Deven dibuat kaget saat baru saja masuk kedalam rumahnya. Pasalnya saat ini kakaknya tengah duduk tenang sambil menatapnya dengan tajam.
"Dari mana aja lo, jam segini baru pulang"tanya Iqbaal sambil menatap tajam wajah Deven
"Emm... Main kak"jawab Deven ragu
"Main sampai jam segini? Lihat sekarang jam berapa"ucap Iqbaal dengan tegas
Dan dengan terburu-buru Deven melihat pergelangan tangannya yang sudah dihiasi oleh jam tangan mahal yang ayahnya kasih beberapa Minggu lalu
"Emm... Jam 4 kak"ucap Deven gugup sambil menggigit bibir bawahnya
"Siapa yang ngajarin lo pulang jam segini hah"bentak Iqbaal sambil berjalan mendekati Deven dengan sorot mata tajam.
Melihat sorot mata tajam sang kakak yang ditujukan untuknya itu membuat Deven paham, bahwa saat ini sang kakak tengah benar-benar marah kepadanya. Dan tentunya itu membuat Deven takut untuk menjawab pertanyaan yang dilontarkan kakaknya.
"Kenapa diam! Punya mulut kan lo"ucap Iqbaal datar dan itu tentunya membuat Deven semakin takut kepadanya
"Jawab Bego"bentak Iqbaal sambil mendorong kepala Deven dengan jari telunjuknya
"Sorry kak"gumam Deven lirih
"Ini pertama dan terakhir kalinya lo langgar batas waktu yang telah gue tetapi, dan sekali lagi lo ulangin kesalahan ini. Jangan harap lo bisa masuk kedalam rumah ini lagi! Paham!"ucap Iqbaal tegas
Dan mau tak mau Deven hanya bisa menganggukkan kepalanya.
"Punya mulut gak lo! Jawab"bentak Iqbaal
"I...yaa kak"jawab Deven gugup
"Tidur sana"ucap Iqbaal tegas lalu dan itu tandanya Deven tak punya pilihan lain selain mengikuti perintah sang kakak.
Buru-buru dia peegi dari hadapan sang kakak lalu mulai melangkahkan kakinya untuk masuk kedalam kamar.
Beberapa menit kemudian barulah Iqbaal yang masuk kedalam kamarnya. Dan menatap tengah Deven yang saat ini tengah meringkuk diatas ranjangnya dengan punggung yang bergetar.
"Gue suruh lo tidur bukannya malah nangis"ucap Iqbaal santai sambil duduk disebuah sofa yang berada dikamar itu.
Mendengar suara itu. Deven buru-buru menghapus air matanya dan membalikkan badannya untuk menghadap sang kakak yang saat ini tengah duduk santai dengan sebuah asap rokok yang sudah mengepul didepannya.
"Siapa juga yang nangis"elak Deven dengan suara parau khas orang baru saja menangis
Iqbaal hanya tersenyum mengejek kearah Deven lalu kembali menyesap rokoknya
"(Namakamu) udah jadi guru privat gue sekarang! Jadi lo gak usah repot-repot cari cara buat bikin dia benci sama lo"ucap Iqbaal setelah dia berhasil menghembuskan asap rokoknya
Sedangkan Deven yang kaget dan merasa bersalah hanya bisa terdiam sambil menatap lekat wajah sang kakak.
"Tidur sono! Nanti lo sekolah"ucap Iqbaal santai
"Gue izin gak masuk dulu yaa kak! Capek banget nih"pinta Deven sambil memasang wajah memelasnya
"Gue gak mau punya adik bodoh"ucap Iqbaal santai sambil kembali menghisap putung rokoknya.
"Yaelah kak! Gak masuk sehari gak bisa bikin gue bodoh kali"ucap Deven sambil memutarkan kedua bola matanya
"Emang selama ini lo pinter? Nilai aja masih dibawah standar semua! Untung-untung gue masih mau ngakuin lo sebagai adik"ucap Iqbaal santai
KAMU SEDANG MEMBACA
Meet A Badboy
FanfictionKehidupan (namakamu) Amora berubah, setelah takdir harus mempertemukannya dengan seorang Badboy yang belum pernah terbayangkan dipikirannya. Hidupnya yang semula aman dan tentram harus hancur berantakan, hanya karna seorang Iqbaal Dhiafakhri Ramadha...
