"Hallo lisa!"
Gadis yang dipanggil menorehkan pandangan, mencari letak suara. "Coba tebak aku dimana!" Sang gadis masih mencari, sampai sebuah deburan berisi percikan air mengenainya. "Keluar atau kupaksa?"
Pemuda yang bersembunyi dibalik bebatuan putih nan mengkilat, menghela nafas, berjinjit untuk berpijak. "Huh...padahal aku mengajakmu bermain putri lisa..." Lisa bersungut, mana tahu dia kalau anak laki-laki ini mengajaknya bermain?
Mengatakannya saja tidak, apalagi mengajak. Tiba-tiba saja membuat kerutan dikening sang gadis, tentu membuat jengkel. "Kenapa kau kesini lagi?" Seakan tuli dan tak mendengar, anak laki-laki tersebut malah membuka baju dan menyelamkan dirinya.
"Huaa!!"
"Hehehe!"
"Kau ini!"
Lisa bersungut, susah payah ia berkering, malah basah kembali karena ketidak jelasan sahabat manusianya. Ah ia juga bertanya-tanya, kenapa makhluk imortal seperti dirinya berteman dengan manusia berderajat rendah.
"Aku ingin bermain denganmu lagi putri lisa!"
"Kau dan aku tidak bisa bersama manusia."
"Kita bisa!"
"Tidak!"
Gadis dengan surai pirang secerik matahari, berkilauan bagai laut diterpa sinar gemilang, berdecih sebal. Dasar pembohong ulung, masih kecil sudah berani berbohong, apa dia pikir lisa bodoh? Sehingga mampu mengelabui?
"Aku tidak suka pembohong."
"Diriku tidak~"
"Hah?... Terserah padamu," gadis itu berucap berberapa kali, mantera-mantera dunia bawah yang tersembunyi berdenging ditelinga anak laki-laki, ia senatiasa memandang perempuan aneh dihadapannya.
Kapan ya pertama kali mereka berjumpa? Mungkin sejak ia tenggelam saat masih balita, saat itu pula kegiatan sehari-hari anak lelaki terus bersama putri dunia imortal.
"Manusia sepertimu tidak di izinkan melihat keajaiban seperti tadi, itu pelanggaran."
"Meski begitu kau terus menunjukannya padaku, putri."
"Itu karena aku terpaksa, ayo pergi dari sini. Aku mau makan sup rumput laut di kedai bibi itu lagi."
"Heee... Kaukan dari lautan, kenapa masih menginginkan hal dari laut?"
"Kau terlalu banyak bertanya, mau ku bungkam?"
"Hehehe!"
Sang anak bersungut dengan gelengan dikepala, tanda tidak setuju. Siapa mau di sumpal pakai bebatuan laut atau bahkan lebih parah bisa hal seperti gurita hidup atau ya...samacam keanehan lainnya. Pernah anak itu mengambil gurita yang menempel kuat di mulutnya, menyiapkan wadah dan memetik api.
Selanjutnya, sebuah panggangan gurita mengeliat meminta bantuan tersaji didepan gadis laut. "Memang kau memiliki uang putri lisa?" Yang bersangkutan hanya mendelik, menunjuk dahan pohon rendah diselebah kirinya. "Apa?"
Anak itu melirik lisa-daun-dirinya lalu kembali semula. "Ambilkan daun itu—"
"Heh! Kau tidak di izinkan menggunakan sihir putri lisa! Bisa-bisa kerajaan mengetahui dirimu! Kau mau ditangkap dan di pajang?"
Gadis yang senatiasa memperhatikan bergidik geri, kalau ia sampai berurusan dengan kaum rendah-manusia-ayahnya pasti murka, dan musibah tidak bisa terelakan. Ia masih ingin merasakan dunia atas-dunia manusia- yang kadang kala membisingkan telinga.
"Dasar pangeran licik!"
Anak lelaki itu tertawa dengan segera mengaet lengan dingin putih berkilauan yang tertepa sinar matahari, "Hari ini begitu terik putri lisa, kau yakin tidak akan kekeringan?"
KAMU SEDANG MEMBACA
One Shoot [On Going]
Historia CortaOne shoot all genre. Pair : Lisa with boys-and other people. Genre : All genre, BxG, BxB, GxG, Bisex. Ps : [Do not read if your age is not 17, because this is not just love of girl and boy. Many stories unthinkable u guys under 16, misunderstandings...
![One Shoot [On Going]](https://img.wattpad.com/cover/146188324-64-k835057.jpg)