14 - Zackhir marah

415 51 43
                                        

"Tak Seharusnya Khawatir."

---------

Bunyi bel berbunyi tanda pelajaran sudah berakhir. Murid-murid terlihat tidak terlihat senang sebab mereka mendapatkan pr. Sialnya pr tersebut harus dikumpul besok pagi di meja bu guru. Ya, ini memang sering terjadi.

"Sya, ngerjain bareng yuk."

Ami mengerjabkan matanya beberapa kali sambil tersenyum. Gadis itu berdiri tegak memandang Asya yang sibuk memasukkan buku ke dalam tas. Asya melirik sebentar ke arah Ami lalu kembali sibuk pada aktivitasnya lagi.

Merasa dicueki, ia beralih melirik Zackhir yang berdiri di depan papan tulis menunggu Assyami. Cowok itu sedang mengeluarkan bajunya agar terlihat nyaman. Ami memperhatikan Zackhir dari atas sampai bawah, ia merasa kesal mengapa wajah Zackhir cukup tampan dan tidak sesuai dengan sikapnya yang kampret.

Ami sebenarnya tidak ingin memohon kepada Zackhir untuk mengerjakan bersama, namun tugas kali ini ia memang tidak paham dan butuh pencerahan. Kali ini, ia ingin meminta bantuannya jika Asya tidak mau.

"Zaczac, anu..."

"Ogah!" jawab cowok itu cepat.

"Belum selesai juga aku ngomong udah ditolak, ish!" Ami menghentakkan kakinya ke lantai karena kesal.

"Males belajar bareng sama otak yang kapasitasnya rendah!" Zackhir melipatkan kedua tangannya dan merendahkan Ami.

"Jahaaaattttttt!" Ami memukul cowok itu dengan tasnya. Cowok itu merintih kesakitan dan kabur keluar kelas. Bagi Zackhir, membuat Ami marah termasuk hal yang menyenangkan.

Asya hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah mereka layaknya Tom and Jerry. Sebelum menghampiri Ami dan Zackhir, Asya menatap bangku Kevin yang kosong. Ya, hari ini cowok itu tidak masuk kelas tanpa keterangan. Pagi tadi Ami mencoba menghubunginya namun tidak ada sambungan. Kevin bolos, Asya tidak peduli itu.

Ia menghembuskan nafasnya pelan melihat Ami yang kewalahan mengejar Zackhir yang berlari seperti atlet. Jika ia jadi Ami, ia tidak akan pernah mau mengejar Zackhir seperti itu. Anak-anak yang melihat adegan itu merasa terhibur dibuatnya.

"Asyaaaaaa!" rengek Ami manja kepada Assyami. Ia menyerah mengejar Zackhir, padahal ia masuk dalam kategori lari tercepat di kelompok cewek di kelasnya. Jika dibandingkan dengan Zackhir, tentu ia tidak ada apa-apanya. Zackhir mendapatkan juara satu saat lomba lari untuk pengambilan nilai kemarin.

"Hn?"

"Belajar bareng yaaa, Ami nggak ngerti. Zaczac pelit ilmu, gak berkah deh hidupnya." Ami melirik sinis ke arah Zackhir.

"Iya."

"Yeayyy! Zaczac nggak usah diajak!" Ami menjulurkan lidahnya ke arah cowok itu.

Zackhir tidak menanggapi Ami, ia sibuk memainkan hp-nya. Ada pesan masuk di hp-nya. Wajah Zackhir terlihat rumit, ia melirik Asya sebentar dan mengetikkan sesuatu di benda pipih tersebut.

Merasa gelagat aneh dari Zackhir, Asya menghampirinya. "Kenapa?"

"Kayaknya aku nggak bisa ikut, ada urusan penting." suaranya lamat-lamat, seakan menyembunyikan sesuatu.

"Bagus deh kalau gitu!" kata Ami berkacak pinggang. Ia tidak memperdulikan urusan apa yang dimaksud cowok itu. Tanpa Zackhir, urat sarafnya akan tenang.

Asya mengangguk mengerti. Ia ingin menanyakan urusan apa itu, namun ia tidak memiliki hak untuk bertanya lebih jauh lagi. Asya menunduk sambil memainkan roknya. Pikirannya dipenuhi tanda tanya. Oke, ia cukup penasaran.

ZaczacTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang