Bismillahirrahmanirrahiim
Copyright Baits_
-Terperangkap Dalam Tanya-
__________________"Allāh yang membuatku jatuh hati padanya. Dan pasti ini adalah hal terbaik bagiku menurut-Nya. Saat itulah aku menganggap cintaku pada nya tak salah"
________BERKATA jujur memang akan lebih baik. Karena itu Allāh memerintahkannya. Tidak semata-mata Allāh memberi sebuah perintah jika tanpa manfaat.
Disini lah aku sekarang. Di tempat kejujuran terkeluarkan. Di lorong kampus yang memang jarang terlalu lalangi oleh orang-orang. Zalfa jujur jika dirinya menjauh dariku karena Kak Abi. Dia bilang...
"Benar. Aku menjauh karena Kak Abi. Aku tak pernah sebelumnya melihat kalian berboncengan. Lalu kemarin aku melihatnya. Dan kupikir rasa kalian sebagai sahabat, sama sama telah berubah menjadi sesuatu yang kurasakan pada Kak Abi!"
Zalfa terlihat tenang mengatakan hal itu. Namun dengan jelas kerat wajahnya menandakan sebuah kekecewaan. Sungguh aku tak tahu bagaimana sikapnya jika dirinya tahu bahwa hari itu bukan kali pertama aku berboncengan dengan Kak Abi.
"Sungguh Zal tidak ada yang berubah antara aku dan Kak Abi. Hanya sahabat. Tidak akan pernah lebih! Sampai kapanpun"
"Apa yang akan menjamin jika kamu tidak mencintai dan tidak akan mencintai Kak Abi?"
Apa yang harus kujawab jika sudah serumit ini. Benar. Memangnya apa yang dapat menjamin jika aku tidak akan pernah mencintai Kak Abi? Sekuat apapun aku menahan nya jika hal itu sampai terjadi, tetap jika Allāh sudah berkehendak, apa yang bisa kulakukan? Takkan mungkin menyalahkan siapapun bukan?
"Kamu diam. Kamu pun pasti setuju dengan pernyataanku. Lalu apakah kamu tidak akan membiarkan sahabatmu ini sembuh sebentar dari sakit yang kau ciptakan?" Hatiku begitu tergores saat Zalfa mengatakan hal itu. Rasanya mataku mulai terangsang mengeluarkan ekspresi yang dirasakan hati. Sakit yang kau ciptakan? Sejahat itukah aku hingga dapat menyakiti orang lain bahkan dengan kesalahan yang tak disadari?
"Sekali lagi kutanyakan bisakah kamu menjaminnya?" Aku masih diam. Mulutku rapat tak terbuka sedikitpun. Semua jawaban tercekat sebelum keluar dari mulut.
"Sepertinya kau tidak bisa. Baiklah. Jika tidak bisa, maka biarkan untuk sementara waktu ini aku harus menghindarimu. Mencoba melupakan rasaku terhadap Kak Abi. Mencoba menerima kenyataan jika Kak Abi ataupun kamu atau bahkan keduanya dari kalian saling mencintai!" Kata-kata tanpa ekspresi yang Zalfa lontarkan membuatku semakin merasa bersalah.
"Aku akan menemuimu saat hatiku kembali seperti semula sebelum ada Kak Abi!" Tambahnya lalu berlalu pergi. Sesuatu menghentikan langkahnya. Bukan cekalan tangan atau rentangan tangan, melainkan...
"Bagaimana jika jaminannya aku mencintai orang lain!" Oke. Aku membuat keputusan membuka masa laluku dimasa sekarang pada situasi yang sangat tak memberiku pilihan lain selain jujur.
"Bisakah aku mempercayainya?"
"Tentu saja. Kamu harus percaya"
"Dengan cara?"
Bisakah Zalfa berhenti membuat pertanyaan yang tak ku ketahui jawabannya? Dengan cara apa aku dapat membuktikan bahwa aku memang sedang mencintai seseorang?⚊dengan begitu dalam⚊ Dan itu bukan pada Kak Abi.
Aku memalingkan wajah sepersekian detik, kemudian mengatakan "Susah payah aku melawan hatiku yang tak ingin dibongkar rahasianya, Zal. Dan kamu tak mempercayainya? Ayolah. Keberanianku berpuncak disini. Ketika masa lalu yang menyakitkan harus kuungkit kembali saat ini!" Lontarku akhirnya.

KAMU SEDANG MEMBACA
[SB I] Terperangkap Dalam Tanya [COMPLETED]
De Todo[SUDAH TAMAT] Pernah dengar kata menunggu?. Tentu pernah bukan?. Namun banyak orang yang terkadang sangat lemah dan sering mengeluh saat menunggu. Bagaimana jika ku katakan menunggu itu indah? Mengapa? Karena kupikir dengan menu...