Pagi yang Indah

3.8K 169 21
                                        

Mata Andra tak berkedip. Pemandangan di hadapannya sungguh memukau. Reisa terlihat cantik memakai dress selutut dan rambut yang di cepol asal-asalan. Wanita itu tengah asyik melihat-lihat Tarno yang sedang menyiram dan menanam beberapa bunga di taman belakang. Reisa mungkin lupa -atau tidak tahu- bahwa kamar Andra terhubung dengan taman itu.

Sejak tadi, lelaki itu menjadi pengintip di balik gorden. Tak berani membukanya lebar seperti hari-hari biasanya. Melihat apa yang dilalukan istrinya

Saat Reisa bersenda gurau dengan Tarno, hati Andra menjadi ketar-ketir dibuatnya. Melihat senyuman dan tawa wanitanya itu bergema, dirinya dipenuhi dengan berbagai macam rasa bahagia.

Ah, pagi ini memang indah.

Hampir empat bulan sejak mereka tinggal di sini, suasana sangat mencekam. Sejak insiden bubur waktu itu, sikap Reisa sedikit berubah. Sudah kembali ceria. Tawanya bahkan terdengar sampai ke kamar Andra.

Reisa sejak dulu memang suka menjahili orang lain. Pagi ini, Tarno yang menjadi korbannya. Bibit bunga yang akan ditanam disembunyikannya. Kasian Tarno sampai kebingungan.

"Non, sembunyikan di mana hayo?"

"Engga ada, Pak Nok. Beneran." Reisa mengancungkan dua jarinya untuk meyakinkan. Peace!

"Aduh, Non. Pan tadi ada di mari. Sekarang kok udah lenyap aje." Tampak lelaki paruh baya itu berjalan berbolak-balik mencari sesuatu, dan belum ketemu. Tarno akhirnya memilih duduk di kursi sambil mengelap keringatnya yang menetes. Sesekali mengipas tangannya. Gerah. Cuaca cukup panas hari ini.

"Ih, Bapak nuduh Rei, ya?" Pintar sekali dia berpura-pura.

"Non, ayo kasih tau Bapak. Bentar lagi kan, bapak mau nganter den Andra pergi. Kelarin dulu yang ini." Tarno masih mencoba, dia tahu memang Reisa yang menyembunyikan bibit tanaman itu.

"Emang Andra mau kemana, Pak?" Reisa bertanya, kali ini dia penasaran juga. Biasanya dia tidak perduli sama sekali. Bahkan jika perlu, tak usah lagi melihat wajah Andra untuk selama-lamanya.

"Mau ada janjian makan siang sama klien, Non. Bilangnya sih begitu." Mendengar penjelasan Tarno, Reisa menjadi semakin penasaran.

"Siapa?" matanya mendelik.

"Bapak kurang tau juga. Tapi mbaknya cantik banget. Waktu itu bapak sempat nganter juga pas ketemuannya. Kalau ga salah, ini yang ketiga kalinya," jawab Tarno jujur.

Ada sesuatu yang berdenyut di dada Reisa. Dia tidak suka, apalagi sewaktu Tarno bilang kliennya cewek, cantik pula. Untuk apa juga makan siang? Mereka kan bisa ketemuan di lobby hotel. Itukan hotel punya keluarga Andra juga.

Tapi sejak kapan dia perduli?

"Jam berapa mau perginya, Pak?"

"Mungkin satu jam lagi, Non. Jadi, bapak kudu benerin dulu ini taman. Den Andra sekarang suka sama bunga-bunga."

"Oh ya?"

"Iya. Pas habis nikahan waktu itu, den Andra seneng banget. Dia nyuruh bapak nanam bunga di sini."

Reisa mulai berpikir dan betabya-tanya. Bukannya selama ini lelaki itu tidak romantis sama sekali? Cenderung cuek dan blak-blakan. Bunga? Bukan Andra banget.

"Kenapa begitu?"

"Katanya nanti kalau adek lahir, mau dibawa main di sini. Taman ini tuh terhubung sama kamar den Andra." Tarno menjelaskan sambil menunjuk ke arah kamar tuannya. Reisa menoleh.

Apa? Kamar Andra?

Prang ....

Terdengar bunyi benda yang terjatuh, saat pandangan mata Reisa menoleh ke arah kamar itu. Andra ketahuan ngintip. Awas, entar bintitan loh.

Sahabatku, SuamikuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang