Misteri Akademi Militer

269 11 2
                                        


'Tih, gue nggak tau ini dimana. Yang jelas disini gelap, padahal ponsel gue nunjukin jam 05.20 WIB. Gue malah jadi takut disini, please tolong temuin gue, gue akan nyalain GPS gue, gue harap ponsel gue masih bisa nyala sampai lo nemuin gue. Tolong secepatnya!'

Fatih mematung.

"Ada apa, Tih?" Riski menepuk bahu Fatih. Namun, sang empunya bahu hanya memandang kosong dan memberikan ponselnya pada Riski.

Riski membaca ulang apa yang telah dibaca Fatih tadi. "Tom ... Tommi hilang, Tih?"

Fatih mengangguk. "Tapi gue nggak tahu kemana hilangnya dia."

"Lebih baik kita lacak dia, lo masih pasang aplikasi pelacak itu, 'kan?" Riski memastikan bahwa rekannya itu masih menyimpan aplikasi yang tak disebarluaskan itu.

"Masih, tapi nggak gue install, coba lo cari di File Manager, kayaknya ada deh disana." Fatih menutup kepala dengan kedua tangannya. Berusaha memikirkan apa yang sebenarnya terjadi pada sohibnya itu.

"Nah, ketemu. Langsung gue install, Tih." Tangan Riski sibuk mengotak-atik ponsel Fatih. Namun, getar dari pesan masuk mengganggu kinerjanya.

'Tih, cepet gue takut.'

'Tih, buruan, gelap banget, flash hp gue nggak ngaruh sama situasi, tetep aja gelap.'

'Tih, cepet, baterai gue udah low ini.'

'Tih, maafin gue ya kalau selama ini gue ada salah sama lo, sampaikan maaf gue juga ke si Riski, gue udah nggak bisa berharap banyak, baterai gue tinggal 5%, entah kenapa kok cepet banget habisnya, gue harap lo bisa temuin gue. Yang jelas, disini ada banyak meja dan kursi, tapi nggak ada jendela dan pintu, atau jangan-jangan ada tapi gue nggak kelihatan, ya? Sumpah gue minta maaf sama lo. :)'

Riski ambigu, ia terdiam sambil membaca pesan masuk tersebut.

"Gimana? Udah?"

Suara Fatih berhasil membuat Riski terkejut. Lantas segera memberikan ponsel itu kepada sang pemilik.

Netra Fatih membulat. Dengan sigap dibukanya aplikasi yang berhasil dipasang tersebut. Jari lincahnya bermain pada aplikasi rumit tingkat tinggi itu.

"Shit! Ponselnya mati!" Fatih memukul pelan dahinya menggunakan telapak tangan.

"Lo nggak nemuin tempat terakhirnya?"

"Bentar. Eh ini, ada! Tak jauh dari ruang kesehatan. Errr ... tepatnya sih memang di ruang kesehatan."

Tanpa aba-aba lagi, kedua sahabat tersebut berlari ke arah ruang kesehatan, mengabaikan para anggota yang menyapa, mengabaikan para anggota yang melihat mereka, yang jelas tujuan mereka saat ini adalah, sahabatnya selamat.

Ruang kesehatan tertutup rapat. Fatih berusaha membuka dengan menarik knop pintu.

"Sial! Ini terkunci!" umpatnya.

"Kita dobrak saja, Tih. Hitungan ke-tiga, ya."

"Satu ...."

"Dua ...."

"Tiga ...."

Mereka mendobrak dengan kedua bahunya, namun pintu masih tetap kokoh berdiri. Bersamaan dengan itu, datanglah Serda Hasan yang tergopoh-gopoh. Dibelakangnya diikuti Regan dan Yoga.

"Kalian ngapain? Mau dobrak ruangan kesehatan juga?" teriak Serda Hasan.

Fatih kalut. Ia menahan emosinya dengan cara diam, lantas segera memberikan ponselnya kepada Serda Hasan.

Army With Love [SUDAH TERBIT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang