Namjoon berlari saat mendengar suara benda jatuh dari kamar Chaerim. Acara televisi kesukaannya bahkan dia tinggalkan begitu saja. Chaerim lebih penting, setelah dua hari Chaerim enggan keluar dan berbicara denganya. Namjoon lebih khawatir dari apapun. Seokjin bilang padanya dia harus menghibur Chaerim, trauma yang Chaerim dapatkan pasti menbuatnya sedih. Tapi bagaimana Namjoon ingin menghibur jika membuka pintu kamarnya saja Chaerim tidak mau, apa lagi berbicara atau menghiburnya.
DOR DOR DOR
"Chaerim buka pintunya, ada apa denganmu! Kau baik baik saja!" Namjoon memutar gagang pintunya mendorongnya, mengetuk sampai memukul pintu kamar. Dia takut, apa ada penyusup masuk ke kamar Chaerim?
Saat Namjoon memukul pintu ketiga kalinya kemudian terdengar suara pintu di buka dari dalam. Namjoon menunggu pintu terbuka. Saat pintu terbuka Namjoon langsung mendapatkan serangan dari Chaerim, Chaerim langsung berlari memeluknya tangisanya pecah di sana. Dia terseguk dan terisak sedih. Pelukannya pada Namjoon bergitu erat sembari tanganya yang gemetar. Namjoon terkejut setengah mati selain mendapatkan pelukan adiknya yang sudah lama tidak dia rasakan itu keadaan adiknya yang sangat menyedihkan itu membuatnya ingin menangis. Tapi laki-laki tidak boleh menangis di depan perempuan,kan?
"Dek! Kenapa? Ada orang masuk ke dalam kamar kamu?" Namjoon menyentuh tangan Chaerim yang gemetar hebat. Dia menuntun Chaerim kembali masuk ke dalam kamar, sebari matanya berkeliling takut jika benar ada orang yang masuk ke dalam.
Namjoon melepaskan pelukan Chaerim, mendudukannya di kasur. Namjoon berlutut di hadapan Chaerim, menyeka air matanya. "Adek! Sudah ya! Nangisnya udah dulu, sekarang cerita kenapa kamu nangis kaya gini,"
Namjoon beralih melihat ke arah makanan yang dia letakan di meja, dan terlihat penyebab suara benda terjatuh yang dia dengar tadi. Gelas berisi susu yang di letakan di sana jatuh, pecahannya berserakan kemana mana bercampur dengan susu putih. Namjoon bangun, dia membersihkan gelas itu lalu membuangnya ke tong sampah. Namun saat dia kembali lagi di hadapan Chaerim dia malah mendapatkan kaki Chaerim berdarah.
"Cha! Kamu nggak bilang kalau kena beling! Abang ambil obat dulu,"
"Jangan!" Tahan Chaerim seraya menarik tangan Namjoon. "Jangan pergi, di sini aja!"
"Tapi kaki kamu, dek! Nanti infeksi!" jelas Namjoon, lukanya lumayan panjang, makannya Namjoon benar benar khawatir.
"Biarin! Pliss jangan pergi! Di sini aja! Aku takut,"
Namjoon menghela nafas. "Abang nggak bakalan pergi, abang cuman mau ngambil obat. Abang nggak mau liat kamu luka lagi."
Namjoon tanpa ragu pergi mengambil obat, Chaerim hanya diam, kembali bergetar seraya melihat sekelilingnya sampai Namjoon kembali. Namjoon duduk di tepi ranjang, menaikkan kaki Chaerim yang di bawahnya dia letakan bantal. Namjoon mengeluarkan obat merah, lalu mulai menempelkannya di kaki Chaerim.
"Ah! Sakit!"
"Maaf dek!" Namjoon mulai menempelkan kapas berisi obat merah itu dengan pelan di kaki Chaerim. Namun rintihan kembali keluar dari mulut Chaerim.
"Bang! Aku takut!" celetuk Chaerim.
Namjoon mengganti kapas baru, lalu menempelkannya di kaki Chaerim. "Ada abang! Jangan takut!"
"Aku nggak bisa nahan ini lagi. Aku benar benar takut!" Chaerim menutup wajahnya lalu kembali menangis. "Aku cuman mau makan makanan yang abang taruh tadi, tapi bayangan mereka tiba-tiba muncul aku takut,"
Namjoon mendekat setelah selesai membalut kaki Chaerim dengan perban, dia memeluk Chaerim, mengelus kepalanya. "Dek! Cerita ke abang apa yang mereka lakukan sama kamu, ini bukan kemauan abang tapi ini untuk bukti buat persidangan nanti saat mereka di tangkap. Ini buat memberatkan mereka biar hukuman mereka tambah berat, semakin lama mereka di penjara semakin bagus,"
Chaerim melepaskan pelukan Namjoon. Dia menunduk. "Abang pasti kenal Zico!"
"Zico! Dia yang melakukan hal ini padamu!"
Chaerim menganguk. "Dia yang menyekapku tapi bukan dia yang membawaku pada Zico," Chaerim menatap Namjoon. "Abang jangan kaget, tapi B.I oppa yang membawaku kepada mereka."
"B.I? Tapi bagaimana bisa?"
"Aku benar benar tidak mengerti tapi memang kejadiannya seperti itu, saat aku sudah membeli hadiah untuk ulang tahun abang dia menyuruhku untuk datang ke rooftop apartemennya dan saat itu dia menyatakan perasaannya padaku. Aku menolaknya tapi yang aku dapatkan malah di bawa oleh lima orang pria berjas hitam. Lalu membiusku dan saat sadar aku sudah berada di sebuah kamar, dia atas ranjang. Tanganku di borgol,"
Chaerim kembali menunduk, seperti tidak sanggup melanjutkan ceritanya. "Dek! Abang tidak memaksamu untuk melanjutkannya. Kalau kamu trauma abang ngerti,"
"Nggak bang! Mereka benar benar menyeramkan! Zico memaksaku untuk menikah denganya, dia menyiksaku, memaksaku agar menurut dengannya. Dia bahkan membunuh B.I Oppa! Aku benar benar tidak mengerti. Saat itu, pengawal Zico mereka membunuh B.I Oppa di depanku. Di depan mataku, aku melihat B.I Oppa mati dengan kepala mataku sendiri"
"Chaerim, kau serius dengan yang kau katakan,"
Chaerim menghela nafas. "Bukan itu saja, dia melecehkanku. Bahkan setuhan yang Zico lakukan pada tubuhku masih terbayang sampai saat ini. Dia memukulku, menampar dan memperlihakan pembunuhan teman abangku sendiri. Ini benar benar gila. Aku sangat takut, aku takut bertemu dengan Zico lagi,"
"Aku tidak bisa memasukan B.I dalam penjara, mayatnya sudah di temukan kemarin."
Chaerim membulatkan matanya. "Dimana? Benar sudah di temukan?"
Namjoon menganguk. "Ya, di dekat sungai cafe Bagetteu."
"Zico benar benar serius. Dia mengatakan padaku jika dia akan membuang mayat B.I ke sungai. Dan sekarang...." Chaerim kembali menangis lagi, Namjoon kembali harus menahan rasa sedihnya. Dia ingin menenangkan Chaerim, tapi Namjoon merasa payah. "Aku takut, aku benar benar takut! Rasanya ingin mati saja,"
Namjoon tanpa ragu tiba-tiba memeluk Chaerim. "Jangan mengatakan hal-hal aneh. Aku masih ada di sini untukmu Chaerim, aku akan melindungimu sebisa abang. Tolong jangan mengatakan hal itu,"
"Bang! Hal yang paling mengerikan di sini adalah Zico ketua mafia itu dia sekelas denganku, dia sekolah di sekolahanku,"
Namjoon membulatkan matanya, dia mendorong Chaerim, menatap Chaerim. "Apa? Dia sekelas dengamu! Tapi bukannya setahuku dia sepertinya sudah berumur dua puluh atau dua puluh satu tahun. Bagaimana mungkin dia bisa masuk ke sekolahanmu?"
"Aku tidak tahu pasti kenapa tapi Zico pasti akan memaksaku lagi di sekolah nanti. Makanya aku takut jika aku sekolah, aku ragu ragu."
Namjoon mengeleng. "Tidak Chaerim! Sekolah tetap harus kamu ikuti, itu penting. Urusan Zico kamu bisa berikan padaku. Kamu bisa menelfonku jika dia berulah aku akan datang dan menahannya,"
Chaerim terlihat ragu, tapi tidak lama dia menganguk. Bagaimana pun juga ucapan Namjoon ada benarnya, sekolah penting. Zico bukan alasannya dia menjadi bolos sekolah, susah susah Namjoon mencari uang agar Chaerim lulus dari sekolah tapi dia malah tidak sekolah. Dia harus sekolah, urusan Zico dia bisa urusi nanti.
"Sudah ya! Sekarang Chaerim keluar dari kamar kita makan,"
KAMU SEDANG MEMBACA
FAKE LOVE (TAMAT)
Action[HARAP FOLOW SEBELUM MEMBACA, PLAGIAT JANGAN MAMPIR. HUS HUS] ******* Seri BTS 2 Di sini BTS jadi mafia dan polisi. Kim Chaerim Song Nina Lee Junghon Mafia : Min Yoongi Jeon Jungkook Park Jimin Jung Hoseok Polisi : Kim Namjoon Kim Seokjin Kim Taehyu...
