Keadaan Semula

64 4 0
                                    

"Kamu terlalu banyak berbohong. Hingga selalu Allāh yang harus membuat aku tahu setiap apa yang kamu lakukan dan kamu rasakan"

🌷🌷🌷

"Termasuk anda," jawab Fahri dengan tawa sumbang di akhir kalimatnya. Gaya berbicara formal bukan halangan untuk melakukan hal jenaka.

Hatinya yang merasa sakit pun bukan halangan untuk tetap terlihat tegar di hadapan banyak orang.

"Fahri, Nadhira udah sadar," di tengah obralan ringan antara Fahri dengan Abidzar, tiba-tiba Kak Aisyah datang dari arah berlawanan dengan terburu-buru sembari membawa kabar yang membuat rasa lelah yang ia rasa tergantikan oleh kebahagiaan.

"Alhamdulillah, ada siapa di ruangannya, kak?" tanya Abidzar mendahului Fahri.

"Bang Ari tengah mengecek kondisi Nadhira,"

Tanpa bertanya atau apapun Fahri langsung berlalu meninggalkan tempat itu setelah berterimakasih pada Kak Aisyah.

Ia tidak sabar memeberi tahu Nadhira yang sebenarnya. Ia tidak sabar melihat Nadhira baik-baik saja. Dan ia tidak sabar membuat semua yang pernah menghilang kembali padanya.

Dia merindukan Nadhira. Merindukan Ami. Merindukan Nadhira Nur Azmi.

⚘⚘⚘

Langkah Fahri tak pernah berhenti untuk berlari agar cepat sampai ke ruangan di mana hatinya tertinggal di sana. Kehidupan yang sudah menjerumuskannya pada harapan sedari penantian, kini memberi kenyataan yang tak pernah ia bayangkan.

Tampak banyak orang yang sudah mendahuluinya berada di samping Nadhira. Dalam diam bibirnya terangkat tanpa paksaan, menyiratkan segala apa yang tergambar di hatinya.

Wajah itu bisa ia lihat kembali setelah sekian lama. Meski wajah itu masih terlihat pucat, meski ukiran di bibir itu belum terangkat, hatinya merasa lega karena mata perempuan itu sudah terbuka.

Langkahnya terhenti di ambang pintu saat ia tertangkap basah oleh sang pemilik kamar sedang memasuki kamarnya. Ia benar-benar mengurungkan niatnya masuk ke dalam ruangan Nadhira saat ia menangkap sikap Nadhira seolah tak peduli dengan kehadirannya.

Fahri merasa enggan untuk menemui Nadhira. Bukan karena apa, Nadhira berpikir jika ia mencintai wanita lain. Dan perempuan mana yang tidak akan merasa sakit hati jika suaminya mencintai wanita lain?

Di tengah kondisi Nadhira yang baru sadar setelah ia menjalani operasi, Fahri tak ingin membuat pikiran dan hatinya Nadhira merasa terganggu karena kehadirannya.

Ia berbalik dan berniat untuk mengunci terlebih dulu egonya yang ingin segera menemui Nadhira dan mengatakan semuanya. Karena kondisi Nadhira saat ini belum memungkinkan untuk bisa memikirkan hal-hal terlalu berat yang akan membuatnya stress.

Ia memilih untuk pergi ke kursi tunggu di lorong rumah sakit untuk sedikit mengistirahatkan dirinya dari banyak orang. Ia terlalu lelah berinteraksi dengan keramaian. Dan lorong rumah sakit ini, dirasanya agak sepi dari incaran banyak orang, dan karena itu ia memilih tempat ini untuk berdiam diri.

Tapi tak lama dari itu, hanya berselang sekitar tiga puluh menit, seseorang menghampirinya dan menganggu kesendiriannya.

"Kenapa di sini, Ri? Dhira udah sadar, gak niat nemuian dia, gitu?" tanya orang yang menghampirinya tanpa basa basi. Pertanyaan itu langsung disambut senyuman dari bibirnya.

"Di antara saya dan Nadhira masih banyak masalah yang belum kami selesaikan, kak. Jika saya langsung menemuinya saat dia baru sadar pasca operasi, itu akan membebani pikirannya," jawab Fahri mengemukakan alasannya menghindar dari kerumunan orang-orang yang berlomba-lomba melihat keadaan Nadhira. Meski alasan utamanya adalah karena Nadhira yang terlihat acuh dengan kehadirannya.

[SB I] Terperangkap Dalam Tanya [COMPLETED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang