Frustasi

379 13 8
                                        

"Ha? Yang bener lu?" ucap Tommi dan Riski hampir bersamaan. Mereka bertiga sedang melakukan panggilan Video Call.

"Iya, bener. Emang ada ya yang pernah gue boongin?" tanya Fatih sambil menggaruk tengkuknya.

"Eemm, jarang sih." Kali ini Tommi yang bersuara.

"Lalu?" tanya Fatih.

"Lalu apanya?" Risi terlihat sedang menikmati sepiring nasi goreng.

"Dih, malah makan. Ya terus gimana? Gue terima tawaran Ela nggak? Kan besok pagi undangan nikahannya." Fatih mengacak rambutnya.

"Terima saja, daripada kamu jomblo," tawa Tommi berderai.

"Oke deh oke, tapi jangan bully gue dong." Fatih melihat notifikasi di gawainya. Ada sebuah pesan WhatsApp masuk dengan nomor yang tak ia kenal. "Eh, bentar ya, gue matiin dulu, ada yang chat nih, kayaknya sih Ela." Fatih langsung mematikan sambungan begitu saja.

'Kak, ini aku Ela ... Gimana tawaran Ela tadi kak? Besok nikahannya lho, Kak. Keputusan Kakak ada pada malam ini, mau datang sendirian atau sama aku?'

Fatih bimbang, apa yang harus ia jawab sekarang? Fatih menghembuskan nafasnya kasar. Lalu ia menjawab pesan itu.

'Baiklah, aku terima. Ini hanya untuk datang ke pesta pernikahannya, kan?'

Tak berselang lama, sebuah balasan masuk.

'Iya, Kak. Walaupun aku pengennya sih untuk seterusnya. Dih, apaan :v. Enggak-enggak, bercanda kok.'

Darah Fatih sempat berdesir sejenak. Wanita di seberang sungguh berhasil membuat jantung Fatih berkali-kali berdetak melebihi ritmenya.

'Oke, besok ketemuan dimana?'

Fatih mengetik dengan tangan yang gemetaran. Ia masih menunggu gadis itu menjawab pesannya. Sudah sepuluh menit tak ada jawaban. "Mungkin besok emang gue harus pergi sendiri deh. Tommi sama istrinya, Riski sama tunangannya."

Fatih beranjak menuju kamar mandi. Membersihkan diri, ia ingin pergi tidur. Menggapai alam mimpinya. Melupakan masalahnya sejenak. Fatih kembali lagi ke kamar, dibukanya ponsel sekali lagi. Ada satu pesan di sana.

'Nanti Ela jemput Kakak saja. Maaf, Kak. Tadi Ela habis bungkusin kado, Kakak nggak usah ikut bungkus kado. Ini kadonya atas nama kita berdua, kok. Ya udah nggak usah dibalas, Ela juga mau tidur. Night, Kak. See you tomorrow.'

Fatih lalu meletakkan ponselnya pada nakas. Ia beranjak mematikan lampu dan kemudian merajut bulu mata. Terbang ke alam mimpi, dan bahkan pria itu berharap ia tak akan membuka lagi matanya.

***

Fatih sudah siap. Ia memakai kemeja panjang batik berwarna coklat khas Pekalongan, dilengkapi dengan celana jeans, dan sepatu pantofel. Rambutnya ia sisir dan tata dengan rapi. Pria itu juga menyemprotkan parfum berkali-kali.

"Nak, bau apa ini sih, wangi bener." Ibunya masuk ke dalam kamar dan mendapati anaknya sudah siap. Fatih hanya tersenyum. "Anak Ibu udah rela jika mantannya nikah sama komandannya, kan?"

"Rela atau tidak, ikhlas atau tidak, siap atau tidak, Fatih memang harus melepaskan Rita, Bu." Fatih memegang kedua tangan ibunya.

"Nak, padahal Ibu pengen sekali dapat menantu seperti Rita. Udah baik, ramah, cantik lagi." Ibu tersenyum.

"Bu, Rita tak sebaik yang Ibu kira." Fatih mengelus lembut tangan Ibunya.

"Maksudnya, nak?"

"Rita sudah hamil empat bulan, Bu. Apakah Rita baik sekarang menurut Ibu?" Fatih kini memegang kedua bahu ibunya.

Army With Love [SUDAH TERBIT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang