Bab 28 : Paper

233 17 0
                                        

.
.
.
.
.
.
.
.
.
.

Jungkook berlari sekuat tenaga, melewati semua lorong di kediaman Yoongi, selain mewah, rumah milik Yoongi lumayan besar. Banyak barang mahal dan langka terpajang rapih di setiap sudut ruangan, vas, lukisan, jam dan barang langka lainnya. Sepertinya barang barang itu sudah lebih tua dari Yoongi sendiri.

Jungkook melihat kanan dan kirinya saat sudah menaiki tangga, ke lantai atas. Dia sudah tidak bisa berpikir lama lagi, dia berbelok ke kanannya, berlari lagi, berhenti di depan sebuah kamar. Dia mengontrol nafasnya, membenarkan bajunya lalu perlahan mengetuk pintu itu.

    "Hyung! Kau di dalam?" Dia meletakan telinganya di pintu.

    "Ya! Masuklah!" ucapnya di dalam.

Jungkook membuka pintunya lebar lebar, di dalam J-Hope, Jimin dan Yoongi yang sedang duduk menatapnya. Jungkook menelan salivanya, dia masuk ke dalam. Menutup pintu kemudian.

    "Ada apa?" tanya Yoongi seraya meneguk minumannya.

    "Hei? Darimana kau! Aku menunggumu! Aku mau mengajakmu main kartu," Jimin bangun mendekati Jungkook, dia merangkul Jungkook yang sedang dalam keadaan tidak baik baik saja itu. Pikirannya tidak ada di sana.

    "Hah? Kau tidak tahu? Paling dia sedang membuat seni di mayat mayat itu, lagian beberapa minggu ini Yoongi memberikan banyak pekerjaan padanya. Aku yakin rekeningnya sekarang sedang penuh," J-Hope menuangkan wine ke gelas Yoongi yang kosong. "Hei! Traktir aku ya,"

Jungkook melepaskan tangan Jimin. "Hyung! Kita semua dalam bahaya!"

    "Dalam bahaya? Maksudmu seperti apa?" Yoongi menyisir rambutnya dengan jemarinya.

Jungkook meletakan tasnya di lantai, membukanya lalu mencari sesuatu di sana. Jungkook memberikan dua buah kertas pada Yoongi. Membuatnya terkejut.

    "Ini! Kau dapat dari mana?" hardik Yoongi.

    "Itu---aku hanya,"

    "Ada apa Hyung? Kenapa marah?" Jimin mendekat, merabut dua kertaa di tangan Yoongi. "Ini Fotoku dan J-Hope hyung! Dari mana kau dapatkan ini?"

    "Apa? Fotoku?" J-Hope bangun, berdiri di samping Jimin. Melihat kertas yang di pegang Jimin. "Benar! Ini aku dan kau? Bagaimana bisa? Darimana kau dapatkan?"

    "Kenalan Chaerim memberikan ini padaku! Dia seorang polisi, dia bilang dia mengikuti kita saat di jalan Daegu kemarin, sepertinya Hyung Jimin dan J-Hope dalam bahaya! Bagaimana ini Hyung!"

    "Hyung! Jangan khawatirkan kami! Kami berdua baik baik saja. Jungkook tapi yang penting hanya ini,kan? Tidak aka foto Yoongi hyung?" Jimin mengangkat dua lembar foto itu.

Jungkook mengeleng. "Aku tidak tahu pasti Hyung! Tapi kenalan Chaerim hanya memberikan itu padaku, dia bilang aku harus memberitahukan keberadaan kalian jika aku melihat salah satu dari kalian. Hyung aku mohon lebih baik kalian berdua bersembuyi, kalian sudah jadi buronan,"

    "Tidak perlu!" Yoongi mendekati mereka bertiga. Merebut kertas itu. "Tidak ada yang perlu bersembunyi, tidak ada yang jadi buronan! Kita sudah satu, jika salah satu jadi buronan semua menjadi buronan! Jimin, J-Hope! Jangan takut, aku akan melindungi kalian sebisaku! Ini hanya selembar foto, lagi pula tidak semua orang sudah melihat wajahmu,"

Jimin dan J-Hope serentak menganguk setuju. Lalu tiba-tiba Yoongi merobek kedua kertas itu, memasukannya ke dalam tempat sampah. Pergi dari sana.

    "Jungkook! Terima kasih atas infonya! Aku ada pekerjaan lain, aku harus mebgikuti Yoongi Hyung! Aku duluan!" Jimin menepuk bahu Jungkook, lalu pergi mengikuti Yoongi.

Jungkook menatap J-Hope. "Ya! Kau tahu, aku harus pulang! Kau masih ada pekerjaan yang belum selesaikan di sini! Selesaikan cepat! Aku akan masak di rumah,"

J-Hope pergi, meninggalkan Jungkook di dalam sana. Dia menghela nafas kasar. Mengacak-acak rambutnya.

Maaf hyung! Aku tidak bisa memberitahukan kalian jika Chaerim punya kakak laki-laki!

♣️♥️♦️♠️

Namjoon berjalan di depan lobi kantor kepolisiannya. Membagikan selembar ketas bergambar orang yang dia foto beberapa hari yang lalu pada orang yang lewat.

    "Kalau kau lihat dia kau bisa hubungi nomor itu." Namjoon membungkuk. "Gamsahamnida!" (Terima kasih)

    "Ya! Kau serius dengan ini? Pak Jack tidak akan memarahi kita,kan?" Seokjin menyengol Namjoon, berbisik padanya. "Kau tahu! Tadi aku lihat Mingyu menatapku tajam, sepertinya dia tidak suka jika kita membagikan ini pada orang orang,"

Namjoon berdecak. "Hyung! TIM WOLF sudah berjaya sangat lama. Bulan ini biarkan kita berjaya, abaikan saja mereka. Mereka itu pasti sudah merencanakan sesuatu agar menggagalkan rencana kita untuk menangkap ketua mafia itu! Dan Pak Jack tidak akan memarahi kita! Aku jamin itu,"

    "Ya! Terserah kau"  Seokjin kembali membagikan tumpukan kertas di tanganya. Namun matanya memincing, melihat objek di depannya. "Ya! Taehyung! Kau perlu aku habisi! Bagikan cepat! Kau bisanya hanya mengangu orang,"

    "Ok Ok!" Taehyung memdekat setelah tertangkap basah sedang mengoda seorang pengunjung di dekat resepsionis. "Aku sangat lelah Hyung! Aku ingin pulang,"

Seokjin tidak mendengarkan Taehyung dia tetap membagian selembaran itu dengan senyuman bak malaikatnya itu.

    "Tae? Kau mengantarkan Chaerim sampai rumah,kan kemarin? Tidak terjadi apa apa,kan?" Namjoon mendorong Taehyung dengan bahunya. "Dia sedikit aneh kemarin! Dia selalu marah marah padaku,"

    "Aku mengantarkannya sampai rumah! Tidak ada lecet atau sakit di hati! Aku menjaganya dengan sepenuh hati!"

Namjoon melihat Taehyung curiga. "Kau tidak melakukan apapun padanya,kan? Seperti memeluknya?"

Taehyung membulatkan matanya. "Hah? Memeluknya? Ah! Ahaha tidak, tidak! Mana mungkin,"

    "Baik! Apa kemarin Chaerim bertemu seseorang?"

Taehyung menyentuh dagunya. "Ada satu orang. Namanya Jungkook!"

    "Jungkook? Ah! Temannya dari SD!"

    "Benarkah? Kau sudah mengenalnya?"

    "Oh? Tidak Chaerim bilang padaku seperti itu! Kemarin dia datang ke rumahku, belajar bersama dengan Chaerim," Namjoon memberikan selembar kertas pada ibu ibu yang melewatinya.

    "Apa? Kau serius?" tanya Taehyung yang sedikit tidak percaya.

    "Iya! Kenapa memangnya?"

Taehyung mendekat ke Namjoon. Berbisik. "Aku sedikit curiga pada teman Chaerim yang bernama Jungkook itu. Kau tahu kemarin aku bertemu denganya, tangannya di lumuri oleh darah,"

    "Darah? Dia terluka?"

    "Entahlah tapi darah itu sempat mengenai tangan Chaerim, saat aku mencium darah itu itu darah manusia," Ucap Taehyung di lebih lebihkan.

    "Ishh! Itu darahnya! Makanya darah manusia! Kau pikir dia apa?"

Taehyung menghela nafas. "Kau itu! Aku hanya curiga jika siswa bernama Jungkook itu adalah pembunuh sadis yang sedang marak bulan bulan ini, dan darah yang ada di tanganya, itu membuatku curiga,"

Namjoon mengeleng. "Sudah lah! Cepat bagikan selembaran itu! Sampai habis! Lalu aku akan kembali menungu informasi dari haeker yang baru! Ngomong-ngomong kau lihat B.I? Setelah dia memberitahukan tentang waktu transaksi semalam, dia belum terlihat?"

    "Kenapa kau tanyakan padaku? Melihat wajahnya saja aku muak! Perlu kau tahu aku masih curiga padanya! Aku yakin dia pasti sedang memata-mati Chaerim sekarang!"

Namjoon memukul kepala Taehyung. "Kau itu selalu menuduh! Cepat bagikan! Atau kau akan merasakan hukuman dariku,"

    "Ya! Ya!"

FAKE LOVE (TAMAT) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang