'Dek, itu yang komentar di foto lama kita Ela yang kamu tadi salah sebut, kan?'
Fatih memukul pelan kepalanya, ia terlihat berpikir sebentar, lalu mengetik balasan ke Aya.
'Iya, Kak. Cantik, kan?'
Fatih hanya iseng menggoda Kakaknya saja. Namun balasan Aya justru membuat Fatih terkejut.
'Iya, cantik kok. Lebih sholehah daripada Rita, kalau dilihat-lihat sih ... Pas Kakak nikah nanti, kamu sekalian aja nikah sama Ela.'
'Eits ... Pacaran aja belom udah suruh nikah-nikah aja.'
'Nikah dulu, dek. Pacaran setelah nikah itu lebih nikmat, wkwkwk.'
'Haha, udah dulu ya, Kak. Fatih ngantuk ....'
Fatih bangkit dari duduknya, menuju ke arah meja di sudut kamarnya. Ia mengambil charger yang telah tersambung dengan aliran listrik dan menyambungkannya menuju ponsel. Lalu, Fatih meninggalkan ponselnya dan beranjak tidur. Entahlah, malam ini terasa sangat lelah baginya.
***
Liburan Fatih ternyata telah selesai. Ia telah bersiap-siap dengan tas yang ia bawa waktu berangkat. Ponselnya masih terhubung dengan panggilan grup.
"Tih, udah berangkat belum sih lu?" Riski terdengar bersuara.
"Iya nih, dari tadi lu nggak ada suaraya, seakan-akan gue telpon pribadi sama Riski." Terdengar suara tangis bayi di seberang sana, seakan enggan melepas ayahnya yang harus kembali bekerja.
"Iya iya, gue udah selesai siap-siap nih." Fatih mengambil ponselnya yang tadi tergeletak di atas nakas. "Gue juga udah pesan ojek online tadi."
"Ehh, gaes ... Udah dulu ya, gue mau berangkat." Riski menutup telponnya. Kemudian disusul oleh Tommi.
Kini Fatih tersenyum simpul. Walaupun dalam waktu pesiar sekalipun, sahabatnya tak pernah melupakannya.
"Dit ... Dit ...."
Suara klakson motor terdengar nyaring. Fatih segera mengambil barangnya dan beranjak menuju ke ruang tamu. Ayah dan Ibunya sedang duduk santai disana. Bahkan beliau belum mengetahui bahwa Fatih akan berangkat siang ini.
"Fatih mau kemana?" Suara Ibu terdengar sedih. "Berangkat ya? Kok nggak bilang dulu?"
"Nak, udah mau berangkat? Kok nggak bilang dulu tadi malam?" Ayah ikut bersuara.
"Iya, Yah, Bu. Fatih mau berangkat. Tadi malam Fatih emang nggak bilang, soalnya kan Ayah sama Ibu habis seneng-seneng telponan sama Kak Aya. Aku takut ganggu kebahagiaan Ibu sama Ayah. Doakan Fatih saja, ya?" Fatih jongkok di depan Ayah Ibunya.
"Hati-hati ya, nak. Ayah Ibu akan merindukan kamu. Jaga kesehatan dan keselamatan ya." Ayah menepuk punggung Fatih.
Fatih mengangguk. Kemudian ia menyalami Ibunya. Sang Ibu hanya tersenyum tanpa memberikan wejangan seperti biasanya.
"Assalamualaikum." Fatih memberi salam sebelum akhirnya ia meninggalkan pelataran rumah dan menaiki ojeknya yang telah lama menunggu ini.
"Akmil, Pak." Bapak-bapak itu mengangguk dan memberikan helm nya pada Fatih. Memang dasar Fatih pelupa. Kan dia memesan lewat aplikasi ojek online, harusnya kan bapak itu sudah tau tempat yang dituju.
***
Ela menggeliat manja di atas single bed-nya. Mimpinya terlalu indah untuk diakhiri begitu saja. Ia bermimpi tentang sang pujaan hati. Ya, siapa lagi kalau bukan Fatih. Gadis itu kini menatap jam beker di sampingnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Army With Love [SUDAH TERBIT]
RomanceMereka dipaksa dekat. Mereka dipaksa melakukan sesuatu yang bahkan baru untuk mereka. Hanya karena keadaan yang tak memungkinkan mereka untuk memperjuangkan cintanya. Saat cinta yang telah diperjuangkan ternyata mengkhianati mereka cukup lama. Bukan...
![Army With Love [SUDAH TERBIT]](https://img.wattpad.com/cover/170609178-64-k927602.jpg)