Hay, gaes ... Setelah vote kemarin--walau memang cuma beberapa yang vote--, maka hari ini Author akan tetap melanjutkan cerita ini sampai tamat ya, dan InsyaAllah cerita akan dipublish dua hari sekali, syukur-syukur ya sehari sekali
Selamat Membaca
Salam Sayang, *sun jauh, wkwkwk 'Plaakk' Author kena gampar reader, wkwkwk
***
Fatih masih membiarkan tangannya mendekap erat tubuh Ela, begitupun juga dengan gadis itu yang enggan melepas pelukan erat lelaki yang baru saja menjadi kekasihnya itu.
"Jadi, kapan kita menikah?" ujar Fatih kemudian, membuat gadis yang sedang dipeluknya itu menjauhkan diri.
"Me ... menikah? Sebegini cepatnya?"
Fatih mengangguk cepat. "Iya, aku tak mau kehilangan cinta lagi, El."
Ela melepaskan pegangannya. "Tap ... tapi ... aku harus menyelesaikan studi aku terlebih dahulu."
Fatih tertawa renyah sambil menyentuh pelan hidung Ela. "Kau kan mahasiswi reguler, bukan sebagai mahasiswi penerima beasiswa, jadi tak ada aturan larangan untuk menikah, kan?"
Ela tersenyum. Percuma saja ia membuat alasan, karena lelaki di depannya kini sungguh jenius. "Baiklah, tapi menghadaplah pada kedua orang tuaku."
Fatih mengangguk mantap, lantas kembali membawa Ela dalam dekapannya.
***
"Mereka ngapain?" tanya Regan setelah menikmati keindahan alam itu–sendiri.
"Psstt .... Diamlah! Biarkanlah mereka menikmati waktunya, hanya berdua. Biarkanlah mereka saling menemukan pengobat hatinya yang patah. Serta biarkanlah mereka saling mengungkapkan perasaannya, tanpa rasa canggung lagi," ucap Riski panjang lebar.
"Dasar bucin!" jawab mereka serempak, membuat lelaki itu mendengus sebal.
"Dalam permainan drama dunia ini, terkadang kebucinan itu perlu digunakan." Riski lalu melenggang ke arah bibir pantai. Membiarkan jari kakinya terkena sapuan ombak. Lelaki yang telah bertunangan tersebut lantas berjalan mendekat ke arah sepasang sejoli yang saling mengungkapkan perasaan masing-masing dan kerinduan yang membuncah.
"Sudah?" ucap Riski singkat, membuat Fatih dan Ela terperanjat. Lelaki itu terkekeh. "Sudah melepas rindunya?" sambungnya kemudian.
"Apa sih? Nggak jelas deh." Fatih melepaskan pelukannya terhadap Ela.
"Jadi, kapan kalian menikah? Kapan kalian membuktikan pada mantan kalian kalau kalian pun dapat bahagia tanpa merebut milik orang lain? Dan buktikan juga pada mereka, bahwa menikah tak harus hamil duluan." Riski menampilkan deretan giginya. Sedang Fatih dan Ela saling menatap, lantas mereka tertawa bersama.
Fatih menarik Ela ke samping kirinya. Lantas melingkarkan tangan kiri pada pinggang kekasihnya. "Eh, situ tanya kapan kita menikah? Lha situ yang udah tunangan duluan, harusnya situ yang nikah duluan."
Riski menggaruk tengkuknya yang tak gatal tersebut. "Err, gue masih nunggu dana."
Fatih terkekeh. "Nggak-nggak, gue canda doang. Semoga dipermudah ya urusannya."
Riski mengangguk mantap. "Semoga dipermudah segala urusan kita."
"Dan semoga dipermudah masalah terror kemarin," timpal seseorang, membuat mereka bertiga mencari sumber suara.
KAMU SEDANG MEMBACA
Army With Love [SUDAH TERBIT]
RomanceMereka dipaksa dekat. Mereka dipaksa melakukan sesuatu yang bahkan baru untuk mereka. Hanya karena keadaan yang tak memungkinkan mereka untuk memperjuangkan cintanya. Saat cinta yang telah diperjuangkan ternyata mengkhianati mereka cukup lama. Bukan...
![Army With Love [SUDAH TERBIT]](https://img.wattpad.com/cover/170609178-64-k927602.jpg)