Part 17

1K 53 9
                                    

Rozak baru saja keluar dalam keadaan kenyang dan segar dari tenda penjual nasi uduk di luar gerbang rumah sakit. Akhirnya dia bisa makan setelah menunggu Emak berjam-jam dari semenjak menjemput di TKP hingga mengantar ke IGD. Dia agak segan meminta uang kepada Ateu Farah yang terkenal pelit di kalangan keluarga. Tantenya itu pun baru mau berangkat menjemput Emaknya setelah dia memohon dan meyakinkan bahwa di rumahnya sedang tidak ada kendaraan dan dia sama sekali tak punya uang.

"Bungkus kali ya buat Aa sama Teteh," Katanya kepada diri sendiri, biasanya jika kakaknya sudah memberikan uang, tanpa menunggu hingga esok hari uang itu pasti ludes, namun Rozak agak kaget ketika Razi lah yang pertama kali muncul di rumah sakit. Padahal setahu dia kakak tertuanya itu sedang bulan madu di Thailand, beda sekali dengan Teh Salwa dan Aa Rifki yang sampai detik ini batang hidung mereka belum kelihatan, padahal mereka punya kendaraan bahkan sopir pribadi,
"Ibu punten, bungkus dua nu komplit nya." Rozak kembali ke tenda dan memesan dua porsi, dengan cepat Ibu pemilik warung menyiapkan pesanannya. Setelah membayar seharga dua puluh lima ribu. Rozak bergegas menuju lobby rumah sakit.

Langkahnya tertahan, dari kejauhan, dia melihat ajengan Imron sedang bersalaman dengan kakaknya, namun seperti terlihat Razi sedang memberi pelajaran kepada ajengan genit itu. Rozak berseru riang dalam hati, walaupun dia sendiri kaget melihat tatapan Razi yang sangat dingin, membuat si ajengan tak berani menatap langsung. Semenit kemudian ajengan itu berjalan menuju parkiran sambil memegangi tangannya yang merah. Dia menaiki bus pengganti dari PO yang sudah siap berangkat. Tak lama kemudian, bus yang penuh dengan jamaah pesantren ajengan Imron itu keluar dari lapangan parkir rumah sakit menuju makam salah satu syekh yang katanya dulu dipercaya sebagai orang sakti mandraguna.

Dasar bebal! udah tau masih pada luka bukannya pulang malah nyembah kuburan! umpat Rozak, dia berlari menuju kakaknya yang sedang berbicara dengan Ateu Farah sambil memberikan beberapa lembar uang seratus ribu.
"Makasih yah Ateu udah nemenin Emak." Kata Razi,
"Makanya Raz, punya orang tua teh diurus, supaya gak keluyuran kemana-mana, kan kalau kayak gini Ateu yang repot. Yuk Zak pulang, Ateu anter sampe rumah." Ateu Farah mengeluarkan kunci mobil Xenia nya,
"Nggak usah, Rozak pulang sendiri aja nanti." Kata adik Razi yang tingginya hampir sama dengan kakak tertuanya itu,
"Bener? Awas nyasar, yaudah assalamualaikum."

Razi, Tami dan Rozak membalas salam Ateu Farah ketika mobilnya keluar gerbang rumah sakit. Razi menghela napas panjang, mereka bertiga duduk di kursi pekarangan rumah sakit, Razi merenggangkan kaki dan tangannya untuk melepas lelah,
"A, Teh, ini makan dulu, pasti pada laper kan." Rozak menyodorkan bungkusan nasi uduk yang tadi dia beli, tanpa disuruh dua kali, kedua pengantin baru itu menikmati nasi uduk pemberian Rozak dengan lahap.
"Duh makasih Zak, Aa belum sempet makan lagi dari tadi pagi." Kata Razi setelah jatah nasinya habis, begitu juga Tami yang menutup makannya dengan hamdalah khidmat.

"Tadi si Imron Aa apain?" Rozak merasa tidak perlu memanggil
orang itu dengan sebutan "kyai" atau "ajengan".
"Kelepasan aja, dikitt." Jawab Razi sambil tertawa, "Bentar Zak, kenapa gak pulang bareng aja sama Ateu tadi? bukannya bisa lebih cepet?"
"Gak ah A, males denger Mak Lampir ngedumel dua jam, entar gampang pake bus aja A." Kata adiknya sambil mengabari soal Emak mereka di grup whatsapp keluarga,
"Serius Zak? udah malem ini." Razi agak khawatir, walaupun sudah kelas dua SMA, baginya Rozak tetap adik kecil yang dulu dia gendong kemana-mana,
"Iya A gapapa beneran, udah biasa kok, Aa sama Teteh pulang lagi aja ke Bintaro, tapi.. minta ongkosnya yah A, hehehe." Rozak nyengir kuda, menimbulkan setetes keringat sebesar apel di belakang kepala Razi,
Dasar, batin Razi, dia mengeluarkan uang tujuh ratus ribu dari dompetnya,
"Wiihh banyak, serius ini buat Rozak?" Tanya adiknya tak percaya,
"Ya ngga lah, ambil tiga ratus buat ongkos, dua ratus lagi buat jajan seminggu Angga sama Dijah, sisanya buat bayar listrik, nih" Razi menyodorkan uang itu kepada adiknya,
"Yaahh kirain, baru aja seneng pingin beli jeans." Ujar Rozak,

Love of My LifeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang