#34 trust issue

587 50 12
                                        

Vey segera turun dari motor Calvin setelah cowok itu memberhentikannya. Hari ini Calvin memaksa Vey untuk pergi ke rumahnya karena Liona berkata ingin bertemu dengan Vey.

Tidak masalah bagi Vey. Mungkin saja kali ini Vey bisa memperbaiki hubungan mereka yang awalnya tidak berjalan terlalu baik.

Calvin menggenggam tangannya, menuntunnya untuk masuk ke dalam rumah. Vey memutuskan untuk tidak protes atas tingkah Calvin karena cowok itu tampaknya tengah dalam suasana hati yang baik dan cukup bersemangat.

Hal pertama yang Vey lihat setelah berhasil masuk adalah Liona yang sedang menonton sebuah serial televisi sambil mengusap-usap tubuh Cherry yang bermalas-malasan di pangkuannya.

"Na! Lihat siapa yang dateng!" ujar Calvin sambil terus menggandeng Vey.

Kepala Liona menoleh. Saat itu juga senyum lebarnya berkembang, mengundang sebuah senyum untuk ikut muncul di wajah Vey. Liona melambaikan tangan dan memberi isyarat kepada Vey untuk duduk di sebelahnya.

Vey melepas tangan Calvin yang masih menggenggamnya sebelum berjalan perlahan menghampiri Liona dan duduk di sampingnya.

Sedetik kemudian, Liona tiba-tiba saja sudah menggenggam sebelah tangan Vey dengan ekspresi wajah penuh rasa bersalah. "Kak Vey, Kak Vey, tolong maafin aku, yah? Aku nggak tahu kalau sebelumnya Kakak 'sakit' atau apa aku nggak ngerti. Tapi aku seriusan minta maaf ke Kak Vey sekarang. Aku merasa nggak enak banget nih, Kak."

Dengan itu, tatapan mata Vey langsung mengarah pada Calvin yang kali ini mengangkat tangannya membentuk angka dua. "Peace!" ucap Calvin dengan wajah tanpa dosa.

Mungkin kalau tidak ada Liona disini, Vey akan langsung menjambak rambut Calvin sampai botak.

"Kak, maafin, ya, please!"

Vey kembali menoleh ke arah Liona dengan senyum maklum. "It's no big deal. Nggak usah terlalu diambil pusing, Liona. I'm glad we can be friends now."

Sontak, Liona memasang ekspresi paling bahagia sambil menepuk-nepuk tangannya sendiri. "Yes, yes, we're friends now! Oh, ya, sebentar, aku ambil minum untuk Kak Vey, oke?"

Liona begitu saja mengacir untuk pergi ke dapur. Vey kembali menatap Calvin yang kali ini sudah duduk dengan posisi tidak terlalu jauh.

Calvin mengedipkan sebelah mata padanya. "Progress, right?"

"Yeah, whatever, Mr. Big Mouth," cibir Vey sambil memutar mata.

Calvin berpindah posisi untuk duduk tepat di sebelah Vey. Senyuman tak kunjung hilang dari wajah cowok itu. "Vey, gue seneng banget bisa lihat lo senyum. Ternyata lo pribadi yang sangat mudah untuk dibuat senyum, ya?"

Vey mengangguk setuju. Saat seketika mengingat respon keluarganya ketika mengetahui bahwa Vey sudah dapat menunjukkan ekspresinya ke semua orang, Vey tersenyum senang. Respon keluarganya membuatnya senang sekali. Mereka tampak bersyukur sekali akan hal itu. Begitupun Vey, tentu saja.

Calvin meraih Cherry yang tiba-tiba muncul di kakinya. Melihat itu, sontak saja senyum Vey terbit lagi. Mereka terlalu lucu untuk dilihat.

"Dan ternyata, lo beneran suka kucing. Or at least, suka Cherry."

Vey menjulurkan lidah. "Buat apa gue bohong sama lo?"

Liona datang dengan sebuah gelas berisi cairan berwarna oranye. "Nih, Kak Vey, silahkan diminum."

Vey tersenyum berterima kasih kepada Liona. "Terima kasih, Liona."

Liona duduk di tempatnya semula. "Cal sering cerita soal kamu lho, Kak."

The Gloomy Girl (E-book)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang