Bab 2 : Leader Bad

1.5K 78 0
                                        



Tangan Namjoon menekan gagang pintu rumahnya ke bawah, mendorong hingga terbuka sepenuhnya. Di dalam semuanya terlihat sunyi, hening, terlihat tidak ada tanda tanda kehadiran seseorang di dalam. Dahi Namjoon mengerut, merasa ada keanehan di dalam, tanpa memberi salam dia langsung masuk ke dalam, tanganya menyentuh pistol yang terbungkus di pinggang kanannya, berjalan tanpa suara namun dia tetap waspada.

Semuanya masih terlihat aneh di mata Namjoon, saat di depannya terdapat belokan kearah kamar, Namjoon semakin waspada. Tangan Namjoon membuka penutup pembungkus pintolnya, menyentuh gagang pistol, dengan cepat dia langsung mengarahkan pistolnya ke arah pintu kamar.

"Aaaaaa!" Sebuah baju mendarat tepat di wajah Namjoon, membuat seluruh wajah Namjoon tertutup. "Bang Namjoon! Kebiasaan! Kalo dateng nggak pernah ketuk pintu! Minimal salam kek!"

Tangan Namjoon menyingkirkan baju yang menutupi wajahnya, melemparnya sembarang. "Di sini yang salah siapa? Dimana pake baju atau buka baju tuh di kamar mandi! Bukanya di kamar, udah gitu di buka lagi pintu kamarnya! Nanti kalo ada maling atau perampok gimana? Bukan cuman barang kita yang di ambil, keperawanan lo juga di ambil!"

"Bodo yah! Ini di rumah! Suka suka gw! Mau gw buka baju di mana di kamar mandi kek! Di kamar gw kek!" Namjoon hanya mengelengkan kepalanya. "Lo liat apa aja tadi?"

Seketika mata Namjoon ke arah langit langit rumahnya. "Mungkin gw liat warna putih,"

"Bang Namjoon!!!! Kesel banget gw sama lo! Dasar tukang intip! Biarin aja nanti mata lo bintitan!" Pintu kamar langsung terbanting keras dan Namjoon yang tertawa kecil seraya pergi ke arah dapur. Tangannya membuka kulkas dan mengambil air mineral lalu meninumnya hingga setengah.

Namjoon pergi ke ruang keluarga menghempaskan tubuhnya di sofa lalu menyalakan televisi dengan volume keras. Seorang datang dan merebut remot tv yang di pegang Namjoon, mengantinya ke saluran lain. Namjoon hanya bisa mengeluh.

"Tumben lo pulang? Biasanya seminggu lagi, minggu besok lagi, bahkan sebulan. Mungkin nggak pernah pulang," ucap jujur perempuan di samping Namjoon seraya menyantap kripik yang dia bawa.

Namjoon menatapnya. "Lo nggak suka gw pulang?" Tangan Namjoon bergerak mengambil kripik yang perempuan itu makan, tapi bukan kripik yang Namjoon dapatkan melainkan sebuah pukulan darinya.

"Apaan sih lo? Beli sana!"

"Pelit banget sih lo, Chaerim! Nanti gw beli sedus! Pabrik pabriknya gw beli," Chaerim hanya memeletkan lidahnya, dia tidak akan percaya ucapan laki-laki di sampingnya. "Gw pengen pulang makanya gw pulang! Lo bukanya nyambut gw, kasih gw makanan kek, minuman kek, pijitin nih bahu gw! Pegel,"

Chaerim meletakan bungkusan kripiknya di meja, menatap Namjoon kesal. "Lo pikir gw babu lo apa? Dimana mana harusnya lo yang minta maaf ke gw! Lo udah ngintip gw kan tadi! Kalo lo nggak minta maaf, gw yakin besok mata lo bintitan!"

"Helloo! Adik yang keras kepala dengan IQ yang lebih rendah dari gw. Lo pikir gw mau intip lo, sekarang gini! Ngapain lo buka baju di kamar? Nggak di tutup lagi. Gw ingetin ya sama lo, gw polisi, gw udah banyak dapet kasus perempuan yang di perkosa di rumah sendiri. Kalo tadi yang intipin orang lain, mungkin sekarang lo lagi teriak teriak minta tolong,"

"Yayaya!" Chaerim kembali mengambil kripiknya, menyantapnya dan menganti chanel televisinya. Namjoon menghela nafas.

Chaerim masih marah padanya, sudah enam hari Namjoon tidak pulang ke rumah bahkan meninggalkan Chaerim sendirian di rumah. Sebagai polisi pulang terlalu sering bisa mendapat surat peringatan dari atasanya, lagi pula sudah dua minggu ini kasus tentang penangkapan bos mafia kelas kakap itu belum selesai, bahkan Namjoon sama sekali belum pernah melihat bos mafia itu sendiri. Dia hanya melihatnya di foto, bos mafia itu juga mengunakan kacamata, tidak terlalu jelas.

FAKE LOVE (TAMAT) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang