Terkuaknya Misteri Akademi Militer

200 11 1
                                        

"Komandan, saya jadi curiga sama Komandan."

Seketika wajah Ferdinand pucat. "Curiga tentang apa! Jangan mengada-ada kamu, Serda!"

"Jangan-jangan, Komandan yang telah mengirimkan makhluk ghaib yang berbentuk Tentara Merah agar menyelakai Fatih?"

Ferdinand tambah memucat dalam diamnya. Hingga suara seseorang di ruang kecil di dalam ruang Ferdinand menarik perhatian Serda Hasan.

"Komandan?" Serda memanggil Ferdinand yang memucat. "Benarkah jika Komandan adalah dalang semua ini? Memalsukan tentang Tentara Merah?"

Ferdinand menegakkan kepalanya. "Kalau iya, terus apa masalahmu, Serda?" jawabnya dengan angkuh.

"Kau itu seorang Komandan! Bukan gini menjadi seroang Komandan yang baik!" Serda Hasan mulai emosi.

"Yang penting mereka masih menghormati ku, kan? Pun mereka masih menganggap aku ini baik hati." Ia tertawa sinis.

"Lalu apa motifmu? Karena masalah sepele, Ferdinand?" Serda Hasan merubah bahasanya menjadi informal.

"Jaga ucapanmu! Aku Komandan disini!" Ferdinand menunjuk wajah Serda di hadapannya.

"Saya hanya akan menghormati Komandan yang berperilaku baik, bukan seperti kamu!"

Suasana mulai menegang. Suara di ruangan samping pun semakin terdengar gaduh. Sejak Serda Hasan merasa ada yang tidak beres dengan ini, sebelumnya ia telah menelpon ponsel Tommi dan lantas memasukkannya ke dalam saku. Berharap Tommi masih mendengarkan pembicaraan tersebut sampai akhir nanti.

Ferdinand mulai duduk di kursinya. Mencoba untuk tetap tenang, padahal hatinya sudah benar-benar kacau.

"Kau mau apa?" ucapnya sambil menaikkan kedua kakinya ke atas meja kerja.

Serda Hasan menatap sambil tersenyum sinis. "Apa motifmu, Ferdinand?"

"Aku hanya tak suka kapten sok tahu segalanya itu memiliki hubungan dengan Ela. Dia tidak tahu siapa aku? Berani-beraninya mendekati gadis itu!" Ferdinand menggebrak meja dengan keras.

"Lalu? Sebenarnya siapa disini yang disalahkan? Fatih atau orang yang katanya Komandan ini? Hmm?? Bukankah kamu yang sudah merebut Rita dari Fatih? Mengajaknya berselingkuh? Membuat Rita hamil diluar nikah? Lalu baru menikahi setelah hamil empat bulan? Siapa disini yang salah?"

Ferdinand terdiam.

"Kamu bahkan sampai saat ini belum belajar dari kesalahan. Semakin didiamkan, semakin berulah. Setahu saya, kamu bahkan selalu iri dengan apa yang dicapai Fatih. Benarkan? Bahkan, gelar Komandan lebih cocok disandang oleh Fatih daripada kau, Ferdinand!" Serda Hasan menekankan ucapannya pada kalimat terakhir.

"Sebab sikap iri kamu, kamu bahkan rela menyembah setan demi menyingkirkan Fatih. Saya pastikan, setelah saya menyelamatkan Fatih dari ruang itu, lantas keluar dari ruangan ini, gelar Komandan mu akan segera dicabut."

Ferdinand menurunkan kakinya, lantas segera berdiri. Perlahan berjalan mendekat ke arah Serda.

"Tak kan kubiarkan itu terjadi." Ferdinand memegang dagu Serda Hasan. "Sebab yang tahu masalah ini hanya kamu, Serda yang sok bijak."

Tangan Ferdinand meraih sesuatu di sakunya, lantas mengeluarkan barang yang ia ambil. Sebuah pisau! Membuat Serda Hasan susah menelan air liurnya.

"Bahkan aku siap membunuhmu, Serda," sambungnya.

Serda Hasan mencoba tersenyum. "Baik, Komandan. Jika itu maumu. Bahkan kau akan dipenjara karena dua perkara. Pembunuhan berencana untuk Fatih, serta pembunuhan kejam untuk diriku."

Army With Love [SUDAH TERBIT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang