan bantal sofa.

"Tiga puluh ribu lumayanlah buat nambah-nambahi keuangan mereka." Riski mengeluarkan uang dua puluh ribu dan sepuluh ribu dari dalam amplopnya.

"Dih, cuma tiga puluh ribu doang. Kayak gue dong." Tommi menyombongkan diri.

"Berapa?" Fatih memalingkan wajahnya dari ponsel.

"Ya, sama juga sih." Tommi menggaruk tengkuknya yang tak gatal.

"Yeeeee," ledek Riski sambil menimpuk Tommi menggunakan bantal tadi. Melihat itu, anak Tommi menangis.

"Eh, sayang-sayang Ayah nggak papa, kok." Tommi menepuk-nepuk pantat anaknya yang dalam gendongan ibunya. "Ya kali, nggak papa lah, kan gue udah masukin ke kotak amplop. Daripada lu? Eh Fatih juga nggak ngasih, yang ngasih ceweknya tadi," goda Tommi.

Army With Love [SUDAH TERBIT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang