"Perkara halal yang paling dibenci oleh Allāh adalah talak"
🌷🌷🌷
"Terimakasih, Assalamu'alaikum," ucapku begitu Fahri mengisyaratkan jika aku bisa pulang dengan izinnya. Dengan segera aku berusaha untuk menjauhi apartemen ini.
Dadaku sudah amat sesak. Rumah tanggaku sudah di ujung tanduk. Dan tak mungkin akan kembali membaik.
Semua yang terjadi benar-benar tidak pernah terlintas dalam pikiranku. Semua terjadi tanpa direncanakan.
Aku tidak tahu bagaimana Fahri tiba-tiba sudah kembali, bagaimana dengan tiba-tiba aku bertemu Kak Abi di caffe saat aku tengah beristirahat sejenak setelah pergi ke supermarket sebentar, dan bagaimana bisa aku mengucapkan semua kalimat tak berperasaan itu.
Baru saja aku berpikir bagaimana caraku bisa berpisah dengan Fahri sebelum ia mengetahui kondisiku, tiba-tiba atas kuasa-Nya, Allāh mempermudah semuanya. Meski kami belum berpisah, setidaknya aku yakin jika dengan itu tak ada alasan lain untuk Fahri tetap mempertahankan rumah tangga ini.
Tak pernah kubayangkan terjadi hal seperti tadi dalam perjalanan hidupku. Secepat itu semuanya berakhir. Secepat itu semuanya terjadi.
Semua yang keluar dari mulutku, tak ada kebenaran sedikitpun di dalamnya. Aku berusaha keras untuk mengeluarkan kalimat-kalimat tidak berperasaan itu.
Keadaan memaksaku mengatakannya. Ingin menangis, menjerit, dan menegaskan pada Fahri jika semua yang kukatakan adalah kebohongan. Tapi apa dayaku? Aku hanya ingin ia bahagia.
Jika bahagianya bukan denganku, aku bisa apa? Memaksa bukan hal yang benar untuk mencapai sebuah tujuan.
Aku berdiri di tepi jalan untuk mencari taksi agar aku bisa segera pulang. Syukurlah aku tidak perlu lama menunggu. Taksi datang setelah beberapa menit aku berdiri.
Aku menyebutkan alamat rumahku pada supir taksi, setelah itu tak ada lagi kata-kata yang keluar dari mulutku.
Mulut ini sudah terlalu jahat untuk digunakan. Meski Fahri tidak mencintaiku, setidaknya dengan kalimat-kalimat yang kulontarkan mungkin ia akan merasa sakit hati. Aku tahu itu.
Aku menempelkan kepalaku pada kaca mobil. Sesekali tertangkap mataku beberapa kendaraan yang berlalu mendahului taksi yang kunaiki.
Pikiranku melayang pada kejadian yang terjadi beberapa jam yang lalu. Semua yang dimulai dari kedatangan Fahri secara tiba-tiba hingga aku yang pamit untuk pulang, semuanya ter-replay secara otomatis dalam memori otakku.
Aku bertanya pada diriku sendiri, mengapa harus secepat ini. Aku belum menyiapkan hati untuk terluka. Aku belum siap kehilangan. Karena mungkin aku tak akan pernah siap untuk itu.
Tepat saat mataku menangkap keberadaan rumahku, aku segera memberikan uang kepada supir taksi tersebut, dan segera keluar untuk sesegera mungkin masuk ke dalam kamar dan menenangakan diri untuk sendiri.
Tapi saat aku membuka pintu rumah, tampak ada Kak Abi dan Zalfa di sana. Keberadaan Kak Abi membuatku kembali mengingat kejadian yang belum bisa kulupakan itu. Ia tidak bersalah, namun ia model lain selain aku dalam foto-foto yang Fahri tunjukkan.
Semua orang menatap ke arahku saat mereka menyadari jika pintu rumah terbuka. Aku yakin Kak Abi pasti sudah memberi tahu semuanya tentang apa yang terjadi.
Aku tidak menghiraukannya, dan langsung pergi menuju tangga untuk pergi ke kamar. Beberapa orang sempat meneriaki namaku, tapi tak ku hiraukan. Hingga aku menyadari sesuatu dan menghentikan langkahku, memudian mengatakan, "jangan bertanya apapun terlebih dulu padaku, ataupun Fahri."

KAMU SEDANG MEMBACA
[SB I] Terperangkap Dalam Tanya [COMPLETED]
De Todo[SUDAH TAMAT] Pernah dengar kata menunggu?. Tentu pernah bukan?. Namun banyak orang yang terkadang sangat lemah dan sering mengeluh saat menunggu. Bagaimana jika ku katakan menunggu itu indah? Mengapa? Karena kupikir dengan menu...