"Fatih! Gue disini!" Fatih jelas mengenal suara familiar itu, siapa lagi kalau bukan Tommi.
"Tom! Lo dimana? Gue nggak kelihatan! Gelap ini!" teriak Fatih memastikan dimana keberadaan sahabatnya. Walaupun suasana mencekam, namun tak menyurutkan niat Kapten Infanteri tersebut.
"Uhuk ... disini!" Tommi melambai, walau ia sadar bahwa tempat itu gelap.
Fatih berusaha menyalakan senternya, lalu menyapukan pandangannya bersama dengan memutar senternya setelah senter berhasil menyala. Saat Fatih benar-benar telah memastikan sosok yang terduduk di bawah tumpukan meja tersebut adalah Tommi, lelaki itu lantas berlari, disusul oleh pasukannya beserta Serda Hasan.
"Kau tak apa?" Riski memastikan kondisi Tommi.
"Aku tak apa jika kalian ada di sampingku." Tommi tersenyum. Berusaha menahan sakit.
"Tenang, ya. Kami akan menurunkan beban yang menindihmu." Serda Hasan menepuk pelan bahu Tommi, lantas mulai mengangkat satu persatu meja yang menindihnya. Diikuti oleh Regan, Yoga serta Fatih. Sedangkan Riski terus menenangkan Tommi.
Meja terakhir telah berhasil terangkat. Ruangan pun kembali terang, lampu telah menyala kembali. Tapi, ini bukan lagi berada pada gudang bawah tanah. Melainkan ruangan kesehatan. Apakah ada hubungan diantara ruang kesehatan dan gudang bawah tanah?
***
"Va?" Ela memanggil singkat sahabatnya itu yang sedang fokus pada ponselnya.
"Hmm?" gumam Eva.
"Semalam aku mimpi, mimpinya aneh dan serem banget." Ela mengingat mimpinya semalam. Wajahnya terlihat sayu dan lelah.
"Memang kamu mimpi apa?" Eva mulai mengalihkan pandangan dari ponselnya.
"Fatih dalam keadaan bahaya di Akmil, ada sesosok yang tak suka keberadaannya." Ela menatap kosong.
"Dan Fatih kehilangan nyawanya gara-gara itu," lanjutnya.
Mereka berdua terdiam. Bahkan, kedua gadis itu tak bisa menafsirkan arti mimpi yang terjadi.
"Kau tak suka Fatih dengan pekerjaannya?" tanya Eva hati-hati.
"Bukan begitu, aku suka, karena aku pernah bermimpi mempunyai suami seorang tentara." Ela terdiam agak lama.
"Namun, aku bingung, apa maksud dari mimpi ini?" lanjut gadis berwajah sayu itu.
"Terkadang, mimpi itu hanya bunga tidur, atau sebatas hal yang sebelumnya kau pikirkan sebelum kau tidur, atau bisa jadi karena tubuhmu terlalu lelah, engkau bisa memimpikan itu." Eva tersenyum, mencoba menenangkan perasaan berkecamuk sahabatnya.
Eva terlihat mengotak-atik ponselnya. "2. Mimpi pacar meninggal. Tidak perlu takut, ini tandanya pacar Anda akan mendapatkan rezeki dalam hidupnya. Doakan dan dukung segala pekerjaan yang dilakukannya supaya berjalan lancar." Eva membacakan kutipan dari laman yang ia baca dari Google.
"Pacar? Emang dia pacarku?"
"Ya, bukan sih, El. Tapi apa salahnya mengaku bahwa dia pacarmu? Pokoknya, intinya disini, yang bermimpi orang lain meninggal itu artinya orang yang kau mimpikan itu bakal indah hidupnya."
Ucapan Eva berhasil membuat senyum di pipi Ela mengembang lagi.
***
"Kalian dari mana saja!" Suara itu terdengar sampai sepanjang lorong menuju ke ruangan Komandan Ferdinand.
"Baru saja resmi jadi pasukan Infanteri, sudah berani menghilang kalian, ya!" bentak Komandan Ferdinand.
"Kami tak kemana-mana, Ndan! Kami menyelamatkan Tommi!" Fatih mencoba membela pasukannya. Ia tak rela jika pasukannya dianggap remeh seperti ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
Army With Love [SUDAH TERBIT]
RomanceMereka dipaksa dekat. Mereka dipaksa melakukan sesuatu yang bahkan baru untuk mereka. Hanya karena keadaan yang tak memungkinkan mereka untuk memperjuangkan cintanya. Saat cinta yang telah diperjuangkan ternyata mengkhianati mereka cukup lama. Bukan...
![Army With Love [SUDAH TERBIT]](https://img.wattpad.com/cover/170609178-64-k927602.jpg)