Rasa Cinta

201 16 18
                                        

"Ela?" ujar Fatih lirih. Ia hampir tak percaya jika wanita yang tengah duduk di ruang tamu kamar hotel tersebut adalah Ela. Gadis yang begitu ia rindukan belakangan ini.

Ela tersenyum manis. Gadis itu lantas berdiri, diikuti gadis di sampingnya yang hampir saja dihiraukan Fatih.

"Kenalin, Kak. Ini sahabat aku, namanya Eva." Ela memperkenalkan sahabatnya itu.

Eva membungkukkan badannya. "Eva Paramadina, panggil saja Eva."

Fatih mengangguk hormat. Pasalnya, jika dilihat, gadis itu jelas lebih dewasa dari Fatih.

"Maaf, Kak." Ela tiba-tiba berujar setelah kembali terduduk.

Fatih menempatkan diri di depan Ela, lantas memicingkan alisnya. "Maaf untuk?"

"Maaf karena telah membuat Kakak khawatir."

"Tak apa, tapi siapa yang telah memberitahumu?"

"Kak Riski."

Fatih segera melirik Riski dengan pandangan mata ingin membunuh, sedang Riski hanya tertawa. Sebenarnya ia tak tega jika melihat sahabatnya begitu galau kali ini.

"Aku dirampok, Kak. Waktu keluar dari toko buku. Dompetku malah yang aman, sedang ponselku ada di dalam tas yang aku bawa, perampok itu mengambil tasku, Kak. Aku tak sempat mengejarnya."

"Ya sudah, tak apa, yang penting kamu selamat." Fatih tersenyum ramah. "Eh, lalu kamu mau pake ponsel apa?" sambungnya kemudian.

"Alah, Fatih. Bilang saja takut jauh dari Ela," goda Riski, membuat Fatih seketikan melempar bantal sofa yang tepat mengenai kepala Riski.

"Kurang tahu, Kak. Paling nunggu kiriman dari ayah dulu, tadi sempat ngabari pake ponsel Eva." Fatih mengangguk maklum.

Yoga keluar dari dapur. Di tangannya telah ada sebuah nampan dengan lima piring bubur ayam serta satu teko minuman dingin.

"Gelasnya mana, Ga?" tanya Regan saat tak melihat Yoga membawa gelas.

"Ya lu lah yang ambil. Nggak lihat apa tangan gue udah penuh kayak gini." Yoga menjawab sensi.

"Oke-oke, jangan marah-marah terus." Regan segera beranjak menuju ke dapur, mengambil lima gelas untuk mereka.

"Eh, baru mau makan, ya?" ucap Ela menyadarkan Fatih dari tatapannya yang sedang melihat tingkah laku rekannya.

"Eh, iya. Sejak shubuh tadi belum makan, El. Kamu mau?" tawar Fatih.

"Enggak, kami tadi sudah makan, kok. Kamu makan dulu saja tak apa, Kak."

Fatih mengangguk. Ia segera beranjak dari sofa dan duduk lesehan di samping temannya. Menghabiskan sarapan sederhana pagi itu. Sesekali netranya melirik Ela yang asik berbincang dengan sahabatnya.

"Kalau rindu bilang, jangan ditatap diam-diam. Nggak kasihan sama hatimu?" bisik Riski pelan.

"Percuma, kalau dia nggak rindu aku bisa apa?" Jawab Fatih pelan sambil menyuapkan bubur ke mulutnya.

"Dasar nggak peka, deh. Dia itu rindu sama kamu, nggak lihat binar matanya? Digebet orang baru tahu rasa lu. Regan sama Yoga tuh jomblo, awas aja jangan nangis kalau dia nggebet Ela." Riski berkata acuh tak acuh. Bahkan dia tak memperdulikan Fatih yang melotot ke arahnya. Sedang Fatih memukul pelan paha sahabatnya itu.

"Dih, kenapa?" ucap Riski sewot.

"Ucapan itu doa, kayaknya seneng banget deh kalau lihat gue jomblo terus, seneng banget kalau lihat gue galau." Fatih menyuapkan suapan terakhir.

"Ya lagian lu, sih. Belajar peka dong, Tih. Cowok itu dituntut untuk peka. Sebab apa? Karena kemauan cewek itu banyak, dan nggak semua kemauan ia ungkapkan langsung. Apalagi perihal rindu, sayang, apalagi cinta. Ia tak akan selalu mengumbarnya, Tih."

Army With Love [SUDAH TERBIT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang