-6-

5K 733 48
                                        

Sana terkejut mendapati lampu di rumahnya menyala. Dia ingat betul dia tidak menyalakan lampu sebelum berangkat menemui Gea. Cepat-cepat Sana masuk ke dalam rumah yang pintunya ternyata tidak terkunci. Benar saja, ada Riko sedang makan nasi goreng bungkus di meja makan.

"Loh? Katanya gak pulang?" tanya Sana, tidak bisa menyembunyikan wajah gembiranya.

"Gak jadi. Suami lo aktingnya bagus. Sekali take, Pak Nahran udah puas. Jadi tadi jam sepuluh udah pada pulang kecuali beberapa pemain yang masih harus take."

"Tatiana?"

"Dia pulang juga. 'Kan sama hebatnya dengan suami lo—eh, kok nanyain Tatiana?"

Sana tidak menjawab. Dia lebih peduli dengan keberadaan Abimanyu di kamar mereka.

Ternyata Abimanyu sudah tidur. Dari wajahnya, Sana yakin suaminya itu benar-benar kelelahan. Sana mengusap pelan rahang Abimanyu yang licin tanpa ditumbuhi rambut-rambut halus sehelai pun. "Tidur yang nyenyak ya, Bi..." Sana mengecup kening Abimanyu pelan, lalu perhatiannya tertuju kepada HP Abimanyu yang layarnya menyala. Sepertinya suaminya itu lupa mengaktifkan dering HP-nya usai syuting.

Mengambil HP Abimanyu yang diletakkan di atas nakas—masih dalam posisi duduknya yang belum bergeser sedikitpun dari sisi Abimanyu—Sana tidak bisa menahan dorongan keinginan memeriksa HP suaminya.

Jantungnya mencelos begitu ia melihat nama Tatiana di deretan notifikasi. Perempuan itu mengirimkan pesan yang bisa Sana baca meskipun dia tidak membuka pesannya.

Makasih ya, Bi, udah mau dengerin curhatan aku tadi. Aku seneng banget, setidaknya jadi lega gitu deh. Besok jadi 'kan makan siang bareng? Break syuting 'kan agak lama tuh... kayaknya kita sempat deh kalau mau jalan-jalan dulu bentar. Kebetulan ada yang mau aku beli.

Sana tiba-tiba kesulitan menelan ludahnya sendiri. Darahnya terasa berdesir meninggalkan kedua kaki dan tangannya, lalu berkumpul tepat di tengah-tengah dadanya. Entah kenapa bagian itu terasa panas dan sesak.

Sana meletakkan HP Abimanyu. Tidak bisa mengendalikan kekuatannya, terdengarlah suara yang lebih serupa dengan suara bantingan ketimbang meletakkan sesuatu pelan-pelan. Abimanyu pun terbangun, terkejut melihat Sana yang berlari masuk ke kamar mandi sambil menangis.

"Sayang! Hei, kamu kenapa? Buka pintunya!" Abimanyu menggedor-gedor pintu kamar mandi. Saking kerasnya suara gedoran pintu yang ditimbulkan Abimanyu, Riko sampai-sampai menyusul masuk ke kamar.

"Kenapa, Bi?" tanya Riko.

"Gue gak tahu. Tiba-tiba Sana masuk ke kamar mandi sambil nangis."

Tatapan Riko jatuh ke HP Abimanyu yang layarnya masih menyala. "Bi." Riko menunjuk hp Abimanyu dengan sorot matanya. Sekarang, baik Abimanyu maupun Riko tahu apa penyebab Sana menangis dan mengurung diri di kamar mandi.

"Sayang...." Abimanyu mengetuk pelan pintu kamar mandi. "Kamu lihat apa di HP aku sampai kamu nangis? Tatiana lagi? Buka dong pintunya, kita bicarain baik-baik, ya...."

Sana menurut. Ia membuka pintu kamar mandi, membuat Abimanyu tertegun melihat raut wajah sedihnya. Sudah lama sejak terakhir kali Sana menangis hebat sampai wajahnya memerah. "Ka-kam-u... be-besok mau ma-kan si-a-ang bar-reng sama d-dia, k-kan?" tanya Sana, sesenggukan. Bicaranya tidak jelas, tapi Abimanyu paham apa yang dikatakan istrinya itu.

"Iya, dia ngajakin. Katanya ucapan terima kasih karena aku mau dengerin curhatan dia dan kasih saran. Perginya gak berdua kok, Riko juga ikut. Manajer Tatiana juga ikut."

"Ta-tapi a-aku gak suka!"

"Kalau kamu gak suka, aku bakalan nolak ajakan makan siang dia. Udahan dong nangisnya. Aku jadi ikutan sedih...." Abimanyu merentangkan tangannya

Sana menghambur ke pelukan Abimanyu. Tangisnya mulai mereda saat suaminya itu mengusap-usap punggungnya secara naik turun, sambil sesekali menepuk-nepuknya pelan.

"Bikin gue kaget aja," ujar Riko. "Dah, dah. Jangan nangis lagi, San. Lo boleh cemas sama yang namanya Tatiana itu. Tapi ada gue juga yang bakalan jagain Abimanyu. Inget, lo sama Abimanyu tuh bukan sekedar temen bisnis aja sekarang, tapi udah kayak saudara gue sendiri. Gue pasti lindungin orang-orang yang gue sayang." Riko mengacak-acak rambut Sana. "Gue tidur duluan ya. Lo juga tidur, Bi. Besok berangkat pagi lagi kita."

Bersamaan dengan Riko yang keluar dari kamar mereka, Abimanyu menggiring Sana ke kamar mandi. "Cuci mukanya gih sekalian sikat gigi. Aku mau kunci pagar dan pintu dulu. Udah sholat isya?"

Sana menggeleng.

"Yaudah, kamu sholat dulu. Aku sekalian ambilin irisan timun dingin buat kompres mata kamu biar besok gak bengkak." Abimanyu mencium bibir Sana, memagutnya sekilas. "Aku sayang kamu, San. Kamu harus percaya kalau aku gak akan khianatin kamu."

Mau update dua kali hari ini? Boleh minta hadiah 100 komen? :3 Jangan lupa vote-nya ya!

Pastikan kalian udah share cerita ini ke teman-teman kalian! Kalau kalian share ini di Instagram, jangan lupa tag aku zeeyazeee

Once Upon A SecretTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang