"Berita cuaca hari ini. Pemerintah menyarankan bagi para penduduk agar tetap tinggal dirumah masing-masing karena cuaca ekstrem masih melanda beberapa kota sampai 3 hari kedepan."
"Naeun, ayo sayang mulutnya dibuka. Aaa.. " Aku menyodorkan satu sendok bubur untuk sarapan Naeun.
Seorang pembawa berita cuaca masih menginformasikan bahwa cuaca hari ini masih ekstrem dan cukup berbahaya untuk bepergian ke luar. Maka dari itu Jaemin sejak kemarin siang hingga saat ini masih belum datang untuk mendampingiku dan Naeun di rumah sakit.
Seperti halnya sekarang. Walau waktu sudah menunjukkan pukul delapan lebih lima belas menit, cuaca diluar cukup gelap. Hujan tidak berhenti-hentinya mengguyur dan membasahi bumi sejak tadi malam. Bahkan ada beberapa suara gemuruh yang cukup mengejutkan hingga membuat Naeun sedikit tidak nyenyak saat tidur.
"Satu lagi ya bu?" Pintanya. Matanya masih sangat fokus memandangi kartun Pororo kesukaannya.
"Dua ya? Agar Naeun bisa tidur lebih nyenyak setelah ini." Naeun hanya mengangguk. Ia masih dengan atensinya pada kartun penguin yang berteman dengan seekor buaya.
"Ibu." Panggilnya tiba-tiba. Aku yang sedang menyiapkan suapan terakhir beralih pada Naeun yang kin tengah meraih topinya.
"Apa ibu akan tetap bersamaku walau aku berubah?"
Aku tak kuasa menahan air mata. Melihat Naeun yang semakin hari harus kehilangan beberapa helai rambutnya. Iya, rambut adalah bagian tubuh yang paling dia suka. Maka dari itu, saat dirinya tau jika ia harus mengalami kebotakan akibat efek dari kemoterapi Naeun berubah menjadi lebih diam.
"Naeun sayang. Ibu mana yang tega meninggalkan anak mereka? Mau kau berubah atau tidak, itu semua tidak akan mengurangi cinta ibu untukmu."
"Paman Na? Buktinya dia tidak datang sejak kemarin. Apa paman tidak mau lagi dekat denganku karena aku tidak memiliki rambut?"
"Siapa bilang?"
Aku dan Naeun menoleh bersamaan. Jaemin baru saja sampai dan aku rasa dia mendengar percakapanku dengan Naeun barusan.
"Naeun sayang. Tidak ada satupun hal yang bisa melunturkan cinta paman untuk Naeun. Mau kau berambut panjang atau tidak sekalipun. Naeun tetap menjadi anak paman yang paling paman sayang." Jaemin meraih Naeun kedalam gendongannya. Aku hanya bisa menahan Naeun dari belakang tubuhnya karena tangan Naeun yang masih terhubung dengan selang infus.
"Paman bohong." Kata Naeun sambil mengerutkan bibirnya.
"Karena?"
"Paman akan menikah dan memilki anak seperti ibu. Paman pasti akan lupa denganku."
"Paman tidak akan menikah sampai kau tumbuh besar."
"Janji?" Jaemin mengangguk. Aku hanya bisa tertawa kecil mendengar percakapan keduanya yang terkadang memang sulit untuk dimengerti.
Hari ini adalah jadwal Naeun untuk kemoterapi yang kesekian kalinya. Aku sengaja meminta Jaemin datang untuk menghibur Naeun disaat dan setelah proses kemoterapi berlangsung. Sudah beberapa hari belakangan ini Naeun selalu meminta agar Pamannya itu mendampingi proses penyembuhannya.
Aku sudah meminta Jaemin dari jauh-jauh hari, namun dirinya menolak dengan alasan bahwa ia harus bekerja lebih keras lagi untuk biaya rumah sakit yang tidak sedikit. Aku paham dengan alasannya karena aku sendiri tidak kerja semenjak Naeun dirawat. Pak Doyoung sendiri yang memaksaku untuk berhenti bekerja selama Naeun masih dirawat. Walaupun aku sudah memaksanya agar aku tetap masuk bekerja. Dan satu hal yang membuatku semakin tidak enak hati dengan Pak Doyoung adalah ia sudah beberapa kali ini membantu biaya rumah sakit Naeun. Aku pernah mencoba untuk menolaknya, namun Pak Doyoung justru mengancamku dengan memecat aku dari toko jika menolak bantuannya. Sungguh, manusia keras kepala.

KAMU SEDANG MEMBACA
Lost | Jung Jaehyun ✔
FanfictionApalah artinya kehilangan jika ia sama sekali tidak mengubah dirimu, Jaehyun? A fanfiction by © fungxrlll, February 2019. End, 3 August 2019.