Foto penjelasan

41 3 2
                                    

"Dan, orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan, mereka itulah orang-orang yang benar (imannya), dan mereka itulah orang-orang yang bertaqwa".
•<[Al-Baqarah : 177]>•

🌷🌷🌷

HINGAR bingar jalan raya saja nyatanya tak mampu membuat hati yang sepi kembali ramai. Kerlip lampu kota nyatanya tak dapat lebih menarik dari malam yang tampak kosong penghuni.

Hatinya seolah tengah berkonspirasi dengan alam agar sama-sama membiaskan kesepian dan kesunyian. Keramaian dan cahaya tak mampu membuat rasa sepi enyah begitu saja.

Perlukah berteriak agar semua orang yang menyalakan lampu bisa mematikannya dan mengerti perasaannya yang tengah gelap?

Perlukah berteriak agar setiap lampu rambu lintas menyalakan warna merah agar semua pengendara berhenti menyalakan mesin kendaraannya dan mengerti jika hatinya tengah patah?

Ia tengah patah, marah, dan ingin menyerah. Namun tak ada hal lain yang bisa ia lakukan selain pasrah.

Sudah sekitar dua kali tiga puluh hari hatinya merasa lebur, bagai gula yang menghilang dalam air.

Terasa namun tak ada.

Lelaki itu menutup jendela kamar yang membawanya dapat melihat bagaimana keadaan cahaya dan teriakan mesin kendaraan di kota saat malam hari yang tekadang bertabur keramaian atau terkadang kosong didominasi kegelapan.

Aktivitas rutin yang ia lakukan setelah pulang kerja. Lebih tepatnya aktifitas rutin yang baru ia lakukan setelah perginya orang yang baru saja menguasai hatinya.

Ia baru saja pulang kerja, dan belum sempat untuk membersihkan dirinya. Suhu dingin yang tengah melanda seluruh kota membuatnya enggan menyentuh air.

Tapi mau bagaimana lagi? Badannya sudah terasa lengket dengan peluh. Lagi pula ia juga belum melaksanakan sholat isya. Jadi mau tidak mau ia harus berinteraksi dengan air.

Rasanya tidak etis jika ia memepermasalahkan dinginnya air sebagai alasan menunda waktu sholat, sedangkan saudara seimannya yang tinggal di negara konflik harus bergelut dengan hal yang dapat membahayakan keselamatan nyawanya hanya untuk melaksanakan sholat.

Jika saja ia pernah pergi ke kutub utara dan merasakan dinginnya suhu di sana, mungkin ia tak akan menganggap air yang menyentuh epitelium kulitnya saat ini paling dingin. Karena ia tahu air yang ada di sana akan jauh lebih dingin. Tapi karena ia tak pernah pergi ke sana, maka ia menganggap air yang menyentuh kulitnya terasa seperti di kutub utara.

Setelah beberapa menit bergelut dengan dinginnya air, ia langsung berganti baju dan menunaikan sholat isya.

Di waktu senggang setelah sholat isya, ia memanfaatkannya untuk melakukan muroja'ah. Muroja'ah hafalan yang biasa ia lalukan sstiap hari minimal untuk dua sampai tiga juz.

Di tempat ini, di saat yang sama ia pernah melakukannya bersama seseorang. Namun kini orang itu pergi, sehingga ia kembali melakukannya sendiri.

Jika mengingat tempat ini, dan suasana seperti ini, ia teringat kenangan terakhirnya bercanda bersama orang itu. Melakukan hal konyol seperti saling coret larutan bedak tabur untuk muroja'ah.

Mengingat hal itu, tak terasa sudut bibirnya terangkat ke atas dengan samar. Kini hal itu hanya kenangan yang seharusnya tidak ia pikirkan.

"Astagfirullohal'adziim," ucapnya tersadar jika ia tengah memikirkan perempuan yang kini bukan lagi mahramnya.

Mengenang, adalah hal yang selalu membuatnya kembali patah, kembali rapuh dan kembali jatuh.

Sudahlah. Meratapi masa lalu bukan hal terbaik yang dapat dilakukan untuk bangkit dari masa itu.

[SB I] Terperangkap Dalam Tanya [COMPLETED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang