'Aku tak apa-apa, El. Aku rindu kamu, boleh kan? Selamat bertemu dua hari lagi di Jogja, semoga Allah masih mempertemukan kita, dan kuharap selalu mempertemukan kita, esok dan seterusnya.'
Sungguh, Ela tak sanggup berkata apa-apa saat mendapat jawaban itu dari Fatih. Harapannya yang hampir pupus itu mekar kembali.
Gadis itu segera menjawab pesan dari Fatih, namun urung saat ia benar-benar bingung apa yang harus ia katakan.
"Aku harus jawab apaan ini? Kira-kira kak Fatih nunggu aku jawab pesan nggak, sih?" Ela bimbang. Namun, ia juga takut jika Fatih menunggu pesan darinya. Ia tak mau membuat Fatih menunggu. Karena gadis itu tahu, bagaimana rasanya menunggu. Apalagi jika menunggu suatu hal yang tak pasti.
Jemari lentik Ela menari pada tuts-tuts keyboard ponselnya. Lantas segera mengirimkannya pada Fatih. Ia tersenyum.
***
"Ela sudah jawab pesan dari lo belum?" Riski mengambil posisi tidur tepat di samping Fatih.
Fatih menggeleng. "Belum, tapi tertulis mengetik terus dari tadi. Sepanjang apa sih yang dia tulis."
"Ciaelah ... yang pantengin terus history chat sama si doi," goda Tommi yang baru masuk ruang kesehatan itu.
"Darimana aja, Tom?" tanya Fatih yang seperti baru menyadari kedatangan Tommi.
"Habis nganter Regan sama Yoga ke kamarnya." Tommi menjawab enteng.
"Ngapain diantar segala?" Bingung? Ya, itu yang dirasakan Riski.
"Mereka tak berani?" timpal Fatih.
"Ada komandan di depan, mereka nggak berani keluar," jelas Tommi sambil mengambil posisi duduk di tepi ranjang yang Riski gunakan.
"Komandan? Bukannya dia tadi ada urusan?" Fatih seperti teringat suatu hal.
"Eh, iya juga ya." Tommi menepuk jidatnya, ia baru ingat akan hal ini.
"Sudahlah, tak usah dibahas." Riski menengahi, lantas menutup matanya perlahan.
'Drrt ... Drrt ...'
Ponsel Fatih bergetar. Raut wajahnya terlihat sumringah. Ela telah menjawab pesannya.
'Alhamdulillah kalau Kakak baik-baik saja. Bolehlah, siapa bilang tak boleh, Ela saja rindu sama Kakak, wkwk. Iya, Kak. Sampai bertemu 2 hari lagi disini, aku selalu menunggu Kakak. Dan Ela juga mengamini doa Kakak, semoga Allah selalu mempertemukan kita.'
"Yes!" Fatih berkata setengah menjerit. Membuat Riski yang hampir terlelap itu terbangun, lantas memukul Fatih menggunakan bantal yang menjadi sandarannya.
"Aww ...." Fatih mengusap kepalanya yang tak bersalah.
"Berisik lo, Tih! Gue ngantuk!" Riski memanyunkan bibirnya.
"Apa sih, Ris? Sewot amat sih lo sama si Fatih. Kapten lo ini." Tommi berdiri dari duduknya.
"Maaf lah, tapi jangan berisik, Tih. Gue lelah, gue ngantuk." Riski menguap.
"Iya-iya. Gue minta maaf juga, ya?" Fatih mengulurkan tangannya. Menepuk bahu Riski yang kembali memejamkan mata. Namun, si empunya bahu hanya menggumam.
Fatih mengetikkan balasan ke Ela.
'Aamiin. Tunggu aku ya, El. Ada yang mau aku bicarakan langsung sama kamu.'
Tak berselang lama, sebuah balasan masuk.
'Apa yang mau Kakak bicarakan? Kenapa tak langsung dibicarakan saja?'
'Tak enak jika harus dibincangkan lewat pesan, El. Tunggu saja, oke?'
'Siap, Kak. Aku akan selalu menunggu Kakak mengucapkan itu.'
KAMU SEDANG MEMBACA
Army With Love [SUDAH TERBIT]
عاطفيّةMereka dipaksa dekat. Mereka dipaksa melakukan sesuatu yang bahkan baru untuk mereka. Hanya karena keadaan yang tak memungkinkan mereka untuk memperjuangkan cintanya. Saat cinta yang telah diperjuangkan ternyata mengkhianati mereka cukup lama. Bukan...
![Army With Love [SUDAH TERBIT]](https://img.wattpad.com/cover/170609178-64-k927602.jpg)