"Halo, Ndra?"
Reisa yang sudah terlelap, harus terbangun ketika ponselnya berdering pukul dua pagi. Wanita itu sebenarnya enggan menerima telepon. Namun, Andra tak mungkin menghubunginya jika tak penting.
Akhirnya Reisa mengangkat panggilan itu. Rasa khawatir lebih kuat daripada kantuknya.
"Bisa jemput dia sekarang?" tanya seorang wanita di seberang sana.
"Kamu siapa?"
Suara Reisa terdengar emosi ketika mendengar wanita itu berbicara dengan santai melalui ponsel Andra, sahabatnya.
"Tolong jemput aja dia. Teman kamu mabuk."
"Andra mabuk?" tanya Reisa tak percaya.
"Iya, udah teler nih."
"Kalian dimana?"
"The Ritz."
Wanita di telepon tadi menyebutkan sebuah kelab yang lokasinya terletak di pusat kota.
Setelah mengetahui semua secara detail, Reisa bergegas mengambil sweater beserta dompetnya. Dia menyalakan mesin mobil tanpa berpikir dia kali bahwa ini sudah larut malam.
"Astagfirullah."
Sampai di sana, Reisa hanya bisa menggeleng saat melihat keadaan Andra. Lelaki itu sedang teler di pangkuan seorang wanita yang meneleponnya tadi.
Andra terbaring dengan pakaian yang terbuka, sembari memegang sebotol minuman keras. Saat Reisa menghampiri mereka, wanita malam itu malah tersenyum senang, sembari mengecup dan meraba tubuh sahabatnya.
"Astagfirullah."
Reisa membuang pandangan karena malu melihatnya. Bertahun-tahun mereka bersahabat, wanita itu tak pernah melihat Andra begini.
Berkali-kali Reisa memalingkan wajah, merasa risih dan juga jijik. Apalagi saat melihat Andra tampak menikmati sentuhan itu.
"Kamu yang namanya Reisa?"
Wanita malam itu bertanya sembari mengisap rokok. Lispstiknya belepotan ke mana-mana. Sebagian menempel di wajah Andra.
"Iya benar."
"Tadi dia joget sama aku. Terus minta minum dan mabuk. Nih teler dan nyebut nama kamu terus."
"Ya ampun, Ndra."
Reisa mengumpat dalam hati. Jika memang Andra punya masalah, harusnya lelaki itu berbagi cerita. Bukan mencari pelampiasan di tempat seperti ini.
"Aku buka ponselnya pakai sidik jari, terus nelpon kamu. Kayaknya mas ini lagi patah hati."
"Dasar kamu, Ndra! Sejak kapan maen ke tempat beginian."
"Baiknya bawa pulang sekarang. Gak bisa ngapai-ngapain juga," ucap wanita itu genit.
Reisa kembali menggerutu, lalu menunjuk wanita itu untuk meminta bantuan.
"Kamu bantuin aku bawa dia ke mobil. Sekarang!"
Tanpa banyak basa-basi Reisa bertindak cepat. Dia tidak mau berlama-lama berada di tempat seperti ini.
Wanita malam itu mengangguk patuh. Akhirnya, dengan susah payah mereka berhasil membawa Andra ke mobil. Kaki jangkung Andra cukup sulit ditekuk. Bahkan kepalanya hampir saja terbentur.
"Dia belum bayar," ucap wanita itu sembari mengulurkan tangan.
"Memangnya kalian ngapain aja?"
"Cuma kiss. Adalah pegang-pegang dikit. Tapi itu juga gak gratis," ucap wanita itu menjelaskan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sahabatku, Suamiku
RomanceReisa mengira, kisah cintanya akan berakhir indah dengan menikahi kekasihnya Dimas, cinta pertamanya sejak masih remaja. Segala macam persiapan pernikahan telah rampung, hanya tinggal menunggu harinya tiba. Namun, takdir berkata lain. Dia harus men...
