Kengkawans, barusan gue dapat kabar dari pihak penerbit Elfa Mediatama bahwa novel Valterra sudah bisa dipesan. 😘
Valterra akan jadi novel gue yang kesebelas tapi sekaligus novel pertama setelah sepuluh tahun gue gak menghasilkan karya. Novel gue s...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
“Kadang-kadang nih, ya, kalo otak gue lagi bener gue suka mikir, Slurr, jika sebagian besar rangorang terbaik sudah meninggalkan kami dan Bumi, apakah hidup kami yang remah-remahan enih masih layak untuk dijalani?” ~ Catatan Rin, Hari Bersantuy, Minggu Ketiga, Bulan Keenam, Tahun 99 Bumi Baru
Mereka kini telah kembali ke bagian teraman dan ternyaman gedung tersebut, rooftop Bossque SkyPark. Sejumlah area di rooftop itu sudah sejak lama mereka bersihkan dari lumut dan perdu, menjadi tempat yang cukup nyaman: meja bartender, ruangan gym serta lapangan game dan sport serba guna.
Area meja bartender Bossque SkyBar dijadikan sebagai pusat kontrol sekaligus tempat Rin dan Jin bersantuy ria, menenggak wine sambil main monopoli, catur dan gapleh. Di waktu luang, Rin dan Jin kerap melakukan sidak ke setiap gedung tak berpenghuni, mengumpulkan barang-barang berharga, di antaranya wine berusia ratusan hingga ribuan tahun.
Ruang Gym serta lapangan game dan sport serba guna dijadikan tempat melatih tubuh dan kekuatan mereka. Bagimanapun, Rin dan Jin tetap ingin tampil ketjeh dalam situasi apapun; perut kotak-kotak, dada membusung dan wajah glowing-glowing.
“Halo, Kaka? Kelen sedang tidak fokus, ya?” Lun kemudian mengulangi perkenalan dan pertanyaannya.
Rin dan Jin tampak masih shock. Lun terlalu aneh untuk sesosok robot. Oke, dia Cyborg, manusia bertubuh robot. Tapi tetap saja, aneh!
"Tapi iya sih, kalo akoh lihat dari mukanya kelen sama sekali gak mirip. Kaka Jin hidungnya mancung, rambutnya silver, matanya biru. Kaka Rin…, uhmm, hidungnya ecek, rambutnya hijau jamuran, matanya kuning kayak kocheng, hihi. Lucuuuk...!" ujar Lun, mencoba menggambarkan Rind an Jin.
"Jin?"
"Ya, Beb?"
"Kayaknya kita lemparin lagi aja deh nih robot negehek ke lantai dasar. Ngeselin bat!" Rin mendengus, mengepalkan jemarinya.
Sayangnya Jin tidak sependapat. Jin malah terlihat berusaha keras menahan tawa.
"Ehem! Jangan gitu dong, Rin zheyeng. Lo jangan sensi gegara dia bahas idung la." Jin mencoba tampak berwibawa, meski berkali-kali dia harus berdehem, mencegah dirinya tertawa terbahak-bahak dan membuat Rin semakin murka.
"Gue gak lagi sensi ya, boedjang! Ini bukan persoalan idung gue! Tapi ini robot freak emang ngezelin dan asuw bat!" Rin ngegas.
"Cyborg..., Kaka Rin, bukan robod...! Huhuhu." Lun meralat dengan suara dan gaya sok kiyud.