Misteri Akademi Militer (bagian 3)

191 9 0
                                        

Fatih menghempaskan tubuhnya ke atas kasur. Mengistirahatkan badan setelah perjalanan dari jogja. Kembali ke Akmil membuat dia harus kembali mengingat kisah menyeramkan kemarin. Tommi sudah kembali ceria seperti biasanya. Fatih merasa kasihan pada lelaki itu, seharusnya bukan dia yang mengalami hal menyeramkan itu.

"Tih, mikir apa?" Riski menempatkan diri di samping tubuh Fatih.

"Nothing." Lelaki itu hanya menggeleng.

"Mikirin Ela?"

"Nggak."

"Lalu?"

Fatih bangkit dari tidurnya, lantas memilih duduk di tepian ranjang. "Gue memikirkan kejadian menyeramkan sebelum kita ke Jogja."

"Tentang Tommi?" ucapan Riski hanya dibalas anggukan oleh Fatih. "Kenapa? Bahkan anak itu sudah terlihat biasa saja sekarang? Bukankah lu juga kelihatan biasa saja?"

Fatih memandang lekat manik mata Riski. "Karena aku menyembunyikan itu. Dan aku merasa, mungkin Tommi juga menyembunyikan ketakutannya."

Riski membisu. Membiarkan mereka larut dalam keheningan masing-masing.

"Gu ... gue ... ehmm ...." Fatih memicingkan alisnya, lelaki di hadapannya nampak tak nyaman sekarang.

"Kenapa?"

"Gue ke toilet sebentar."

Riski lantas segera berlari, bahkan sebelum Fatih mengiyakan hal itu.

Lelaki itu masih menatap Riski bingung, hingga mulai menyadari ruangan itu semakin mencekam. Badannya merinding dan bulu kuduknya berdiri.

Tentara Merah menampakkan dirinya, membuat sang kapten tercekat dalam diam. Tangannya saling bertautan serta keringat dingin mengucur deras.

"Ma ... mau apa kamu?" Fatih berusaha menetralisir rasa takutnya.

"Aku mau kamu berakhir seperti ku."

Lantas semuanya gelap dan hening.

***

Riski berhenti berlari saat dilihatnya Tommi sedang berbicara dengan Serda Hasan.

"Tom ... Serda ... Toloongg...," ucap Riski ngos-ngosan.

"Kamu kenapa?" tanya Serda bingung.

"Kenapa sih lu?" Kini Tommi menimpali.

"Fa ... Fatih ... Itu ... Anuu...." Riski tak sanggup meneruskan ucapannya lagi.

Tommi mengambil air minum di ranselnya, lalu menyodorkan pada Riski. "Nih, minum dulu, baru cerita."

Riski segera mengambil air mineral tersebut dan menenggaknya hingga tak tersisa.

"Fatih ... Gue tadi lagi ngomong sama dia di kamar, terus tiba-tiba gue lihat asap di belakang dia, dan muncul wajah itu."

"Wajah siapa?!" tanya Tommi dan Serda Hasan bersamaan dengan panik.

"Ten ... Tentara Merah."

Setelah Riski mengucapkan itu, Tommi segera berlari secepat mungkin menuju kamar. Ia tak mau jika kali ini sahabatnya yang jadi korban dari Tentara Merah.

Sedangkan Serda Hasan dan Riski menyusul di belakang. Kejadian ini sungguh diluar dugaan mereka.

***

"Fatih!" teriak Tommi memasuki ruangan. Namun tak ditemukan seseorang pun disana. Hanya terlihat ponsel Fatih yang jatuh.

"Shit!" Tommi frustasi. Kemana si Fatih saat ini. Sedangkan ponselnya saja terjatuh disini.

"Dimana Fatih?" Serda Hasan mengedarkan pandangannya. Tommi hanya memberikan ponsel Fatih yang terjatuh.

"Ohh, dimana dia?" Riski mulai gusar, seharusnya ia tak meninggalkan Fatih tadi. Ia harus menemaninya tadi, atau mengajaknya juga untuk berlari meninggalkan ruangan. Hanya saja mereka habis berselisih paham, membuat kecanggungan dan keegoisan masing-masing. Sebenarnya, hanya keegoisan dalam diri Riski.

Tommi terlihat mengotak-atik ponsel Fatih.

"Apa ada sesuatu?" Serda Hasan mendekat.

"Belum ada." Tommi terlihat kecewa. Ia lantas terduduk di lantai. "Dimana Fatih?"

"Sudah, kamu tenang dulu. Ini terlalu berlebihan menurutku. Riski, kamu temani Fatih dulu. Saya akan menemui Komandan," titah Serda Hasan.

"Baik, Serda."

Riski segera duduk di samping Tommi. Mencoba menenangkan lelaki itu. Sedangkan Serda Hasan keluar dari kamar dengan langkah cepat.

"Gue udah berusaha ngelupain hal itu kemarin, meskipun gue harus nyembunyiin itu di balik sikap ceria gue. Dan sekarang, ini malah terjadi sama Fatih." Tommi menatap kosong. Riski semakin merasa bersalah.

Lelaki itu kini menatap tajam ke arah Riski. "Lu juga! Ngapain nggak nemenin Fatih, atau paling tidak ajak dia lari! Jangan cuma lu yang lari sendirian! Jangan egois! Fatih sudah banyak berkorban untuk kita!"

Riski terkejut. Bagaimana Tommi bisa tahu?

"Maaf, Tom. Sekali lagi gue minta maaf."

"Minta maaf sama Fatih! Bukan sama gue!" Tommi terlihat semakin emosi.

"Dengerin penjelasan gue dulu. Gue habis berselisih paham dengan Fatih. Gue lihat dia begitu tertekan. Gue kira dia mikirin Ela. Nggak tahunya dia mikirin masalah ini. Gue bilang sama dia kalau harus bersikap biasa saja dan lupain semuanya. Gue juga bilang kalau lu juga udah terlihat baik-baik saja. Lalu dia bilang, dia sebenarnya menyembunyikan kekhawatirannya dari kita, dan dia yakin kalau lu juga menyembunyikan ketakutannya dari kita semua. Setelah itu, gue memilih diam. Dan tiba-tiba makhluk itu hadir. Gue yang habis berselisih paham, membuat kecanggungan diantara gue sama Fatih, dan mungkin ditambah gue lagi egois saat itu, jadinya gue lari sendirian." Mata Riski berembun. Ada rasa bersalah disana.

"Maafin gue, gue bener-bener egois," lanjutnya.

"Gue rasa, cuma Fatih yang berhak memaafkan lu atau tidak." Tommi mulai melunak.

"Lu sebenarnya khawatir dan sayang sama kapten. Tapi cara lu salah, Ki. Cara lu seharusnya nggak gitu," sambung Tommi.

"Iya, gue ngerti. Sumpah! Maafin gue."

Tommi mengangguk. Lantas mereka kembali pada keheningan masing-masing.

***

"Fatih menghilang, Komandan." Serda Hasan telah berada di kantor Komandan Ferdinand.

Ferdinand memicingkan matanya. "Lalu, apa hubungannya denganku?"

"Apakah Komandan tidak memberikan instruksi untuk mencari Fatih?" Ada nada berharap disitu. Serda Hasan benar-benar ingin agar Fatih segera ditemukan. Sedangkan dia tak bisa melakukan pencarian tanpa seizin Komandan.

"Ngapain harus dicari? Saya lebih suka dia menghilang. Biar saja! Biar tidak perlu kembali." Ferdinand tersenyum sinis.

"Komandan, saya jadi curiga sama Komandan."

Seketika wajah Ferdinand pucat. "Curiga tentang apa! Jangan mengada-ada kamu, Serda!"

"Jangan-jangan, Komandan yang telah mengirimkan makhluk ghaib yang berbentuk Tentara Merah agar menyelakai Fatih?"

Ferdinand tambah memucat dalam diamnya. Hingga suara seseorang di ruang kecil di dalam ruang Ferdinand menarik perhatian Serda Hasan.

Army With Love [SUDAH TERBIT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang