Sana melawati ambang pintu utama rumahnya dengan langkah lesu. Begitu ia menyalakan lampu, yang pertama menyita perhatiannya adalah dapurnya yang terlihat berantakan dari kejauhan.
Begitu Sana mendekat, ia menemukan gagang panci anti lengket yang baru ia beli sebulan lalu patah. Pasti ulah Abimanyu. Hingga kini, Sana tidak bisa membayangkan seheboh apa suaminya itu saat memasak, sampai-sampai bisa mematahkan gagang panci sekeras itu.
Biasanya Sana akan marah. Tapi kali ini, dia justru rela jika semua gagang panci atau alat masaknya yang lain rusak, asalkan Abimanyu mau memaafkannya. Melihat bagaimana tatapan pria itu kepada Sana, dan saat ia membiarkan Tatiana menggandeng lengannya mesra, membuat ketakutan Sana akan kehilangan Abimanyu semakin besar.
Mencoba mengalihkan perhatiannya, Sana memutuskan untuk membersihkan dapur lalu memasak. Sana sudah menekan tombol cook pada rice cooker-nya, saat ia berjalan ke depan rumah untuk membuang sampah.
"Mbak, ini rumahnya Abimanyu yang tenar itu, kan?"
Kedua bola mata Sana membulat sempurna. Dia mengingat perempuan yang sedang bertanya itu sebagai ibu berdaster yang ditemuinya di warung dulu sekali, saat ia menyamar. "E-eh, a-anu—"
"Wuah! Ada orangnya?" tanya Ibu itu lagi.
"Eh, g-gak ada, Bu. Lagi keluar."
"Terus Mbak ini siapanya?"
"A-anu—" Sana menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. "S-saya pembantunya." Sana Mahira! Gak ada jawaban yang lebih bagus apa?!
"Oh, pembantunya. Cantik-cantik kok jadi pembantu, Mbak?"
"Gajinya gede, Bu," jawab Sana lagi, sekenanya. Sudah terlanjur, mau apa lagi?
"Kalau Mbak sudah bosen kerja di sini. Bilang ke saya, ya! Biar saya aja yang kerja di sini, lumayan bisa lihat muka ganteng tiap hari. Tuh, rumah saya di sana." Ibu berdaster itu menunjuk sebuah rumah yang terlihat lebih mewah dari rumah Sana dan Abimanyu. "Saya baru pindah ke sana. Suami dinaikin jabatannya." Perempuan itu tertawa ala-ala ibu-ibu komplek yang sedang bergosip. "Main aja ke sana kalau lagi suntuk, Mbak. Nanti bantu-bantu saya buat beres-beres rumah. Tenang aja, saya bayar."
Sana tertawa salah tingkah, saat ibu berdaster itu pergi sambil melambai-lambaikan tangannya.
***
Sudah jam sebelas malam. Abimanyu belum juga pulang, dan makanan yang dimasak Sana sudah dimasukkan ke kulkas supaya tidak basi. Riko bilang dia sedang tidak bersama Abimanyu, saat Sana menelepon memastikan keberadaan Abimanyu setengah jam yang lalu.
Sana memainkan HP-nya. Melihat-lihat akun Instagram yang rajin mengunggah video mukbang, atau Do It Yourself. Kemudian, perempuan itu memutuskan untuk membuat mi instan, begitu perutnya berbunyi karena lapar. Sana memang sengaja menunggu Abimanyu pulang agar mereka bisa makan bersama.
Suara TV yang tidak ditonton, menemani Sana dari perempuan itu memasak mi instannya, hingga ia selesai memakan habis makanan itu. Jam menunjukkan pukul setengah dua belas malam, dan Abimanyu belum juga pulang.
Kembali merebahkan diri di kasurnya sambil bergelung selimut, Sana mengambil HP-nya yang tergeletak di atas nakas. Ia mencoba menelepon Abimanyu berkali-kali. Awalnya hanya dibiarkan sampai tidak terjawab, di percobaan kesepuluh, Abimanyu menolak panggilannya, dan di percobaan kelima belas HP pria itu tidak aktif.
Sana meletakkan HP-nya ke atas nakas, lalu berbaring miring ke sisi sebaliknya. Ini adalah pertama kalinya Abimanyu sampai mematikan HP-nya. Sepertinya, meminta maaf kepada pria itu tidak akan semudah yang Sana duga.
Tidak ingin tertidur, Sana meninggalkan kamar menuju sofa ruang tengah.
Bi, kamu di mana? Acaranya belum selesai? Cepet pulang, Bi. Maafin aku.
Perempuan itu kembali menyalakan TV sambil sesekali memeriksa HP-nya, kalau-kalau Abimanyu membalas pesannya. Kemudian, kedua kelopak matanya pun terasa sangat berat. Padahal Sana sudah menyibukkan diri dengan membaca komik di web, atau novel di Google Play Book, namun pada akhirnya perempuan itu menyerah dengan rasa kantuk yang menghampirinya.
Sana memimpikan Abimanyu yang pulang ke rumah. Mengecup keningnya dengan penuh cinta, sebelum kemudian memindahkan tubuhnya ke kamar. Abimanyu mengenakan pakaian yang sama dengan yang ia kenakan saat terakhir Sana bertemu dengan pria itu di lokasi syuting. Usai membaringkan Sana, Abimanyu ikut berbaring seraya memeluk Sana.
Dalam mimpinya, Sana bergelung manja di dalam pelukan Abimanyu. Membalas pelukan Abimanyu dengan pelukan yang lebih erat sambil berkata, "Bi, I'm sorry for being so selfish. Aku mikirin diri aku sendiri, dan mengabaikan perasaan kamu. Aku nyalahin kamu seenaknya, padahal apa yang terjadi justru bermuara dari sikap dan keputusan aku yang pada dasarnya hanya demi kebaikan diri aku sendiri."
"Aku udah maafin kamu, jauh sebelum kamu minta maaf ke aku."
KAMU SEDANG MEMBACA
Once Upon A Secret
RomanceSana Mahira, 27 tahun, seorang penulis novel terkenal. Baru saja menerima tawaran untuk memfilmkan novel pertamanya. Tapi, impian yang akan segera menjadi nyata itu malah menjadi awal masalah rumah tangga Sana dengan Abimanyu Kendrata--suami yang d...
