Mungkin dewa keberuntungan sekarang berpihak kepada Alvaro dan Bandi, karena saat setengah perjalanan bel pergantian pelajaran berbunyi. Otomatis Bu Merlin sudah pergi dari kelas dan mereka tidak akan mendapat siraman rohani dari bu Merlin, apalagi ada Alvaro bukanlah penghuni kelas XI IPA 2.
"Heh say, bu Cika ga masuk?" tanya Bandi kepada anggita yang duduknya di dekat pintu.
"Katanya sih engga, tapi tau deh, tu guru killer kan angin-an-" Anggita membekap mulutnya karena melihat Alvaro ada di belakang Bandi.
"Mana Aletha" Bisik Alvaro pada Bandi mencari keberadaan Aletha, karena dari pintu kepala Aletha tidak terlihat.
"Ga tau gue, tadi waktu gue tinggalin dia masi di bangku megang perutnya." timpal Bandi menunjut tanpa duduknya bersama Aletha.
"Woii."
"EH BENCONG_EH BENCONG" Alvaro seolah-olah memegang dadanya terkejut karena seseorang baru saja menepuk pundaknya dari belakang.
"Aelah lo ganteng-ganteng latah. Yang disebut spesies gue lagi." Bandi memutar bola matanya malas. Sedangkan Anggita dan Veni terkekeh melihat Alvaro.
"Udah ganteng lucu" bisik Veni kepada Anggita. Kedua nya melirik Alvaro secara sembunyi-sembunyi sambil terkekeh pelan.
"Haha" Keisha tertawa nyaring mendengar penuturan Alvaro barusan.
"Ngapain kalian di pintu?" tanya Lamia kepada keduanya.
"Astatang! Kalian ternyata, Aletha dimana? Kok gak bareng kalian?" Tanya Alvaro kepada Keisha dan Lamia.
"Tadi perutnya sakit, kita Ajak ke UKS di ga mau, katanya Bandi lagi beliin Roti sama air mineral." Jelas Keisha panjang lebar, sedangkan Lamia hanya manggut-manggut setuju.
"Jangan-jangan-" Alvaro berlari menghampiri tempat dimana Aletha dan Bandi biasanya duduk. Diikuti dengan Lamia dan Keisha.
Aletha sudah terlihat lemas dengan wajah memucat serta tangan yang menyentuh perut bawah sebelah kanannya dengan tangan kirinya.
"Omigott" pekik Keisha yang merasa bersalah telah meninggalkan Aletha.
Lamia duduk di sebelah Aletha,
"Tha?, Tha?, Aletha, lo kenapa?" Lamia menyentuh tangan kanan Aletha yang kini menjadi bantal untuk kepalanya diatas meja."Enggh-" Aletha meringis dengan mata yang masih tertutup.
Alvaro dengan sigap mengangkat tubuh Aletha menuju ke UKS untuk mendapatkan pertolongan pertama.
Aletha tidak bereaksi apa-apa, ia masih setia menutup matanya. Ternyata tadi Aletha meringis di dengan kondisi pingsan.
Sedangkan Lamia dan Keisha kembali ke kelas karena paksaan Alvaro setelah meletakan sepotong roti dan air mineral di nakas UKS.
Alvaro segera membuka sepatunya dan berlari menuju ranjang UKS yang kosong.
"Ambil minyak kayu putih cepat!" ucap Alvaro setengah membentak kepada kepada siapa saja yang ada di ruangan tersebut. Sehingga menyebabkan efek kaget pada siapa saja yang mendengarkannya.
Sial. Tidak ada siswa petugas PMR yang berjaga di UKS sekarang. Bahkan menurut pengakuan para siswa yang sedang beristirahat di ruangan itu Dokter penjaga UKS sedang pergi mencari sarapan.
Setelah meletakan Aletha di posisi nyaman di ranjang, Alvaro segera berlari menuju lemari kecil disudut ruangan untuk mengambil benda itu sendiri.
Setelah kembali ke posisinya tadi Alvaro mendekatkan minyak kayu putih yang baru saja diambilnya itu ke hidung Aletha, dan mengoleskan nya tipis di area pelipisnya.
Setelah selesai mengoleskan benda itu, Alvaro beralih ke kaki Aletha, ia membuka sepatu dan kaus kaki gadis itu agar ia lebih rileks.
Alvaro menggenggam tangan kiri Aletha dan membawa tangan itu ke pipinya, sehingga tangan putih itu menyentuh pipi Alvaro.
Aletha terlihat begitu tenang dengan mata yang tertutup. Alvaro membelai lembut rambut Aletha yang tergerai bebas. Baru kali ini ia bisa memperlakukan Aletha seperti itu. Ia bingung harus bahagia dan bersedih. Apakah tunggu Aletha berada di posisi sekarang baru Alvaro dapat memperlihatkan rasa sayangnya?. Sudahlah.
Alvaro memejamkan matanya diatas tangan putih yang kini berada di pipinya. Ia mengelus tangan itu dengan ibujarinya lembut. Ia berdoa pada suatu saat nanti Aletha dengan senang hati berada dalam posisi seperti ini dengannya. Sungguh ia menginginkan hal itu.
Aletha mengernyitkan keningnya, ia mengerjapkan matanya beberapa kali untuk menyesuaikan cahaya yang masuk ke irisnya. Ia bum menyadari kehadiran seseorang yang kini sedang tidur di atas tangannya.
Aletha mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut ruangan sampai ia melihat orang yang sedang tidur tepat disamping ranjangnya. Entah mengapa ia merasa- nyaman? Entahlah.
Alvaro menegakan kepalanya melihat Aletha yang kini sedang- tertidur. Ralat. Pura-pura tidur.
"Tha?" panggil Alvaro lembut sambil mengelus puncak kepala Aletha.
"Gue tau lo gabakalan ngerti sama apa yang uda gue lakuin ke lo ini. Mungkin lo pikir gue cuman main-main aja sama lo. Kalo lo berpikiran seperti itu lo salah besar tha, lo salah besar." Alvaro kembali membawa tangan Aletha ke pipinya dan mencium punggu tangan itu lembut.
Aletha yang kini sedang mengintip dengan sangat susah payah sedang menahan perasaannya yang mulai menghangat. Entah mengapa perasaan berbeda ketika Alvaro mencium punggung tangannga membuatnya ingin segera berteriak sekencang mungkin.
Aletha menggerakkan tangan kanannya yang tidak digenggam Alvaro menuju pelipis. Ia sedikit mengurutnya seolah-olah baru saja bangun dari pingsan dan .merasa sedikit pusing. Padahal itu hanya, modus.
"Tha, sini duduk dulu" Alvaro gelagapan menyingkirkan tangan Aletha dan meletakkannya kembali ke atas kasur UKS dan membantunya untuk duduk.
"Nih, minum terus rotinya dimakan buat ganjel sementara. Ntar lagi kita pulang. Lo disini aja biar gue yang ambil tas lo di kelas. Lo pulang bareng gue." Ucap Alvaro panjang lebar menyiapkan Roti ke mulut Aletha.
Aletha mati-matian agar tidak tersenyum di depan Alvaro.
"Apaan lo ngatur gue, gama-" ucapan Aletha terpotong ketika Alvaro menatapnya tajam."Ini perintah. Jangan bantah."
Setelah mengucapkan itu Alvaro kembali membantu Aletha menghabiskan rotinya.
'eh jantungg, kenapa sih lo! Gausah joget-joget elahh' gumam Aletha dalam hatinya. Entah mengapa ia suka dengan perasaan aneh yang kini sedang menerpanya.
Setelah roti habis, Alvaro menyodorkan air mineral kepada Aletha. Aletha meminumnya hingga hampir habis. Ya apalagi kalau bukan karna paksaan.
Alvaro menidurkan kembali Aletha ke kasur agar ia lupa akan rasa pusing yang sedang dirasakannya.
Hening. Tak ada satupun yang membuka suara. Aletha dengan gensinya Alvaro dengan fikiran nya. Entahlah Alvaro merasa hari ini ia sangat bahagia. Memegang tangan Aletha, mengecup singkat, membelai rambutnya, menyuapi gadis itu dan nanti mereka akan pulang bersama. Sungguh ia takkan melewatkan moment itu.
"Eh?" Alvaro menoleh kepada orang yang baru saja memanggilnya itu.
"Iya calon pacar?"
Aletha sama sekali tidak membantah ucapan Alvaro itu untuk yang pertama kalinya dan membuat Alvaro tersenyum di dalam hati.
"Lo uda lama disini?" Tanya Aletha menolehkan kepalanya ke arah Alvaro. Kedua pasang iris itu beradu dan menimbulkan efek yang tidak biasa kepada keduanya.
"Baru aja kok" kilah Alvaro takut Aletha mengetahui bahwa ia yang menjaga gadis itu sedari tadi.
"Oh." balas Aletha singkat. Padahal ia tau apa saja yang dilakukan Alvaro. Hmm.
Staytune❤
Jangan lupa VoMent:)

KAMU SEDANG MEMBACA
ALVaTha
Teen FictionAlvaro Ravindra Dirgantara, Most wanted SMA Gradian yang memiliki banyak penggemar wanita,selalu menginginkan aletha memperhatikannya. Aletha Divya Kenan, Cewek tomboy yg selalu risih saat bersama dengan Alvaro Karna selalu mencari perhatiannya. ...