Ting ... Tong ... Ting ... Tong ....
Berkali-kali Andra memencet bel. Tidak ada yang membukakan pintu. Hari ini dia pulang cukup larut. Jam menunjukkan pukul sebelas malam. Biasanya juga selepas Maghrib sudah ada di rumah. Pulang awal atau pulang cepat baginya sama saja, tidak bisa bertemu istrinya. Pernah suatu kali dia mencoba mengintip dari balik pintu melihat Reisa keluar kamar menuju dapur. Sepertinya Inah sedang tidak ada.
Lelaki itu duduk di teras, membuka tasnya. Mencari kunci cadangan. Bolak balik dan tidak ketemu. Uh! Ingin rasanya dia berteriak. Mengapa saat ini hidupnya semakin rumit. Mencari kunci saja tidak ketemu.
Dia mengambil ponsel. Mencari sebuah nama, menemukannya dan langsung menelepon seseorang.
"Pak Nok, lagi di mana?"
"Balik ke rumah lama. Tadi, Nok nungguin den Andra pulang tapi lama. Jadi langsung jalan aja, lupa ngabarin."
Andra menarik napas. Rumah kesayangannya. Peninggalan almarhum orang tuanya. Sejak kecil dia lahir dan tumbuh di sana. Rumah yang harus dia tinggalkan.
Di rumah itulah tempat dia menodai orang yang paling dia sayang. Andra lebih baik meninggalkan rumah itu daripada kehilangan Reisa dan anaknya.
"Oh, gitu ya. Yaudah gak apa-apa."
"Iya. Ga berani ninggalin kosong. Lagi ada yang kemalingan."
"Siapa?"
"Tetangga belakang."
"Loh, kok bisa?"
"Ga tau napa bisa kebobolan. Security pada asik nonton bola kali, jadi kasih masuk orang sembarangan."
"Oh, yaudah. Biar aku cari sendiri aja."
"Emang kenapa, Den?"
"Ga ada yang bukain pintu. Kayaknya udah pada tidur."
"Den Andra ga bawa kunci?"
"Tau nih, nyelip di mana. Lupa."
"Cari dulu. Ntar kalau ga ketemu, Nok ke sana nganterin."
"Oke."
Klik. Terputus.
Andra membuka kembali tasnya. Mencari. Kasian Tarno kalau harus balik ke sini lagi. Sudah malam dan perjalanan jauh.
Bruk.
Andra menumpahkan semua isi tasnya di atas meja. Ketemu! Memang terselip ternyata.
Dia merapikan isi tasnya kemudian segera membuka pintu. Gelap, sepi. Dia berjalan ke kamarnya. Sudah ingin merebahkan diri di kasur rasanya.
Andra membuka pintu kamar, meletakkan tasnya di meja. Membuka kaus kaki dan sepatu kemudian mengganti bajunya. Penat yang dia rasakan seharian ini.
Setelah selesai meeting dengan sebagian staf dan karyawan, ada seorang relasinya yang mengajak makan. Berlanjut dengan ngobrol panjang ini itu sampai dia harus berpura-pura sakit perut supaya bisa segera pulang.
Dia lelah. Lahir batin. Fisik mental.
(Reisa, maafin gue, demi anak kita)
Setelah mandi dan membersihkan diri, Andra berjalan keluar. Berjalan pelan menuju kamar istrinya. Mencuri dengar dari balik pintu. Hal yang paling sering dia lakukan jika suasana aman. Dia memasang baik-baik indera pendengarannya itu. Sejak menikah, inderanya yang satu ini memang menjadi lebih terlatih, dan lebih peka jika mendengar berita apa pun tentang Reisa.
Begitu juga dengan indera penglihatannya. Menjadi lebih tajam. Sedikit saja bayang wanita itu nampak, walaupun hanya sekilas, kepalanya refleks menoleh. Sesekali kecewa, jika ternyata itu hanya mirip, tapi bukan Reisa.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sahabatku, Suamiku
RomanceReisa mengira, kisah cintanya akan berakhir indah dengan menikahi kekasihnya Dimas, cinta pertamanya sejak masih remaja. Segala macam persiapan pernikahan telah rampung, hanya tinggal menunggu harinya tiba. Namun, takdir berkata lain. Dia harus men...
