"GOBLOK!" umpat bang Satya
"kau ini mau lulus! Masih saja berulah mengurusi para gadis... Mikirrr!!! Rasanya ingin ku patahkan tulang tengkukmu! " tambah bang Satya.
Aku hanya tertawa saja melihat bang satya kesal pada Palo. Jelas saja, saat training pelayaran tempo hari, Palo pergi entah kemana. Ternyata... Ia pergi menemui gadis tarinya itu. Wkwkw, jelas saja Bang Satya kesal. Training pelayaran ini adalah salah satu syarat lulus kami, jika tidak mengikuti? Harus susulan sendiri tanpa pengawasan instruktur. Haha
"bantulah aku bang, aku tak mampu berlayar sendirian, aku kan hitam manis bang, nanti ada hiu yang naksir padaku bagaimana... Ayolah bang... " rengek Palo pada bang Satya. Membuatku semakin terkakak. :D
"alahh... Biarkan saja bang,, kau minta gadis tarimu itu buat nemenin kau berlayar sana... " timpal Hesa yang baru masuk kamar sambil mengeringkan rambut basahnya.
"sekali lagi kau berbuat bodoh demi perempuan! Ku patahkan semua sendi kau! " ujar bang Satya sambil meninggalkan kamar....
Flashback on
"ya. 03.00 WIB, kami berangkat dari Bali menuju Sumba. Saat hendak berangkat, aku dikabari bahwa Kapten Haris sedang dalam perjalanan ke Bali untuk ikit berlayar ke Sumba. Segera aku mengabarkan ini pada Kapten Agus. Kapten agus tak berkata apa apa, ia hanya tersenyum. " cerita bang Satya
Aku, Palo, Hesa, istri kapten Agus dan Diya mendengarkan Bang Satya dengan seksama.
"jadi,.. Kapten Haris itu menyusul bang? Kok bisa? " tanyaku
"entahlah..." jawab bang satya putus asa.
"2 jam setelah aku mendapatkan telpon itu, kapten Haris tiba di pesiar kami. Ia datang seorang diri, dengan koper abu abu. Kapten Agus menyapanya dengan memberikan penghormatan... Aku selalu saja curiga dengan semua tindakan kapten Haris, akupun mengatakan kecurigaanku pada Kapten Agus, namun kapten Agus hanya tersenyum dan berkata bahwa aku hanya harus menjaga diriku". Ungkap bang Satya
Bang Satya meneguk air putih dalam cangkir putih diatas meja.
"sampai pada malam harinya,,, wku merasa badai akan datang. Kapten Agus memerintahkan ku untuk mengamankan upeti, aku menuruti. Aku lantas berlari ke bawah dek, tempat upeti itu disimpan. Itu adalah hal yang paling aku sesali seumur hidupku. "kenapa aku harus ke bawah dek begitu lama... Dan meninggalkan bapak sendirian di kemudi".... " bang Satya tak kuasa membendung air matanya. Matanya melampau jauh ke kejadian maut itu.
"apa yang kau lihat saat kembali ke kemudi bang? " tanyaku
"badai tak terelakkan, seluruh awak kapal genting. Satu yang aku herankan, aku sama sekali tak melihat kapten Haris. Padahal ia ditugaskan di menara, harusnya ia ada diatas menara. Seketika kakiku melesat, aku berlari menuju kemudi. Jantungku berdegup tak karuan,..... Tak lama aku tiba di ruang kemudi, benar saja. Kapten Agus tak ada disana... "
Diya menangis dipelukan ibunya..
"sabar... Yang terjadi pada ayahmu bukanlah hal yang sia sia" ucap hesa pada Diya, dengan tatapan yangg........ Wahh,, aku tak pernah melihat Hesa selembut ini.
"lalu apa yang kau lakukan bang? " Palo bertanya kali ini
"aku masih dalam ruang kemudi. Lalu aku mendengar bunyi senapan tepat dibelakang ruang kemudi. Kakiku gemetar hebat, pikiranku sudah jauh hilang kemana. Yang aku pikirkan hanya satu,, diamana bapakk..... "
"senapan bang?," tanyaku
"ya. Aku lantas berlari menuju suara senapan itu. Tibanya aku di belakang ruang kemudi, kakiku terhenti. Rasanya nyawaku dicabut saat itu. Darah mengalir mengotori sepatuku.... "

KAMU SEDANG MEMBACA
HUJAN SORE ITU [Bersamamu Aku Terluka, Tanpamu Aku Tak Kuasa]
Ficción General~Dia bukan cintaku, tapi cinta orang lain. Aku hanya mengantarkannya pada tujuan....~