Siapa yang bilang, kalau cuma makhluk dengan jenis perempuan saja yang doyan rumpi? Kalau perempuan, jelas, perlu menyalurkan setidaknya 20.000 kata setiap harinya, agar tetap waras. Kalau laki-laki, bagaimana? Kaum Adam, hanya butuh mengeluarkan lima sampai tujuh ribu kata, makanya mereka bilang cewek itu cerewet. Lihat saja perbandingannya, jauh kan?
Tenang, aku masih Hana si auditor, belum beralih dan nggak akan beralih profesi menjadi psikolog atau semacamnya. Kalian tahu, kan, cita-citaku yang lainnya apa? Aku mau jadi penulis. Syukur-syukur kayak JK Rowling, minimal mendekati Tere Liye deh, yang bukunya bisa cetak ulang terus. Punya mimpi tinggi, boleh dong!
Balik lagi soal rumpi-man. Ini seriusan lho. Tadi ya, sepanjang jalan, itu para aki-aki ngegosip. Tenang di kalimat tadi nggak ada typo, aku memang menulis aki-aki, alias engkong-engkong. Maaf ya, pak-bapak, aku sebut aki-aki, bukan laki-laki. Karena setahuku, laki-laki itu ngomongin bisnis, kerjaan, hobi atau hal-hal yang berbau maskulinitas, bukan gosipin staf HRD yang baru cerai. Daripada sibuk sama urusan orang lain, mending urusin keluarga sendiri, toh!
Aku sebagai perempuan merasa jengah dengan obrolan mereka. Sepanjang jalan, aku menyumbat telingaku dengan earphone. Lebih baik mendengarkan lagu Saans dari sound track-nya Jab Tak Hai jaan. SRK walau terlihat lebih tua, tapi tetap keren. Brewoknya itu lho, manly banget, kayak Erland.
Erland? Kok tiba-tiba nyambungnya ke Erland? Dia kenapa ya? Kok rasanya aku dijauhin?
Apa Erland cemburu, ya? Pikirku. “Hana, plis deh! Nggak usah gede kepala,” gumamku sambil mengetuk-ngetuk kepala sendiri.
Aku melonjak, saat seseorang menepuk bahuku. Sebelum aku tahu siapa pelakunya, sebuah suara menyambar, “Iya, kan, Han! Orang keuangan musuhan banget sama IA?”
Aku menoleh, mencopot benda yang menyumbat telingaku. Itu tangan dan suara Pak Mul, yang duduk tepat di belakangku. Aku mengernyit, “Musuhan? Keuangan sama IA? Gimana ceritanya?”
“Nggak usah pura-pura. Nggak ada Bu Iyem ini. Iya, kan, Mes?” Pak Mul menoleh ke Messi yang duduk di sebelahku, meminta persetujuannya. Aku melihat Messi hanya mengangkat bahu dengan acuh, Pak Mul kembali menatapku, menunggu sesuatu keluar dari mulutku
Aku balik melihatnya. Menyelidik. Sialnya, dua orang yang duduk di sebelahnya ikut menatapku. Apa begitu penasarannya dengan apa yang akan kukatakan? Aku membuang napas berat. “Kata siapa orang keuangan musuhan sama IA? Ada buktinya? Jangan gosip, deh!”
Messi terkekeh mendengar itu. Apalagi dia melihat ekspresi mukaku yang jadi super nyebelin, padahal orang-orang yang kuajak bicara itu seumuran Papa.
“Tuh, kan! Auditor itu kaku, nggak luwes. Enakan ngomong sama sales,” bisik orang di sebelah Pak Mul, yang aku lupa namanya.
“Pokoknya, kalau ngobrol sama orang keuangan atau IA, nggak seru. Pantesan sales pada males kalau berurusan sama orang keuangan. Kata mereka, pelit. Padahal uang perusahaan, dan para sales bertindak juga untuk perusahaan,” timpal orang yang duduk dekat jendela.
Tuh, kan! Apa aku bilang. Mereka aki-aki. Aku cuma nanya satu kalimat, mereka balasnya banyak, keroyokan, lagi. Sumpah! Dadaku panas banget. Kayaknya aku perlu buat press conference, buat jelasin ke banyak pihak, tentang isu aneh bin ajaib ini. Aku membalik badan, menghadapkan seluruh tubuhku ke mereka.
“Gini, ya, Pak! sales sama keuangan, jelas sudah beda divisi dan beda kepentingan. Jika para sales dituntut performanya untuk mendongkrak pendapatan, keuangan dituntut untuk mengatur dana yang ada agar efektif dan efisien, untuk kelangsungan perusahaan.” Aku menjaga kontak mata dengan trio aki-aki. “Kadang, hanya perbedaan itu yang disorot, sehingga jarak antara tim sales dan keuangan itu lebar. Para sales beranggapan orang keuangan pelit, karena membatasi biaya promosi, sedangkan orang keuangan bilang sales itu boros, karena apa yang dihasilkan sering tidak sebanding dengan apa yang didapatkan.”
Aku berasa tua deh! Ini trio aki-aki sampai diam memperhatikanku, lho. “Terus, tentang keuangan yang musuhan sama IA, itu berita sesat dari mana?” tanyaku menahan kesal.
Messi mengusap-usap tanganku.
“Banyak kok orang keuangan yang ngedumel, saat IA sedang minta voucher. Apalagi yang diminta itu data tahun-tahun sebelumnya. Kan jadi bikin repot,” sahut Pak Mul.
“Kapan mereka ngomongnya?" aku diam, "bulan kemarin, saya minta voucher transaksi tiga tahun yang lalu, mereka sigap. Nggak ngedumel.” Pak Mul mendengus kesal.
================================
Halo gaaaees!!
Sapaan ala-ala youtubers. Hahaha. Disambit bakiak ntar.
Tadinya aku mau pending uldate sampe besok lho, gara-gara bingung mau nulis lanjutannya. Niat hati masih mau melow-melow, tapi udah janji mau munculin lagi informasi tentang profesi auditor.
Alhamdulillah, aku dapet narsum perempuan. Sebelumnya laki-laki, teman di kantor lama. Tapi lebih nyaman kalau diskusi sama perempuan.
Ada istilah baru nih, 'Voucher'. Itu istilah untuk berkas atau data transaksi. Kalau di perusahaan terakhir aku kerja, bentuk dan ukurannya mirip kayak map cokelat. Isinya itu bukti-bukti transaksi, proses permintaan pembayaran, sampai bukti pembayarannya.
Kalau diperusahaan besar, jumlah transaksinya itu nggak sedikit, jadi filingnya pasti banyak. Filing inilah yang sering jadi biang keladi ngedumelnya staf keuangan.
Padahal file-file itu harus tetap disimpan minimal 5 tahun lho. CMIIW.
Bagian Hana lembur buat filing, beneran lho. Eh aku denk bukan Hana. Aku bongkar 2 lemari besar, dan aku susun ulang. Klo rapi, kan enak dilihatnya, juga gampang nyari data apa juga.
Satu lagi, kadang voucher itu dipinjam, nah yang minjam dan yang minjamin sama-sama lupa. Wasalam deh.
Untuk hari ini cukup dulu yaaa. Oiya, jangan lupa vote dan komen. Share cerita ini juga boleh. Kali aja ada auditor di luar sana, yang bersedia ngasih masukan ke ceritaku ini. Atau ada yang terinspirasi, lalu nggak ngadu-ngadu lagi sales sama finance.
Salam sayang,
-San Hanna-
KAMU SEDANG MEMBACA
LOVAUDIT
Chick-LitSUDAH TERBIT - penerbit Cerita Kata "Jadi auditor itu nggak enak!" Kalimat itu sering dilontarkan keluarga dan sahabatku meski sudah sering kujelaskan bahwa menjadi auditor adalah panggilan hati. Temuan di kantor, kasus di rental, bahkan gosip aneh...
