#13 tahu diri

602 64 6
                                        

Vey harus membiasakan diri untuk sarapan dan makan malam bersama dengan kedua anggota keluarga barunya, juga berada di rumah yang besar ini. Jangan sampai Nora merasa kecewa karena Vey tidak berkelakuan baik di tempat baru ini.

Baiknya adalah Nora tidak lagi pulang larut malam. Ibunya itu selalu pulang bersama Aryo tepat waktu setengah jam sebelum makan malam dimulai.

Jessica masih senang tutup mulut, membuat Vey juga berlaku demikian. Hanya bersuara jika salah satu di antara Aryo atau Nora bertanya padanya.

Setelah makan malam kali ini, Vey beranjak pergi ke kamar. Kakinya sudah terasa lebih baik karena tadi sore tiba-tiba ada tukang urut yang datang dan mencari Vey. Dia sangat tahu kalau tukang urut itu ulah Aidan, tapi karena kakinya sakit, Vey tidak menolak saat kakinya mulai diobati.

Jadi, terima kasih banyak untuk Aidan! batin Vey merutuki Aidan habis-habisan.

Setelah berhasil duduk di atas tempat tidur, Vey memeriksa ponselnya. Benar saja, ada beberapa pesan masuk dari Calvin.

Calvin

Ternyata Liona cuma flu biasa. Bukan kena flu kucing.

Bagus lah. Gue pikir separah itu.

Vey tersenyum kecil dalam hati. Ikut merasa senang karena Adik Calvin yang bernama Liona itu tidak sakit terlalu parah. Ternyata hal ini yang menyebabkan Calvin harus pulang sekolah lebih cepat dari biasanya. Karena Liona sakit dan tidak ada orang di rumahnya.

Vey tidak memberitahu Calvin tentang insiden yang menyebabkan kaki Vey terkilir. Vey tidak memberitahu Calvin kalau tadi Aidan membuatnya menangis lagi. Dan Vey tidak memberi tahu Calvin kalau Aidan adalah pacar Jessica, saudara tirinya yang cantik itu.

Vey

Makanya jangan terlalu sering main sama cherry. Lagipula, apa yang membuat lo bisa menyimpulkan kalau liona kena flu kucing?

Calvin

Yah, baru-baru ini kan cherry sakit. Terus beberapa hari lalu gue nemu artikel tentang flu kucing. Gue jadi paranoid aja waktu tau liona sakit.

Sebelum Vey sempat membalas, ada ketukan di pintu kamarnya. Sebenarnya lebih terdengar seperti gedoran. Dan dengan gedoran itu, Vey langsung bisa menyimpulkan kalau orang yang tengah berada di depan pintu kamarnya adalah Jessica.

"Pintunya nggak dikunci, Jess," ujar Vey dari dalam kamar.

Beberapa detik kemudian, pintu kamar Vey terbuka dan langsung memunculkan Jessica di depan sana. Raut wajah Jessica datar saat cewek itu melangkah masuk ke dalam kamar Vey dan berdiri di tembok samping pintu. Kedua tangannya menyilang di depan dada sementara tubuhnya bersandar pada tembok di belakangnya.

"Kenapa gue nggak tahu kalau lo sekolah di Angkasa?" tanya Jessica tanpa basa-basi.

Vey mengedikkan bahu. "Lo nggak nanya."

"Dan lo satu kelas sama Aidan." Jessica menggeleng tak percaya. "Gimana bisa?"

"Kalau lo, gimana bisa kenal dan pacaran sama Aidan?"

Jessica tertawa malas. "Emangnya lo perlu tau?"

Vey menggeleng. "Nggak. Tapi gue rasa, lo lebih baik nggak sama dia."

Mungkin ini efek kejahatan Aidan terhadap Vey yang semakin menjadi sehingga Vey sampai berani berbicara seperti itu kepada Jessica. Bukan apa-apa, Vey hanya tidak ingin Jessica juga dijahati oleh Aidan. Meskipun Vey sangat yakin kalau Aidan melakukan hal-hal jahat hanya kepada Vey saja.

"Lo siapa, berani ngomong begitu tentang dia? Lo bahkan mungkin nggak kenal Aidan sama sekali!"

Vey meringis dalam hati. Kenapa dia jadi meributkan soal Aidan dengan Jessica begini? Apakah tidak ada hal penting yang lain?

Tapi bibir Vey tidak bisa ditahan untuk mengatakan, "Mungkin versi yang Aidan tunjukkin di depan lo dan di depan gue beda. Dan bagi gue, versi Aidan yang gue tahu itu nggak baik. Sangat nggak baik."

"Mungkin ini yang menyebabkan lo nggak punya temen di sekolah. Karena lo sangat suka ikut campur ke dalam urusan orang lain."

Vey berhenti berbicara, masih berusaha mencerna apa yang Jessica baru saja katakan. Jahat sekali ucapan itu.

Jessica tersenyum sinis melihat Vey yang diam saja. "Aidan udah cerita ke gue. Nggak ada orang yang suka sama lo. Lo itu sangat menyedihkan. Aidan bilang, lo nggak bisa diajak bercanda, bahkan senyum di depan orang lain pun lo nggak pernah. Kenapa, Vey? Lo merasa terlalu tinggi? Menganggap diri lo dewa?"

Vey tidak pernah menyangka ucapan Jessica bisa begitu menusuknya seperti ini.

"Lo harus tahu diri, Vey! Lo sama Nyokap lo itu sama aja! Tempat kalian itu sama! Di luar sana di tempat yang nggak jelas! Bahkan sampai saat ini gue masih nggak mengerti apa yang membuat Papa sudi menikah sama Nyokap lo yang murahan itu!"

Dada Vey terasa berapi-api. Dia ingin segera membalas ucapan Jessica yang sangat jahat itu dan membela Nora mati-matian. Tapi kepala Vey berusaha untuk tetap dingin. Dia tidak ingin memperkeruh suasana di antara mereka.

Vey tidak ingin membiarkan Jessica merasa menang karena berhasil menyulut emosinya. Selain itu, Vey tidak ingin kedua orangtuanya kecewa karena hubungan di antaranya dan Jessica yang semakin memburuk dari hari ke hari.

"Gue mau malam ini lo tetep di kamar. Jangan berani keluar karena temen-temen gue mau dateng. Mereka mau menginap," titah Jessica seraya berbalik badan, berjalan keluar.

"Temen lo mau menginap? Besok 'kan sekolah, Jess."

Jessica memutar badannya lagi untuk menatap Vey dengan senyum meremehkan. "Menurut gue, menginap di malam sekolah itu sah-sah aja. Tapi mungkin bagi lo, yang literally have no one as a friend, itu suatu hal yang nggak mungkin dilakukan."

×

Jam istirahat kali ini, suasana kelas begitu ramai. Tapi Vey sedikit bersyukur karena kali ini Aidan tidak menargetkannya untuk menjadi sarana penindasan untuk hari ini. Cowok itu menahan seorang laki-laki dari kelas sebelah yang mampir untuk mengantarkan buku tulis dari ruang guru.

Memang sih, laki-laki itu tidak terlalu terlihat seperti laki-laki. Semua orang pasti tahu apa maksud Vey. Tapi kenyataan itu tidak membuat mereka berhak mempermalukannya di depan umum seperti sekarang.

Tapi sekali lagi, tidak usah heran. Mereka ini Aidan dan teman-temannya yang bajingan. Mengganggu orang lain memang kegiatan kesukaan mereka.

Aidan masih saja mengolok dan menertawakan laki-laki itu bersama teman-temannya sampai sepuluh menit kemudian. Akhirnya setelah mungkin sudah kehabisan ide tentang bagaimana harus mengganggunya lagi, Aidan melepasnya untuk segera pergi.

Lalu Aidan berjalan menghampiri meja Olivia, di samping meja Rania. Setelah datang kesana, Aidan menarik kursi untuk duduk sedekat mungkin dengan Olivia. Yah, siapapun tahu kalau Olivia adalah perempuan paling cantik di dalam kelas ini.

Aidan memanjangkan tangannya dan dengan santai meletakkannya di sekitar bahu Olivia. Vey merasa mual ketika Aidan mulai mengeluarkan kata-kata manis andalannya. Lima detik kemudian, Olivia menyuapinya sesendok makanan yang baru saja cewek itu beli dari kantin.

Kalau aja kisah hidupnya dijadikan novel remaja, kelakuan Aidan bener-bener bikin novel itu nggak appropriate untuk dibaca, batin Vey bersungut-sungut.

Vey menutup mata ketika teringat kalau semalam Aidan datang ke rumahnya. Cowok itu 'kan berpacaran dengan Jessica! Tapi kenapa kelakuannya menjijikkan begitu sih?

÷×÷

a.n

vote. comment. share. ha.

see you! xo.

The Gloomy Girl (E-book)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang