"Would you like some drinks?"Salah satu pramugari yang berwajah melayu menawari mereka berdua minum,
"nee non chai, chan ca mii nasoom." Jawab Razi,
"Khun phud phas a thai mai?" Pramugari tersebut keheranan,
"Nid noi." Razi menurunkan kembali meja lipat, Pramugari tersebut menuangkan segelas jus jeruk beserta es batu.
Tami yang tertidur di pelukannya tersenyum kecil, daritadi matanya susah terpejam, tapi tubuh hangat dan bau khas Razi membuatnya ingin selalu ada di dekapan lelaki itu. Pikirannya melayang ketika pertama kalinya mengenal Razi...
Tujuh bulan yang lalu,
TING!
Ada whatsapp masuk, ketika nama yang sangat dia hormati terlihat di layar, Tami langsung menyudahi pekerjaannya di laptop,
-Assalamualaikum Tami, lagi sibuk kah?-
-Waalaikumsalam Ce, ngga kok, lagi ngedit laporan aja-
-Alhamdulillah, gimana betah gak di kantor baru?-
-Alhamdulillah, makasih ya Ce buat rekomendasinya, aku suka pekerjaan yang sekarang-
-Syukur alhamdulillah, oh iya Tam, Cece cuma mau kasih tau, ada beberapa CV baru yang masuk ke email, mau diliat gak?-Jempol Tami tertahan di layar. Sebenarnya untuk saat ini dia ingin fokus pada pekerjaan barunya sebagai kepala tim Marketing di salah satu perusahaan konstruksi, tapi Tami sangat menghormati Cece Ling, guru ngaji sekaligus murabbinya sejak dia mulai bergabung di pengajian komunitas muallaf. Walaupun sudah islam dari kecil, namun dia terkesan dengan semangat mengaji para muallaf yang bersemangat sekali mendalami islam.
-Hmm boleh deh Ce, kapan aku bisa liat?-
-Besok lusa bisa ke rumah Cece?-
-Oke bisa, sekalian kajian?-
-Kajian ditunda dulu, A Ma lagi sakit, Koh David lagi bawa jamaah-
-Oke kalo gitu, sampai besok lusa ya Ce insha Allah-
-Oke sayang, Assalamualaikum-
-Waalaikumsalam warahmatullah-Tami menghela napas, dia lalu melanjutkan laporannya yang tertunda, besok dia harus menyerahkan laporan itu sebelum presentasi tim jam delapan pagi.
Rumah Cece Ling, BSD.
"Yang ini lumayan Tam sebenernya, cuma Cece ragu sama kerjaan dia, menjurus ke syubhat. Ini juga bagus sih, tapi yaa itu harus liat dulu aslinya, ini juga bagus, ini juga, ini juga"
Rasanya sudah sekitar dua puluh CV yang bertebaran di meja kerja Cece Ling, tapi belum ada yang pas menurut Tami,
"Yeee kalo bagus semua sih susah Ce," Tami tertawa melihat murabbi nya bersemangat memilah memilih CV dari para ikhwan yang ingin ta'aruf.
"Katanya cuma beberapa Ce, kok banyak amat?"
"Sebenernya yang masuk di email cuma setengah, tapi ternyata ada banyak juga yang nyangkut di spam, sekalian deh" kata Cece Ling menyeruput teh nya pelan,
"Ce, itu apa di bawah?" tunjuk Tami, ada sehelai kertas yang tersangkut diantara kertas kosong di bawah printer, yang menarik, ada foto ikhwan disana,
"Laahh kok bisa-bisanya gak keambil, ini juga masuk antrian Tam, bentar, oohh si Razi" Cece Ling membaca kertas CV itu sekilas, "Dia partner bisnis Koh Ahong, emm tapi sebenernya dia masuk standar sih"
Tami membaca CV yang sempat terselip itu dengan seksama. Ganteng juga, pikir Tami, sekilas wajahnya mirip Mario Lawalata dengan jenggot panjang khas ikhwan.
"Kuliah komunikasi di Bandung, lulus lama karena kerja dulu, sekarang tinggal di pesantren karena mau memperdalam ilmu agama dan belum punya rumah... jujur amat Ce," komentar Tami,
"Emang gitu orangnya, cuek, tapi aslinya baik banget, sopan lagi" kata Cece Ling sambil merapikan kertas-kertas CV di atas meja.
"Hobi baca dan suka anak kecil" Tami melanjutkan membaca, "Wuih, dia lancar 4 bahasa Ce?"
"Ngakunya segitu, aslinya lebih" Cece Ling ikut membaca CV yang Tami pegang, "Kalau dari segi akademik sama harta, dia masuk level biasa dibanding apa yang ada di meja Cece ini, cuma ada beberapa hal yang unik dari Razi, Cece kasih bocoran ya, A Ma aja sayang banget sama dia, padahal baru ketemu beberapa kali"
Bersambung
