Keesokan hatinya.
Saat sinar hangat matahari menyinari bumi, Angga terbangun dari jurang mimpi saat dia mendengar deru mobil yang tidak asing di telinganya. Berjalan mendekati jendela, dia membuka tirai dan melihat mobil Mercedes berwarna hitam milik Bella yang perlahan menjauh dari rumah.
“Wanita itu benar-benar tidak tahu arti dari beristirahat? Ataukah dia benar-benar terlalu gila dalam bekerja? Apakah harus, aku mengajarinya cara untuk menikmati hidup?” gumam Angga sambil memikirkan sesuatu dan tersenyum misterius.
Setelah mandi dan mengenakan seragamnya, Angga langsung keluar dari kamar dan melihat Bi Inah yang tengah menyiapkan sarapan di atas meja.
Berjalan mendekati meja makan, Angga menarik kursi dan perlahan duduk sambil menatap Bi Inah. “Bi, apakah Bibi tahu, apa yang dilakukan Bella pagi-pagi seperti ini?”
“Bibi juga kurang tahu. Apakah Nona tidak memberitahu Tuan?” tanya Bi Inah dengan penasaran.
‘Memberitahukan ku? Bagaimana mungkin ...’ pikir Angga sambi tersenyum kecut di dalam hatinya. Jika Bella benar-benar memberitahukan sesuatu kepadanya, itu mungkin pertanda dari akhir dunia.
Menggelengkan kepalanya, Angga perlahan mengisi piring di depannya dan dengan santai berkata, “Bella tidak membertahukan apa-apa kepadaku. Oh, ya. Ngomong-ngomong, apakah Bella sudah sarapan sebelum berangkat bekerja?”
“Haahh ... Nona sudah biasa seperti ini. Bibi kadang khawatir dengan kebiasaan buruk Nona yang seperti ini,” keluh Bi Inah sambil menghela nafas sedih. Melihat Angga di depannya yang sedang mengunyah paha ayam, mata Bi Inah bersinar saat dia dengan bersemangat berkata, “Mungkin jika Tuan yang membujuk Nona, Nona akan mendengar dan menurutinya.”
“Uhuuukkk! Uhuuuukkkk!”
Mendengar saran Bi Inah, Angga tiba-tiba tersedak tulang ayam yang sedang digerogotinya dan dengan buru-buru menepuk dadanya.
‘Jika Bibi saja tidak bisa membujuknya, bagaimana mungkin aku bisa!’ teriak Angga di dalam hatinya.
Dengan tulang yang menyangkut di kerongkongannya, Angga membuka lebar mulutnya dan menunjuk sesuatu di atas meja. “Aaaa!! Aaaaa!!!”
“Ah?! Tuan?! Nasi?! Ya! Ini dia! Ini dia! Aaaa!!” Melihat Angga yang tersedak, Bi Inah dengan panik dan cemas mengambil secentong nasi dan menyodorkannya ke mulut Angga.
“Aaaa ... Aaaa ...” Dengan mata berkaca-kaca, Angga menggelengkan kepalanya dan merasa ingin menangis saat melihat Bi Inah.
“Ah?! Apakah ini masih kurang?!” tanya Bi Inah dengan cemas dan kembali mengambil nasi. “Ini, Tuan! Cepat. Aaaa!”
“Aaa ... Aaaa ... Aiiirrrrr!!” jawab Angga dengan susah payah.
“Air?! Ah! Benar, air!” Menaruh centong di tangannya, Bi Inah dengan cemas mengambil gelas berisi air dan langsung menyerahkannya kepada Angga.
Menerima gelas dari tangan Bi Inah, Angga dengan cepat mengosongkan isinya dan menghela nafas lega, “Haaaahhh ... Selamet, saudaranya untung ... Aku masih hidup ...”
“Bagaomana? Apakah Tuan baik-baik saja? Bagaimana perasaannya sekarang?” tanya Bi Inah yang masih terlihat panik dan cemas.
“Sudah, sudah. Aku baik-baik saja sekarang,” kata Angga sambil tersenyum ringan dan mengelus dadanya saat melihat Bi Inah yang tampak masih khawatir. Tidak ingin terlalu membuat Bi Inah merasa khawatir, Angga dengan cepat memikirkan sesuatu dan berkata, “Oh, benar. Bi, tolong siapkan bekal makanan untuk Bella. Nanti, aku akan mengantarkan langsung kepadanya.”
“Eh? Oh, ya. Bibi akan siapkan,” balas Bi Inah sambil menganggukkan kepalanya saat mendengar Angga ingin membawakan bekal untuk Bella. Dia perlahan berjalan menuju dapur sambil sesekali melirik Angga untuk memastikan bahwa dia benar-benar baik-baik saja.
Setelah menerima bekal makanan yang disiapkan Bi Inah untuk Bella, Angga tidak ingin membuang waktu dan langsung menaiki motor sport-nya. Melihat tidak ada polisi yang berjaga, Angga dengan cepat melaju menyusuri jalanan padat Ibukota tanpa mempedulikan kendaraan lain di depannya, dia menggeber motor sportnya dengan kencang dan meliak liuk bagaikan pembalap jalanan.
Tidak butuh waktu lama, Kantor Edelweis telah memasuki bidang penglihatan Angga. Dia sedikit memperlambat motornya dan melihat Eko dan Udin yang tampak seperti menunggu sesuatu di depan pos satpam.
“Apakah kalian berdua sedang menungguku?” tanya Angga sambil melepaskan helm yang menutupi kepalanya.
“Ngapain kami nungguin loe? Enggak ada kerjaan amat,” jawab Eko dengan ketus sambil melihat motor sport yang ditunggangi Angga dengan iri dan dengki. Setan gundul mana yang digunakan pria ini sampai bisa mendapatkan istri kaya seperti ini? Pikir Eko dengan rasa cemburu di hatinya.
“Terus? Nungguin siapa?” tanya Angga dengan sedikit penasaran.
Melihat Angga yang tampak tertarik, Udin mendekati Angga dan menyikut pinggangnya. “Hehehe ... Ente kan sudah punya bini. Jadi, lebih baik nonton aja, jangan ikut-ikutan urusan kami.” Udin menyarankan ini bukan karena dia peduli terhadap Angga. Tapi lebih untuk mengurangi saingannya. Dengan tampang Angga, dia pasti akan kalah dengannya.
“Bener tu. Loe kan udah punya bini. Jadi enggak usah ikut-ikutan,” sindir Eko sambil melirik Udin.
“Ente nyindir ane, ko?” tanya Udin dengan tidak senang.
Saat mereka berdua mulai memanas dan pertempuran sengit akan dimulai, Tiba-tiba ...
“Jamuuu~ Jamuuu~~”
Suara wanita yang merdu dan menggoda terdengar tidak jauh dari mereka.
“Nah! Itu dia!” teriak Eko dan Udin dengan bersemangat dan melihat wanita cantik yang perlahan mendekati mereka.
Mengikuti pandangan Eko dan Udin, Angga melihat seorang wanita dengan setelan kebaya yang melilit tubuh luesnya. Dengan senyum mempesona yang selalu menggantung di bibirnya, wanita itu berjalan sambil meliak liukan pinggulnya. Dia tampak tidak merasakan beban berat yang ada di punggungnya dan dengan perlahan mendekati mereka.
“Jadi, ini yang kalian tunggu?” tanya Angga sambil melihat wanita itu dan perlahan turun dari motor sport-nya. Eh, tidak benar, itu motor istrinya.
“Gimana? Masih oke kan? Dia Inem, janda kembang beranak dua. Ane saranin deh, jangan deket-deket kalau iman ente enggak kuat,” bisik Udin kepada Angga.
“Hehehe ... Tenang aja. Enggak ada wanita yang bisa menggoda atau merayu aku dengan mudah,” balas Angga sambil tertawa sombong dan mulai merapikan rambutnya.
“Inget istri di rumah, oy. Inget,” sindir Eko dengan tidak senang saat melihat Udin dan Angga yang saling berbisik. Jika mereka berdua ikut dalam kompetisi ini, bagaimana nasib jomblo sepertinya. Pikir Eko dengan sedih tapi tidak bisa mengeluarkan air mata.
“Eh, Mas Udin dan Mas Eko. Udah lama ya, nungguin Inem?” tanya inem dengan suara yang sedikit centil dan genit. Melihat Angga yang bersandar pada motor sport-nya, mata Inem bersinar bagaikan bintang jatuh saat dia melihat wajah Angga yang tampan dan terlihat gagah dengan baju seragamnya.
“eh, Mas ganteng. Baru kali ini Inem melihatnya,” kata Inem sambil berjalan mendekati Angga dengan senyum mempesona.
“Dia Angga, baru kemaren bekerja di sini. Dia sudah punya bini.” Melihat Inem yang mendekati Angga dengan cara yang manja, Eko dengan cepat menjelaskan kepada Inem berharap ...
“Oh, sudah punya istri ya? Tapi, kalau Mas Angga mau, Inem rela kok, jadi yang kedua. Hehehe” goda inem sambil mencolek pinggang Angga. Sebagai seorang wanita normal, bagaimana mungkin dia tidak tertarik dengan seorang pria yang tampan dan mapan seperti Angga.
“Atau, jangan-jangan, Mas Angga takut dengan istrinya ya? Hehehe ...” tambah Inem sambil tertawa menggoda dan menutupi mulutnya.
“Takut? Mana mungkin aku takut kepada istriku ... Emangnya kamu beneran mau dengan yang sudah beristri?” tanya balik Angga sambil menggoda Inem dan mencolek pinggangnya.
Saat tangan Angga menyentuh pinggang Inem, dia merasakan tatapan dingin dan niat membunuh yang menusuk dari belakang punggungnya. Tanpa ragu-ragu, Angga langsung menolehkan kepalanya dan melihat mobil Mercedes hitam yang perlahan mendekat.
Tanpa sadar, keringat dingin sebesar jagung mulai bermunculan di dahi Angga....
...
...Terima kasih telah membaca, jika berkenan,
- Pembaca diharapkan memberi penilaiannya pada cerita ini dalam skala 1 - 100 (silakan tulis di kolom komentar),
- Jika pembaca mendapati typo, salah dalam penempatan tanda huruf, atau yang lainnya, harap untuk mengomentarinya di kolom komentar. Untuk pembelajaran ke depannya.Like & Share if you care

KAMU SEDANG MEMBACA
Pernikahan Kontrak 1 Milyar (Tunda)
RomanceMenceritakan seorang penjual rujak bernama Angga, namun dia memiliki identitas khusus yang tidak diketahui oleh orang biasa, dan tiba-tiba terjebak pernikahan kontrak selama 4 tahun dengan wanita dingin dan kaya bernama Bella. Ada juga wanita cantik...