Suaminya Mana?

3.6K 162 21
                                        

Masih ada tiga antrian dan Reisa sudah tidak tahan lama menunggu. Kakinya kesemutan, tubuhnya gemetaran. Mual yang terus menerus mendera membuatnya nekat berbaring di kursi tunggu, tak perduli ada banyak pasang mata yang melihatnya.

"Mual, Bik," katanya manja. Di tangannya ada sepotong roti manis untuk cemilan. Sedari tadi mulutnya mengunyah sambil mengeluhkan perutnya yang terasa tidak nyaman. Obat anti mual yang diberikan dokter dipemeriksaan sebelumnya juga tidak berefek banyak.

Mualnya tidak hilang, kecuali pada saat tertidur. Begitu bangun, dia memuntahkan semua yang dia makan sebelumnya.

Ya Tuhan. Beginikah rasanya mengandung? Rasanya dia tidak sanggup.

"Antrian nomor sepuluh. Silakan masuk." Terdengar suara panggilan. Tapi, yang dipanggil sedari tadi tidak kunjung masuk membuat si perawat kebingungan.

"Ibu Reisa. Ibu Reisa." Suara panggilan terdengar lagi.

"Non! Non! Dipanggil." Inah membangunkan Reisa yang terlelap. Inah sendiri tak ingat berapa nomor antriannya karena sedari tadi memijit bahu nonanya yang pegal.

"Eh, ayo masuk, Bik." Buru-buru mereka masuk ke ruangan tempat periksa.

Dr. Andini, Sp OG
Spesialis Kebidanan dan Penyakit Kandungan
Praktek Mandiri
Buka Senin-Sabtu pukul 20.00-22.00
Hari minggu dan tanggal merah libur

Begitu tulisannya. Ini dokter berbeda dari yang sebelumnya dia datangi. Setiap bulan harus berganti-ganti dokter. Begitu yang diperintahkan oleh papanya.

Walaupun awalnya menolak mentah-mentah, akhirnya Wisnu bisa menerima bahkan sangat menjaga putrinya sampai masa melahirkan tiba.

"Silakan berbaring." Dibantu perawatnya Reisa berbaring di ranjang pasien. Kemudian di bagian perut di oleskan gel untuk mempermudah pemeriksaan.

Dokter Andini mulai melakukan pemeriksaan. Meletakkan alat USG itu di perut datar Reisa.

"Bagus ya, Ibu. Janinnya sehat. Pertumbuhannya sesuai usia. Beratnya juga."

"Masih kecil ya, Dokter. Belum kelihatan." Reisa mengintip di layar.

"Iya, Bu. Sesuai usianya dua belas minggu. Tapi normal kok ini panjangnya lima sentimeter. Beratnya lima belas gram. Ini kaki dan tangannya sudah mulai terbentuk." Dokter cantik itu menunjukkan hasil gambar USG-nya kepada Reisa.

Dia tersenyum mengangguk.

"Tuh dengerin ya, Bu. Suara detak jantungnya." Saat speaker alat itu dinyalakan terdengarlah suara detak jantung si janin. Bersamaan dengan itu pula jantung Reisa ikut berdetak.

Dug dug dug ....

"Laki-laki atau perempuan, ya?"

Dokter itu tertawa kecil. Pertanyaan Reisa mungkin terdengar lucu baginya, walaupun ada banyak pasien yang ikut menanyakan juga.

"Belum terlihat, Bu. Nanti mungkin di trisemester kedua. Sabar ya, asal rutin berkunjung nanti saya akan bantu."

Wanita itu kembali mengangguk, tanda mengerti.

"Selesai, ya." Alat itu kembali diletakkan ke mesinnya, dan bekas gel dibersihkan.

Huek!

Rasa mual itu kembali menyerang. Dengan sigap si perawat membantu Reisa menuju wastafel. Wanita itu terlihat benar-benar pucat dan lemas.

"Ibu kemari." Dokter Andini memanggil Inah. Sementara itu, Reisa masih terus saja mengeluarkan isi perutnya di belakang.

"Sebelumnya periksa kemana ya, Bu?"

Sahabatku, SuamikuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang