Chapter 14

6 3 2
                                    

Entahlah emangnya kamu siapa?
Mengapa perasaan yang dulunya telah mati, kini kembali ada terhadapmu.
-Mindy-
💜💜💜💜

"Baik lah, sekian dulu pelajaran kita hari ini. Bapak harap kalian tidak lupa dengan tugas yang bapak berikan, dan ingat waktu kalian 5 hari dari sekarang! kalian boleh pulang, Selamat siang."

"Siang..Pak.." Jawab seluruh siswa serempak.

Merdeka!! Waktu pulang adalah hal yang amat di tunggu-tunggu kini pintu kelas begitu sesak di padati murid 11 IPA 1, yang tak sabaran segera keluar dari kelas yang sudah hampir 8 jam mereka diami. Tentu saja saat guru Bahasa Inggris telah lebih dulu keluar.

Tapi di sisi lain, entah roh apa yang merasuki tubuh Mindy sehingga membuat ia tersenyum-senyum sedari tadi. Stevia yang melihat kejadian langka itu bergedik ngeri, pikirnya mungkin Mindy memang telah di rasuki oleh sebuah roh.

"Mindy.." Stevia menyenggol keras lengan kiri Mindy.

Mindy masih saja dengan senyuman indah terhias di wajah dingin nya itu, Stevia pun khawatir. Ia tak akan membiarkan hantu itu, mendiami tubuh sahabat nya lebih lama lagi.

Stevia mengambil air mineral yang ia beli di kantin tadi, lalu ia tuangkan sedikit di tangan kanannya dan Stevia cipratkan di wajah Mindy sembari mengomel-ngomel seperti orang mengucapkan mantra.

Wajah Mindy yang tadi nya bak putri  mudah tersenyum, kini wajah itu ibarat malaikat maut yang hendak mengambil nyawa Stevia.

Bukannya meminta maaf atas sikap nya Stevia justru memegang erat bagian atas kepala Mindy, lagi-lagi sembari mengucapkan mantra entah yang bahasanya dari mana.

Mindy menahan gejolak emosi nya dengan terdiam mendengar semua mantra-mantra Stevia.

Stevia menundukkan wajah nya ke hadapan wajah Mindy, lalu terhenti saat menyadari bahwa senyum indah itu tak lagi ada di wajah Mindy, Stevia kembali duduk dengan menyatukan kedua tangan nya dan menaik-turunkan tangan nya dengan berkata terima kasih berulang-ulang kali.

"Ok..Min? Kamu udah Ok?.." Tanya Stevia dengan tangan kanan membentuk tanda OK sempurna.

Mindy terdiam, lalu ia segera membereskan buku-buku nya ke dalam tas nya dengan kasar.

"Kamu pulang sama siapa Min?" Stevia yang sudah selesai berbenah dan sudah bangkit dari kursi panas nya itu, bertanya pada Mindy yang masih sibuk berbenah dengan wajah marah karena kelakuan Stevia.

"Mindy? Kamu pulang sama siapa Beb?" Stevia mentoel dagu Mindy yang sedang marah. Tanpa mereka ketahui ada sepasang mata yang melihat mereka.

"Mindy...Kamu pulang sama siapa??" Posisi Stevia yang kini menopang dagu nya dengan ekspresi bikin Mindy mules, membuat Mindy terpaksa menjawab pertanyaan nya itu dengan malas.

"jijik tau gak Stev, aku nanti pulang sama pak supir ntar dia jemput."

Stevia mengangguk paham, sebenarnya dia hendak mengantar Mindy dengan mobilnya karena dia tak akan tega membiarkan sahabat nya itu menunggu.

Tapi Mindy itu amat sangat keras kepala sama seperti dirinya, Stevia pun mengalah dan membiarkan Mindy pergi deluan dari kelas ini.

Stevia menatap kepergian sahabat nya itu di ambang pintu kelas nya, sembari menggeleng pelan. Mindy selalu berkata bahwa Stevia bersikap seperti anak-anak tapi yang Stevia pikir, Mindy lah yang berkelakuan bak anak-anak.

"Minggir!!" Stevia membeku, Stevia tak berpikir bahwa suara ini milik manusia atau roh halus karena ia sudah pernah mandengar suara berat nan datar  dari arah belakang ia berdiri. Stevia tak berniat bergeser sedikit pun ia mengepal tangannya kuat, emosi nya kini sudah di ubun-ubun tak mampu untuk di tahan lagi. Stevia pun membalikkan tubuh nya ke arah suara itu, lalu melayangkan kepalan tangan nya itu.

Walaupun Stevia dikenal dengan 100% cewek, dan di juluki sebagai The Beautiful Face di sekolah nya. Namun jiwa nya adalah jiwa seorang petarung, yang tak mau kalah dan mengalah.

Namun Stevia tetap lah seorang wanita yang jiwa nya tak sekuat lelaki, kepalan tangan yang dilayangkan Stevia dengan percaya diri tak sedikit pun mengenai wajah lelaki bak karya seni yang ada di hadapan Stevia.

Kepalan tangan Stevia di genggam erat oleh tangan kanan Onin, mata mereka bertautan tak sekali pun baik Stevia maupun Onin mengedipkan mata barang sekali.

Mereka larut dalam suasana tatapan itu, tanpa tau ada sepasang mata yang melihat mereka sedari tadi di balik pintu kelas.

Onin melempar kepalan tangan Stevia keras.

"Awww... Sakit gila!!" Stevia mengurut pergelangan tangan nya pelan. Merah di sekeliling pergelangan tangan Stevia, karena onin menggenggam tangan Stevia semakin kuat.

Onin tersenyum miring tak ada rasa peduli nya atau rasa bersalah nya kepada Stevia, bagaimana pun sebab Onin lah tangan Stevia menjadi seperti itu.

"Yang gila itu lo, bukan gue!!" Ucap Onin sinis lalu keluar dari kelas dengan menabrak keras bahu Stevia.

Stevia menganga lebar tak percaya, untuk kedua kali nya ia diam di perlakukan seperti ini apalagi dengan orang yang sama.

"Wah... Gila tuh orang, dia yang punya dosa kok gue yang di bacotin??" Stevia menghentak-hentak keras kaki nya karena kesal, ia merutuki diri nya yang diam karena di perlakukan seperti itu.

Sepasang mata itu pergi seiring keluar nya Onin tadi.

"Apa hubungan Stevia dengan Onin?"

Next???
Tolong vote, coment..😊😊

JANGAN LUPA FOLLOW AKU YA💜💜
Terima kasih😍😍

FRIEND or LOVE [?]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang