10

6.3K 751 27
                                    

Seorang pria tengah duduk merenung didepan meja kerjanya. Tepat di depannya sebuh layar digital besar menampilkan grafik perkembangan perusahaan beberapa bulan terakhir.

Wajahnya normal, sama sekali tidak tergurat rasa khawatir yang mengganggu. Namun siapa sangka, pikirannya sedang kacau. Entah apa yang membuat dirinya tidak fokus dalam bekerja hari ini, tapi yang pasti ada rasa bergejolak di lubuk hatinya yang terdalam. Sebuah perasaan tidak enak yang membuncah sedang menggeluti ruang hatinya.

Ia pun berinisiatif untuk melakukan sebuah panggilan melalui ponselnya. Berharap apa yang ia rasakan tidak benar adanya.

"Jeff sayang."

"Iya pa?"

"Jeff sedang apa?"

"Aku sedang bermain balok. Papa ada apa telfon Jeff?"

Jaehyun tersenyum getir mendengar pertanyaan yang dilontarkan Jeffrey. Iya, ini baru kedua kalinya ia menelfon Jeff saat jam kerja. Biasanya Jaehyun sama sekali tidak melakukan panggilan langsung ke rumah, melainkan menitipkan pesan pada Bibi Park.

"Hanya ingin memastikan jika Jeff baik-baik saja."

"Hanya itu? Lagi pula Bibi Park yang akan menelfon papa jika aku sakit seperti kemarin. Iya kan?"

Jaehyun tidak menjawab pertanyaan Jeff yang lainnya. Benar apa yang dikatakan sang anak. Dan ia tahu betul jika dirinya pantas menerima perkataan itu.

"Untunglah. Kamu lanjutkan bermainnya, papa akan pulang cepat hari ini. Bye Jeff."

"Eoh."





















Sudah hampir 2 minggu Naeun dirawat di rumah sakit. Dan hampir 2 minggu itu pula anak ku harus berhubungan dengan beberapa alat bantu rumah sakit. Melihatnya berjuang melawan kerasnya obat kemotrapi yang masuk ke dalam tubuhnya. Melihat betapa tersiksanya ia saat kulit halusnya yang selama ini selalu menjadi sasaran rasa gemasku tertanam jarum suntik infus.

Sungguh, aku tidak kuasa melihat ini semua. Melihat putri kecilku merasakan apa yang seharusnya tidak dirasakan oleh anak-anak seusianya. Melihat beberapa tetes air mata yang tanpa sengaja keluar begitu saja dari sudut matanya saat ia harus menahan rasa sakitnya. Bahkan aku tahu jika ia sedang berusaha semaksimal mungkin untuk terlihat kuat di hadapanku.

"Ibu, apa aku akan sembuh dengan cara seperti ini?" Tanyanya yang sedang sibuk bermain dengan boneka barbienya.

"Tidak ada penyakit yang tidak bisa disembuhkan Naeun sayang. Semua pasti ada jalan keluarnya."

"Jika benar adanya, kapan aku bisa kembali seperti dulu?"

"Secepatnya. Ibu, Paman Nana dan tim dokter akan berusaha semaksimal mungkin agar Naeun putri kesayangan ibu bisa kembali ke rumah."

Naeun tersenyum dan kemudian memelukku.

"Hai putri kecil paman Na!" Panggil Jaemin yang baru masuk ruang perawatan. Tangannya menenteng sebuah kantong plastik sedang.

"Apa itu?" Jaemin mengangkat kantong itu dan memberikannya padaku.

"Cheese cake. Noona belum makan pasti." Dia mengambil sebuah kursi dan duduk disisi ranjang Naeun. Tangannya membelai surai Naeun lembut kemudain mengecup keningnya.

"Naeun anak yang kuat. Sama seperti ibu. Kamu harus sehat kembali, agar kita bisa kembali ke rumah bersama-sama." Naeun memeluk Jaemin erat. Sama halnya dengan pria berkaos putih itu.

"Naeun sayang Paman Na." Naeun mencium lembut pipi kiri Jaemin, sedangakan si empunya hanya tersenyum geli. Berpura-pura menolak ciuman dari Naeun dengan mengusap bekas ciuman Naeun. Lucu sekali mereka.

Lost | Jung Jaehyun ✔Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang