#4 sejak kapan

944 90 5
                                        

Jam istirahat kali ini Vey tidak manfaatkan untuk melakukan hal apapun. Dia hanya memainkan ponsel, membuka beberapa artikel secara acak dan kadang tertawa sendiri, di dalam hati, tentu saja.

Sebuah suara yang memanggil nama Vey membuat kepalanya mendongak. Orang yang memanggilnya adalah Olivia, teman sebangku Rania.

"Lo dipanggil Miss Jennifer di kantor guru," kata Olivia. Sedangkan Rania tampak menahan senyum di sampingnya.

Pandangan Vey tanpa sengaja bertemu dengan Calvin yang sedang berkumpul dengan teman laki-lakinya di meja Aidan. Saat Vey melewatinya, Calvin bertanya dengan suara pelan. "Mau gue temenin?"

Vey hanya menggeleng tanpa ekspresi. Lalu dia melanjutkan langkahnya menuruni tangga untuk menuju kantor guru yang terletak di lantai dua. Vey berusaha sebisa mungkin agar orang-orang yang berjalan di koridor tidak menyadari kehadirannya. Dia hampir sampai di kantor guru tanpa hambatan kalau saja tidak ada orang yang tiba-tiba menabraknya dari arah berlawanan saat dia berbelok.

Yang menabraknya adalah seorang siswi ekstrakurikuler dance yang Vey lupa namanya. Mereka satu angkatan tapi berbeda jurusan. Beberapa buku yang dibawa oleh siswi itu berjatuhan karena bertabrakan dengan Vey. Dia terlihat kesal, apalagi setelah mengetahui orang yang bertabrakan dengannya adalah Vey.

Kenapa Vey selalu saja bertabrakan dengan orang lain? Kenapa di manapun Vey berada, selalu saja ada masalah yang menghampirinya? Apakah Vey tidak bisa lebih ceroboh lagi dari ini?

"Eh, Triplek! Lo malah diem aja! Buku gue jatuh semua gara-gara lo!"

Vey terkejut mendengar seruan itu. Siswi yang bertabrakan dengannya itu sudah berjongkok, meraih bukunya satu persatu. Akhirnya Vey ikut berjongkok, membantunya.

Sepertinya orang-orang sudah mengklaim nama panggilan 'Triplek' atau 'Kaku' untuk Vey dan karena itu dia ragu orang-orang itu sebenarnya mengetahui nama aslinya atau tidak.

"Kalau jalan liat-liat dong, Triplek," ujar siswi itu. "Biar nggak jadi ribet begini."

Ini bukan sepenuhnya salah Vey. Tapi lagi-lagi tentu saja harus Vey yang disalahkan.

Vey tidak membalas, hanya diam menelan hujatan demi hujatan yang dilontarkan oleh siswi di hadapannya itu.

Setelah siswi itu pergi dari hadapan Vey, dia kembali melanjutkan langkah menuju kantor guru. Dengan mudah, Vey menemukan Miss Jennifer yang tengah duduk di kursinya. Vey segera menghampirinya.

"Permisi, Miss," ucap Vey sopan. "Ada apa, ya?"

Miss Jennifer mendongak. Keningnya berkerut menatap Vey. "What are you doing here, Verina? Bukankah jam istirahat sudah berakhir dan kamu seharusnya sudah berada di kelas?"

"Tapi katanya, Miss memanggil saya?"

Kerutan di kening Miss Jennifer semakin dalam. "Who said that? Lebih baik kamu pergi ke kelas sekarang. Tidak ada yang ingin saya bicarakan dengan kamu."

Bodoh. Seharusnya Vey tahu kalau dia dikerjai lagi.

Apa sebenarnya salah Vey sehingga semua orang tampaknya sangat membencinya? Vey tidak menyalahkan siapapun jika semua orang membencinya, hanya saja apakah Vey pantas diperlakukan seperti ini hampir setiap saat? Apakah ada seseorang yang pantas diperlakukan seperti ini?

Vey menundukkan kepala saat kakinya membawanya memasuki ruang kelas. Beberapa di antara teman-temannya mulai cekikikan. Vey duduk di kursinya, tanpa memedulikan apapun.

"Vey, lo nggak apa-apa?" tanya Calvin dengan nada khawatir.

Oh, ayolah, Calvin. Berhenti berpura-pura, batin Vey. Dia tahu kalau Calvin sebenarnya ikut menertawakannya di belakang.

The Gloomy Girl (E-book)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang