Kengkawans, barusan gue dapat kabar dari pihak penerbit Elfa Mediatama bahwa novel Valterra sudah bisa dipesan. 😘
Valterra akan jadi novel gue yang kesebelas tapi sekaligus novel pertama setelah sepuluh tahun gue gak menghasilkan karya. Novel gue s...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
“Konon rangorang di Dunia Lama gak boleh menjalin hubungan initim jika mereka memiliki keyakinan yang berbeda, Slurr. Ya gue setuju banget sih, menjalin hubungan berkomitmen itu emang harus dilandasi keyakinan yang sama. Gak bisa cuma satu pihak yang merasa yakin pake banget bahwa kalian saling mencintai, sementara pihak lainnya malah jijique bayangin muka lo.” ~ Catatan Jin, Hari Berniaga, Minggu Kedua, Bulan Keenam, Tahun 99 Bumi Baru
3. Kekuatan Terlarang
“Seandainya bumi seindah dan sedamai seperti yang diceritakan rangorang tua itu, ya Lord. Gue pasti akan bahagia menghabiskan sisa hidup yang santuy enih bersama sobat gue di atas sana.” Rin berkaca-kaca, menatap haru bangunan yang menjulang megah di hadapannya, mencoba membayangkan kisah-kisah masa lalu yang pernah dimiliki bangunan tersebut. Tanpa disadarinya, air mata itu meleleh.
Meski sudah pudar, Rin masih dapat membaca nama gedung di hadapannya: Bossque SkyPark. Gedung ini nampaknya pernah menjadi hunian esklusif. Gedung berbentuk spiral itu meliuk-liuk dari bawah hingga ke puncak tertingginya. Kini bangunan tersebut nampak seperti pohon raksasa yang muncul dari dasar bumi, bersikukuh menyentuh langit. Setiap sisi dindingnya ditumbuhi lumut, paku-pakuan dan tanaman merambat. Di banyak bagian lain dari gedung itu terdapat ruangan-ruangan dengan dinding menganga atau tanpa dinding sama sekali, akibat sebuah hantaman atau ledakan. Di salah satu sisi tak berdinding itu masih teronggok sebuah bangkai pesawat tempur.
Angin di luar berhembus sangat kencang, seolah ingin menghapus kegelapan malam yang terasa amat menyesakkan di dada Rin. Cahaya bulan yang berselimut awan debu itu tak mampu lagi menerangi malam-malam di bumi. Sejak kecil, Rin sudah bersahabat dengan angin. Rin kecil bisa tersenyum berlari-lari di tengah badai dan angin yang berpusar-pusar mengamuk di sekitarnya. Angin tidak pernah menyakiti Rin, bahkan kerap melindunginya.
Setelah puas menghapus kegundahan dan mereguk kekuatan dari hembusan angin malam, Rin melangkahkan kaki memasuki gedung yang tampak mengerikan itu. Tapi tidak, dia tidak melangkah, Rin melesat, melompat dari satu pijakan ke pijakan berikutnya, melahap lantai demi lantai, hingga mencapai rooftop. Walau sudah berulang kali mengunjungi rooftop gedung itu, Rin tetap tak bisa berhenti mengagumi keindahannya. Rooftop Bossque SkyPark memiliki luas setara stadium berkapasitas seratus ribu orang. Ada banyak meja-meja dan bangku yang telah berlumut di salah satu sudutnya, terdapat tulisan Bossque SkyBar di sana. Ada juga dua buah kolam yang kini hanya berisi tanaman perdu, masing-masing seluas 150 meter persegi, mengapit bagian bar. Bar dan kedua kolam itu berada dalam sebuah lintasan jogging track.
“Aww…! Vangke, siapa nih?” Rin memungut sebuah kerikil yang baru saja menghantam kepalanya. Gadis itu celingukan mencari-cari, meski dia sudah seratus persen yakin siapa pelakunya.
“Seharusnya elo bisa menghindari batu kerikil itu dengan mudah, Beb. Ada masalah apa? Untung bukan suriken, ion blade atau bom kimia yang gue lempar.” Jin muncul dari salah satu sudut gelap, di balik meja bartender.