13. Khotbah di Atas Rooftop

24 6 4
                                        

“Kita sekarang tengah terancam oleh kebodohan dan kerakusan kita sendiri

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

“Kita sekarang tengah terancam oleh kebodohan dan kerakusan kita sendiri.” ~ Stephen Hawking, Catatan dari Dunia Lama

13. Khotbah di Atas Rooftop

"Jaga sikap lo, Zheyeng. Dia yang Tak Ternoda bahkan bisa tau apa yang disembunyikan di celana dalam setiap orang." Ketua Zak menghampiri Rin yang kedapatan tengah menguap dengan brutal.

"Oh, ya? Kalau begitu dia pasti udah tau kalau gue punya rencana melatih Oyen untuk mencuri celana dalam miliknya!" Rin menyeringai.

"Wadepak! Dasar bocah sinting!" rutuk Ketua Zak dengan suara sepelan mungkin.

"Penasaran aja sih gue, Ketua. Dia yang Tak Ternoda pernah pipis atau pup di celana gak, ya?" tanggap Rin, sangat santuy.

"Dia masih manusialah."

"Enggak ada manusia yang gak bernoda, Ketua Zak. So, dia pasti bukan manusia! At least tidak satu orang pun yang pernah melihat langsung wajahnya, yekan? Bahkan namanya siapa aja gue gak tau!" sergah Rin.

"Gue pernah," bisik Ketua Zak.

"Serius, lo?"

Ketua Zak mengangguk santuy.

"Gue gak percaya."

"Why oh why? Bukannya selama ini lo bahkan cuma bisa percaya sama gue, selain temen lo Jin?"

"Karena lo masih hidup, Ketua! Kalo lo beneran pernah lihat Dia yang Tak Ternoda, lo pasti udah game over!" sembur Rin.

"Itu karena gue berhasil mengelabui mereka, bocah bodoh!"

"How come, Ketua? Kata lo Dia yang Tak Ternoda punya banyak mata dan telinga!" protes Rin. Semuanya terdengar tidak masuk akal!

"Itu memang benar. Tapi bukan berarti tidak ada acara untuk menyiasatinya."

"Dan lo orang yang tau caranya?"

Ketua Zak kembali mengangguk, tanpa memandang Rin. Matanya nampak liar mengawasi Ketua Ben.

"Menarique…!" Rin mengulum senyum.

Di depan sana layar virtual mulai menampilkan video yang berasal dari Dunia Lama. Bumi yang damai, indah dan beradab. Meski video tentang Dunia Lama ini diputar rutin setiap minggu, masih saja mampu menghadirkan keharuan. Orang tua dan anak-anak meneteskan air mata melihat wajah bumi mereka di masa lalu.

Mereka melihat gedung-gedung yang bersih dan bermandikan cahaya, sangat berbeda dengan bangunan kumuh dan berlumut yang mereka tempati ini. Mereka melihat langit yang cerah disinari mata hari, bukan langit yang diselimuti awan debu vulkanik dan asap pabrik.

Dada mereka sesak dan mata mereka tampak dahaga saat melihat adegan anak-anak mandi di sungai yang jernih, di antara ikan-ikan. Mereka membayangkan tangan, kaki dan tubuh mereka terbasuh air yang dingin dan sejuk itu. Tak ada seorangpun penduduk koloni yang pernah menyaksikan sungai-sungai ajaib itu. Mereka hanya pernah melihat sungai-sungai yang mengering berisi reruntuhan, rongsokan dan bangkai.

VALTERRA (Open PO)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang