Ela melihat nanar gawai di tangannya. Gadis itu membuka ruang pesan WhatsApp. Terpampang dengan jelas nama 'Kapten Fatih'. Diikuti tulisan 'terakhir dilihat 4 hari yang lalu'.
Ya, sudah tepat empat hari Fatih kembali ke Akmil. Ia sedang menjalani penaikan tingkat yang katanya menghabiskan waktu seminggu itu. Apakah Ela tahu? Tentu saja ia tahu. Wanita akan menjadi agen mata-mata yang handal saat waktu tertentu.
Gadis berjilbab magenta dan bergamis ungu itu kini mengotak-atik ponselnya. Ia menekan-nekan tuts-tuts kecil hingga merangkai kata pada bar pencarian. 'Serda Hasan (Kakak Sepupu)' tampil dalam hasil pencariannya. Ela menekan tombol telepon dan menunggunya terangkat.
"Assalamualaikum, Dek. Ada apa?" Suara Serda Hasan terdengar nyaring.
"Wa'alaikumsalam, Kak Hasan. Ela mau tanya nih," ujarnya to the point.
"Tanya tentang Fatih lagi, ya? Dia baru saja selesai penaikan tingkatan, langsung disambung dengan pemilihan kapten pasukan Infanteri. Dia berhasil jadi kapten pasukan itu. Lebih tepatnya, kawan seinduknya berhasil menjadi pasukan Infanteri dan dia yang memimpin," jelas Serda Hasan.
"Wah, terima kasih, Kak. Baik deh." Ela tersenyum.
"Apa sih yang nggak buat adikku," goda Serda Hasan.
"Sudah dulu ya, Dek. Kakak mau melatih kedasaran mereka dalam pasukan Infanteri. Nanti Kakak kabarin lagi," lanjutnya.
"Siap, Kak."
Panggilan itu terputus. Menyisakan garis lengkung di bibir Ela. Gadis itu tersenyum. "Akhirnya kamu berhasil, Kapten-ku."
"Sudah lama, El?" Seseorang menepuk bahu Ela, siapa lagi kalau bukan Eva.
"Lumayan sih"
"Kok belum pesan makanan?"
"Belum lapar, Va." Ela tersenyum.
"Pesen seporsi Banana Nugget aja ya, buat cemilan kita nunggu mata kuliah kedua."
Eva bangkit tanpa persetujuan Ela. Gadis itu tahu, bahwa sahabatnya sedang melakukan program diet, bukan karena tak lapar.
"Emang dasar ya, Ela. Budak cinta! Badan udah ramping gitu masih mau ikutin program diet. Mau jadi biting dia?" gerutu Eva. Ditangannya sudah terdapat dua porsi Banana Nugget dan dua gelas jus Apel. Ia memang berkata akan membeli seporsi saja, namun ia juga tahu bahwa Ela sedang menahan lapar.
Eva meletakkan sepiring Nugget di depan Ela, dan piring yang lain di depannya. Ia juga melakukan hal yang sama pada jus Apel.
"Katanya cuma pesan seporsi doang? Kalau kayak gini gagal dong program diet aku." Ela merasa dikhianati.
"Hei! Badan udah bagus, ramping begitu, mau ikutan program diet konon? Mau jadi biting?" cibir Eva.
"Tapi ...."
"Cinta boleh, bodoh jangan! Jangan jadi budak cinta!" Eva memotong ucapan Ela.
"Baiklah, Tante." Ela menahan tawanya dan mencomot cemilannya.
"Hei! Tante konon!" Eva memanyunkan bibirnya lima senti.
"Va, jangan bimoli deh ...." Ela tersenyum.
"Ha? Bimoli?"
"Iya, bimoli! Bibir monyong lima senti...!" Ela tergelak.
Eva tersenyum. Ia senang saat melihat Ela begitu bahagia, tertawa lepas.
"Monyong-monyong gini gue udah dilamar. Lha situ? Percintaan aja rumit." Eva tertawa renyah.
"Yahh, tunggu aja. Gue bakal buat Kapten suka sama gue," tukas Ela.
KAMU SEDANG MEMBACA
Army With Love [SUDAH TERBIT]
RomanceMereka dipaksa dekat. Mereka dipaksa melakukan sesuatu yang bahkan baru untuk mereka. Hanya karena keadaan yang tak memungkinkan mereka untuk memperjuangkan cintanya. Saat cinta yang telah diperjuangkan ternyata mengkhianati mereka cukup lama. Bukan...
![Army With Love [SUDAH TERBIT]](https://img.wattpad.com/cover/170609178-64-k927602.jpg)