Rencana Pertemuan

271 14 5
                                        

From : Serda Hasan (Kakak Sepupu)

Dek, Fatih menghilang!

Sejujurnya, Ela kalut setelah menerima pesan tersebut. Faktanya, Fatih memang benar-benar menghilang. Setelah pasukan mereka memutuskan melanjutkan perjalanan, dengan langkah tertatih-tatih, tak sengaja Fatih salah menginjak tepian jurang. Karena lelaki itu belum bisa menahan kuat tubuhnya karena luka di kaki, akhirnya tubuh itu terjun begitu saja pada jurang dengan kedalaman kurang lebih 3 KM itu.

Bukan Fatih namanya kalau ia tak bisa keluar dari jebakan. Salah satu alasan mengapa ia dipilih menjadi kapten adalah karena adanya sikap selalu memanfaatkan keadaan.

Fatih berhasil keluar dalam waktu kurang dari satu jam. Pria itu menggunakan pisau dan gunting lipat yang selalu ia bawa di tas ranselnya. Fatih memanjat dinding terjal jurang menggunakan kedua alat tajam tersebut.

Bukan hanya Fatih yang berusaha merangkak ke atas. Timnya pun berusaha membuat pijakan-pijakan yang akan dilalui untuk menjemput Fatih. Namun, baru seperempat pijakan dari kedalaman jurang, Fatih sudah terlihat. Dengan darah yang mengucur lagi, serta keringat yang mewarnai wajahnya. Wajahnya terlihat pucat. Namun, senyum keindahan bertemu anggota timnya tetap terlihat.

Bahkan, hampir satu jam itu, rasa kantuk Ela benar-benar menghilang. Bayangan atas keselamatan Fatih selalu menghantui. Gadis itu takut. Takut kehilangan Fatih. Bahkan sebelum perasaannya tercurah.

Dering ponsel mewarnai ruangan itu. Sekeras apapun dering itu, masih tak mampu mengalahkan kerasnya suara isak tangis Ela.

Ela mengambil ponselnya. Gadis itu menghapus dulu air matanya sebelum ia mengangkat. "Assalamualaikum, Kak."

"Fatih sudah ketemu, Dek. Simulasi dibubarkan. Pasukan mereka resmi diterima.

"Huaaaa ... Kenapa harus ada simulasi itu sih, Kak! Aku khawatir nih, aku nangis sampai mata bendul-bendul semua!" teriak Ela, ia tak peduli lagi dengan tetangga kost.

"Maaf ya, Dek. Ini Fatih sedang diperiksa oleh dokter militer. Kita sudah berencana, dua hari lagi kita menuju ke Jogja, bersama lima anggota pasukan Infanteri. Tenanglah! Kamu boleh ikut sekalian." Ucapan Serda Hasan berhasil memenangkan kekalutan Ela.

"Baiklah, Kak. Tapi, Kakak harus janji sama aku! Ferdinand dan istrinya tidak boleh ikut."

"Em, insyaAllah ya, Dek. Ya soalnya gini lah, dia kan Komandan gitu."

"Ya udah deh, Kak. Jaga Fatih lho! Jangan sampai kayak tadi lagi."

"Siap."

"Assalamualaikum, Kak."

"Wa'alaikumsalam, Dek."

Ela beranjak menuju ke arah toilet. Dibasuhnya wajah kusutnya. Matanya benar-benar memerah. Ia memandangi wajahnya pada kaca toiletnya.

"Ah, jadi ngantuk. Kalau aku tidur, nanti mataku malah bengkak." Ela mengusap kantong matanya, bagian itu juga menghitam.

"Ya, aku baru ingat. Kompres dengan air dingin!"

Dengan langkah terburu-buru, gadis itu beranjak menuju kulkas. Diambilnya satu balok kecil es batu, ia kembali ke toilet, lantas diusap dan agak didiamkan sebentar pada mata kanannya. Ela mengulangi langkah yang sama pada mata kirinya.

"Gini kan lumayan." Setelah memastikan semuanya kembali normal, Ela meninggalkan toilet dan berjalan menuju ke tempat tidur. Kantuknya bahkan belum kembali.

"Tok ... Tok ... Tok ... Assalamualaikum, Ela ... Bukain dong." Suara Eva terdengar menggema.

Dengan langkah seribu, Ela membukakan pintu untuk sahabat tersayangnya itu.

Army With Love [SUDAH TERBIT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang